My Arogant Wife

My Arogant Wife
24. Mati Kutu



Hari ini di akhir pekan yang cukup cerah. Akhirnya dua sejoli itu pergi berdua setelah drama yang panjang di rumah. Rae yang terus saja memberikan alasan untuk menolak, sang mamah yang terus membujuk dan sang papah yang mendukung istrinya. Hanya Sammy yang diam saja sejak tadi, meski ingin berbicara tapi dia rasa tidak ada yang akan mendengarnya. Jika Sora sang nyonya rumah dan didukung tuan rumah yang berkuasa, maka tidak ada lagi yang bisa menghentikan niat mereka untuk membuat anak dan menantunya menghabiskan waktu berdua.


Rae menggunakan celana panjang dan baju terusan yang pas di tubuhnya. Tubuhnya yang ramping terlihat sangat jelas, meski akhir-akhir ini tidak ada yang menyadari kalau wanita itu mulai menggemukkan sedikit demi sedikit. Rae menguncir rambutnya yang panjang dan berkilau, di cuaca yang panas terik seperti itu tidak cocok kalau ia menggerai rambut nya. Siapa sangka kalau hal itu membuat seseorang bersemu merah melihat leher yang begitu jenjang itu. Leher yang pernah ia datangi untuk meninggalkan jejak-jejak kepemilikan.


"Ehemm kita mau kemana?" tanya Sammy. Dia tidak tau harus membawa istrinya kemana, ini pertama kalinya mereka pergi selain urusan pekerjaan.


"Kemana saja," jawab Rae. Ah dia juga sama, dia mana pernah berjalan-jalan dengan pasangan seperti itu. Biasanya dia pergi ke restoran atau kafe itu untuk bertemu klien.


"Apa ada tempat yang kamu suka atau ingin kamu kunjungi? Itu ... aku juga tidak tau harus kemana." Sammy sangat jujur, dia pernah beberapa kali pacaran saat masih sekolah dengan gadis biasa. Tentu saja berbeda karena istrinya adalah anak tunggal dari orang yang berada. Dari lahir pasti dia sudah makan dengan sendok emas. Tidak mungkin kalau Sammy mengajak wanita itu ke taman kota yang ramai oleh masyarakat biasa.


"Tidak ada, terserah kau saja." Begitu kata Rae, membuat Sammy semakin bingung.


Di sinilah mereka sekarang. Di sebuah mall di pusat kota. Ya, pada akhirnya Sammy mengajak sang istri ke tempat itu karena ia pikir orang-orang kaya pasti akan lebih suka berada di tempat yang seperti itu.


"Apa kau mau belanja sesuatu, baju, tas atau sepatu mungkin?" tanya Sammy ragu. Dia sadar kalau barang-barang di sana pasti harganya tidak murah. Tidak apa-apa, dia akan membelikan apapun yang istrinya mau.


Rae menaikkan alisnya, seolah berkata "Kau yakin?"


Sebenarnya Rae tidak butuh apapun, dia sudah punya segalanya. Pakaian, tas dan sepatu banyak yang belum di pakai di ruang penyimpanan pakaiannya. Tapi melihat niat baik suaminya, dia tidak bisa menolak. Dia juga penasaran bagaimana reaksi laki-laki itu ketika melihat harga barang-barang di sana.


"Kau mau yang mana ambil saja," ujar Sammy agak berkeringat dingin. Dia sudah mengecek salah satu harga tas di sana. Itu di luar ekspektasinya. Dia berharap sang istri tidak mengambil tas yang sangat mahal, kalau tidak dia bisa malu karena tidak mampu membayarnya.


"Aku mau yang ini," tunjuk Rae pada tas kecil yang harganya dua puluh jutaan.


Hah ... Sammy bernafas lega. Setidaknya dia tidak akan malu, Rae benar-benar memberinya muka.


Rae terkekeh sambil memalingkan wajahnya melihat ekspresi suaminya yang seperti lega karena dia memilih tas itu.


"Apa cuma itu, kau tidak mau yang lain lagi sayang," ujar Sammy saat mereka berada di depan kasir. Laki-laki itu berani sekali memanggil Rae dengan sebutan sayang di depan banyak orang. Membuat mereka jadi tontonan, para wanita sangat iri melihat Rae yang sangat di manja pasangannya.


Rae tersenyum smirk. Mau bermain-main denganku rupanya.


"Ah iya aku mau satu lagi sayang. Aku juga mau tas berwarna putih itu, sangat cocok untukku," pinta Rae dengan sedikit nada manja. Dia pun bergelayut di lengan suaminya.


Sammy langsung berkeringat dingin, melihat tas yang ditunjuk Rae. Itu tas yang harganya fantastis. Bahkan di atmnya tidak ada setengahnya dari harga tas itu.


Rae menggunakan kode pada pelayan toko untuk mengambilkan tas itu. Sejujurnya mereka amat mengenal Rae, Wanita itu salah satu pemilik saham di mall itu dan beberapa berkunjung untuk urusan pekerjaan. Sepertinya Sammy belum tau banyak tentang kekayaan keluarga istrinya.


"Waahh tas ini bagus sekali, aku mau ini sayang." Rae mengedipkan mata.


Sammy mati kutu, dia merogoh dompetnya dengan gemetar. Ada banyak orang di sana, akan sangat malu kalau dia menarik kembali ucapannya. Ah tadi dia pikir Rae bukan wanita seperti itu, bukan wanita yang suka barang-barang mewah. Ya meski barang miliknya sudah pasti barang bermerek tapi Rae bukan tipe yang suka berbelanja menghamburkan uang.