
Suasana di dalam mobil makin canggung. Itu karena saat pagi tadi Rae terbangun dalam keadaan yang sungguh memalukan. Bagaimana dia bisa berakhir dengan memeluk sang suami.
Rae sejak tadi memalingkan wajahnya ke luar jendela, sangat malu saat berhadapan dengan suaminya. Sejak tadi dia juga selalu menghindar.
Sammy juga menyadari sikap sang istri yang sedang malu. Dia mengangkat sudut bibirnya ke atas.
"Apa kita langsung pulang?" tanya Sammy.
"Hmm, aku sudah memikirkannya. Aku akan membawa nenek ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan? Nanti aku akan tanyakan pada mamah bagaimana baiknya. Bagaimana? Apa kamu setuju?"
"Sebenarnya aku sangat senang mendengarnya, tapi aku tidak ingin merepotkanmu. Biarlah nenek menjadi urusanku," ucap Sammy.
"Apa kamu tidak kasihan pada nenek, kamu tidak ingin nenek kembali mengingatmu?"
"Tentu saja aku sangat ingin. Aku ingin nenek memelukku sebagai cucunya, bukan sebagai orang lain. Tapi aku tidak ingin merepotkan mu."
Rae menghela nafas, "Kalau kau seperti itu apa kau mau tinggal terpisah denganku?"
"Maaf, tapi sebelumnya aku dan nenek tidak pernah hidup terpisah. Aku hanya takut nenek kesepian."
"Nenekmu hanya di rumah sakit dan mendapatkan perawatan. Siapa yang mau memisahkan kalian. Kamu bisa datang kapanpun kamu mau. Apa kamu tidak kasihan padanya jika seperti itu terus." "Aku akan tanyakan pada mamah nanti, untuk mencari solusinya."
Mereka sama-sama terdiam lagi. Sammy tau apa yang dikatakan istrinya itu benar. Dia juga ingin mengobati neneknya. Meski mungkin harapan untuk sembuh kecil karena faktor usia tapi setidaknya kesehatan neneknya terjamin kalau diawasi dokter. Dia juga kasihan saat melihat neneknya kesakitan. Obat yang dibeli dosisnya sangat rendah karena cari yang harganya murah. Itu kadang tidak mempan kalau kepala neneknya kesakitan.
Mereka sampai di rumah orangtua Rae. Wanita itu turun lebih dulu, meninggalkan suaminya yang menghela nafas.
Rae memasuki rumah, dia mendengar suara orang yang sedang asyik mengobrol.
"Itu Rae sudah datang."
Rae melihat mamahnya yang sedang bersama seorang laki-laki, wajahnya cukup familiar.
"Sayang, lihatlah siapa yang datang," ujar Sora.
"Rae ... kau masih ingat padaku?" kata orang itu yang ternyata adalah teman masa kecil Rae.
"Kak Dewa?" Rae langsung menghambur ke pelukan laki-laki itu. Disambut hangat oleh laki-laki bernama Dewa itu yang juga sangat merindukan adik kecilnya. "Kak Dewa kemana saja? Apa sudah lupa denganku, sampai tidak pernah menghubungiku," gerutu Rae.
"Maafkan aku, mana mungkin aku lupa padamu gadis kecil yang cerewet."
"Kakak," Rae memukul kecil pria itu.
Rae tidak tau kalau suaminya baru saja masuk dan melihat semuanya. Sammy cukup terkejut saat sang istri bisa seakrab itu dengan laki-laki. Mungkin mereka sudah sangat dekat, tapi siapa laki-laki itu. Rae memanggilnya kakak sedangkan dia adalah anak tunggal.
Sora yang melihat kedatangan menantunya langsung menarik tangan putrinya.
"Sudah, sudah. Kau ini seperti anak kecil saja. Lihatlah, kamu sudah dewasa dan punya suami tapi masih seperti anak kecil jika di depan Dewa."
"Maahh ..." Rae cemberut.
"Tidak apa-apa Tante, Rae sudah seperti adikku sendiri." Mengusap rambut Rae.
"Hai nak, perkenalkan dia adalah nak Dewa. Dulu kami bertetangga sebelum akhirnya Dewa dan keluarganya pindah ke Jepang." Sora memperkenalkan Dewa. "Nak Dewa, ini Sammy. Suami Rae."
Mereka pun berjabat tangan, entah mengapa Sammy merasa kalau pria itu memandangnya dengan tatapan yang tidak biasa. Seperti ada kebencian dalam tatapan matanya, padahal mereka baru saja bertemu.
Aku sudah mengenal Rae dari kecil, dulu kami sering menghabiskan waktu bersama. Rae sangat menyayangiku. Dia sering main ke rumah ku. Dewa.
Hanya teman masa kecil yang dianggap kakak, aku adalah masa depan Rae sekarang. Sammy.
Sora menyadari situasi itu begitu canggung. Entah mengapa hanya dia sendiri yang merasa. "Ahaha, sudah siang bagaimana kalau kita makan siang bersama. Nak Dewa sudah lama tidak makan masakan Tante kan," ujar Sora memecahkan keheningan.
"Iya kak, makan siang di sini saja. Aku juga masih ingin bercerita pada kakak." Rae bergelayut di lengan Dewa. Membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan.
"Tentu saja, aku juga sudah merindukan masakan Tante Sora."
"Ayo, ayo ... kalian duduklah. Mamah akan siapkan makan siang. Ayo Pah." Sora menarik suaminya, memilih pergi dari sana.
"Ada apa mah, kenapa tarik-tarik papah," protes sang suami.
"Papah tidak sadar kalau menantu kita dan Dewa seperti ada aura permusuhan diantara mereka," ujar Sora.
"Tidak, perasaan mamah saja. Sudahlah, papah mau ke sana. Ada yang ingin papah bicarakan pada Dewa." William melepaskan tangannya tari sang istri.
"Papah di sini saja, jangan ke sana. Papah ke sana hanya akan memperkeruh suasana. Kasihan menantu kita dicuekin nanti, kalau papah keasyikan ngobrol dengan Dewa."
"Tapi papah mau tanya tentang orangtuanya dan bisnis mereka, Sammy pasti mengerti."
"Nanti saja saat makan, awas kalau sampai papah ke depan lagi!" peringat Sora. Dia mengambil pisau dan mengacungkannya. Sang suami yang melihat itu merinding sendiri.
Sammy duduk di ruang tamu bersama Rae dan Dewa yang asyik berdua. Mereka seperti tidak menganggap Sammy ada di sana.
"Jadi kak Dewa selama ini berada di luar negeri kenapa tidak pernah mengabariku. Apa kakak tidak punya ponsel di sana." Rae cemberut.
"Bukan begitu, aku di sana harus belajar dengan baik dan mengurus perusahaan ayah. Lalu mengurus ibu yang menjalani pengobatan. Aku sampai tidak pernah punya waktu untuk diriku sendiri," ujar Dewa.
"Ohh iya, Tante Mishel sakit apa kak?"
"Ibu terkena kanker darah. Jadilah kami pindah ke luar negeri untuk mencari pengobatan yang terbaik."
"Ya ampun, maafkan aku kak. Aku tidak tau kalau Tante sakit. Lalu bagaimana keadaannya sekarang? apa dia juga pulang ke sini."
Dewa mengusap lembut kepala Rae. "Ibuku baik-baik saja selama menjalani pengobatan yang benar. Tapi dia belum bisa kembali ke sini."
"Kakak jangan sedih, Tante Mishel pasti akan sembuh. Lalu apa yang membuat kakak pulang tiba-tiba?" tanya Rae penasaran.
"Aku melihat berita tentang pernikahanmu. Aku ingin memastikan sendiri kalau itu benar kamu Rae kecilku yang menikah. Setelah aku sampai di rumah ini, ternyata benar. Kau sudah tumbuh dewasa rupanya." Dewa tersenyum walaupun sejujurnya dia kecewa. Selama ini dia selalu melihat Rae di berita yang ada di media. Dia tenang karena selama ini gadis yang ia suka tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki lain. Namun tiba-tiba kabar mengejutkan harus ia dengar, dia seperti sudah kecolongan.
"Apa kau tidak ingin menceritakan bagaimana kalian bertemu sampai akhirnya menikah. Aku ingin mendengar ceritanya," ujar Dewa.
Rae tersenyum tipis, tidak tau apa dia harus berbohong pada Dewa. Namun, tiba-tiba tangan seseorang memeluk pinggangnya.