My Arogant Wife

My Arogant Wife
21. Pengakuan yang mengejutkan



Di sinilah Sammy sekarang. Di sebrang jalan sebuah restoran yang menjadi tempat Rae dan Dewa makan malam. Pada akhirnya dia menyusul istrinya karena merasa tidak tenang. Dia sudah mencoba mengirim pesan tapi tidak ada balasan. Walaupun sebenarnya dia ragu dan takut Rae akan marah jika dia menunggunya di sana.


"Tak apa, aku akan menunggunya di sini saja," gumamnya sambil menatap ke dalam restoran. Di mana sang istri duduk berhadapan dengan laki-laki itu.


...


Sementara wanita yang sejak tadi ditunggu kabarnya oleh sang suami, baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama laki-laki yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Sepertinya dia sangat menikmati makan malamnya.


"Bagaimana? Apa kamu suka dengan makanannya?" tanya laki-laki yang menguntungkan stelan jas berwarna hitam. Sangat kontras dengan bentuk tubuhnya yang seperti model.


"Suka, aku suka. Ini sangat enak. Aku baru tau ada restoran yang makanannya seenak ini. Sepertinya aku terlalu sibuk bekerja sampai tidak tau dunia luar."


"Lain kali aku akan mengajakmu makan di sini lagi kalau kau suka. Dan di tempat-tempat yang lain juga," ujar Dewa. Dia memangku dagunya di atas meja. Mengamati wajah Rae yang sangat cantik di matanya.


"Ok, janji ya kak."


Mereka kembali mengobrol mengenang masa lalu. Saat Rae masih kecil dan belum banyak menanggung beban perusahaan. Hanya tau main dan mengganggu Dewa saat itu. Itu menyenangkan saat laki-laki itu menjadi bagian dari masa lalu Rae. Namun itu hanya masa lalu, saat ini semuanya sudah berubah. Rae bukan lagi gadis kecil yang akan lari padanya saat ingin bermain. Rae sudah dewasa dan tidak butuh ia lagi.


"Aku tidak menyangka kalau semuanya berlalu secepat ini," ujar Dewa. Seandainya dia tau kalau Rae sudah siap menikah pasti dia akan kembali lebih cepat sebelum laki-laki lain menyematkan cincin di jari manis wanita yang ia sukai dan mengucapkan janji suci.


"Iya, aku juga tidak menyangka kalau aku bisa seperti ini. Padahal dulu aku sempat tidak mau bekerja di perusahaan papah. Tapi sekarang aku malah memimpin perusahaan itu."


"Kamu sangat hebat sekarang, kakak sangat bangga padamu," puji Dewa.


"Kakak juga, pasti tidak mudah hidup di negeri orang tapi kakak bahkan berhasil membangun perusahaan di sana."


"Tidak sehebat kamu, perusahaan kakak masih merintis. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan orang-orang di sana. Tapi untungnya ayah mempunyai beberapa kenalan di sana."


"Haha ... kamu sangat baik, tapi kakak masih bisa mengatasinya sendiri. Kakak akan buktikan kalau kakak juga bisa mengimbangi perusahaanmu."


"Ok, aku tunggu. Lalu kita akan bekerja sama dan menguasai pasar bisnis."


Mereka tertawa dan menikmati makan malam terakhir mereka. Rae seperti bisa bebas berekspresi di depan Dewa, mungkin karena ia sudah menganggap laki-laki itu seperti kakaknya sendiri.


"Ada yang ingin kakak katakan. Sebelum kakak pergi lagi," ujar Dewa.


"Ada apa kak?" Rae menyimak, memperhatikan raut wajah laki-laki itu yang berubah serius.


"Kakak ingin mengatakan kalau sebenarnya Kakak kembali kali ini karena kamu. Kakak ingin memastikan kalau berita tentang pernikahanmu itu tidak benar, tapi ternyata kamu memang sudah menikah. Kakak terlambat datang menemuimu," tutur Dewa dengan serius.


"Maksud kakak? Aku tidak mengerti."


"Kakak menyukaimu, bukan sebagai adik tapi suka sebagai wanita."


Tentu saja Rae syok mendengar pengakuan Dewa. Dia tidak tahu harus berkata apa saat ini. Lidahnya kelu. "Kak, a--aku ..."


"Hahaha, tidak apa-apa. Tidak perlu kau pikirkan tentang perkataan ku tadi. Kakak hanya ingin kau tau tentang perasaanku, kau tidak perlu membalasnya. Kakak cukup senang melihatmu bahagia. Tapi jika sampai pria itu membuat mu bersedih maka aku akan merebutmu darinya."


"Hah ...." Rae tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutan nya. Bagaimana kalau pria itu tau kalau pernikahan mereka bukan karena cinta. Apa pria itu akan nekat.


"Kak ... maaf--" sesal Rae. Dia tidak bermaksud membohongi Dewa. tapi dia juga tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.