My Arogant Wife

My Arogant Wife
29. Masih Sama



Rae sudah berdebar mendengar jawaban dari suaminya. Apa benar dia menderita penyakit yang mungkin saja mematikan. Melihat bagaimana raut wajah suaminya saat ini yang tampaknya ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Ada apa sebenarnya, katakan saja. Aku siap mendengarnya," pinta Rae dengan wajah sendu.


Hah?! Sammy mengangkat kepalanya. Dia kan hanya mau bilang kalau istrinya hamil. Apa sangat menakutkan sampai wajah sang istri menunjukkan raut wajah seperti itu.


"I--itu ... sebenarnya ... sebenarnya saat ini kau sedang mengandung," ujar Sammy dengan cepat. Setelah itu dia memejamkan mata, tidak ingin melihat istrinya kecewa karena mengandung anaknya.


"Apa!! Mengandung? Maksudnya aku hamil begitu?" tanya Rae, dia tidak salah dengar kan.


Sammy mengangguk membenarkan.


"Aku hamil?? Hah ... syukurlah." Rae bernafas lega, ia pikir dia memiliki penyakit yang mematikan dan akan segera meninggal. Tapi ternyata tidak.


Mendengar istrinya merasa lega membuat Sammy membuka matanya kembali. Dia melihat wanita itu sedang tersenyum dan berulang kali mengucapkan rasa syukur.


"Apa kau tidak marah?" tanya Sammy pada istrinya yang sedang tertawa kecil.


"Marah? Marah untuk apa? Aku justru senang karena aku pikir tadi aku sedang sakit parah. Wajah kalian tadi sangat menakutkan, membuatku berpikir kalau aku akan segera meninggal saja."


Sammy ikut lega. Setidaknya janin itu tidak mendapatkan penolakan dari ibunya.


...


Dua tahun berlalu.


Sebenarnya Sammy sudah memikirkannya, dia ingin berhenti di perusahaan dan membangun bisnisnya sendiri. Hanya saja modalnya masih sangat sedikit, dia juga tidak mungkin meminta pada istrinya. Jujur saja Sammy ingin menjadi laki-laki yang pantas bersanding dengan Rae sebagai suaminya. Selama ini dia tidak pernah mendengar sang istri membahas masalah perceraian, jadi ia pikir pernikahan mereka harus ada kemajuan.


Rae sendiri juga tidak memikirkan masalah perpisahan karena ia sadar putranya memerlukan sosok sang ayah. Dia juga sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya saat di rumah. Meski dia masih membatasi hatinya dan juga fisiknya. Ya, selama ini mereka belum pernah lagi melakukan kontak fisik selain bersentuhan yang tidak disengaja. Mereka sama sekali tidak melakukan hubungan suami-istri. Mungkin jika malam ini mereka tidak melakukannya, sampai sekarang mereka tidak akan mempunyai anak.


Tapi, Rae punya alasan. Dia tidak ingin melibatkan hati karena ia takut suatu saat nanti suaminya akan pergi meninggalkan dirinya dan juga putra mereka saat dia sudah menerima sepenuhnya hubungan mereka.


"Apa Felix sudah tidur?" tanya Sammy saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar. Dia tadi ada urusan jadi terlambat pulang, dia baru saja membersihkan diri belum sempat melihat putranya.


"Iya, kau bisa menemuinya besok. Bagaimana dengan bibi Rose? Apa masalahnya sudah selesai?" tanya Rae.


"Bibi memutuskan untuk berpisah, dia melepaskan paman untuk bersama wanita itu." Ada rasa iba saat menceritakan itu pada Rae. Bagaimanapun Rae juga perempuan, Sammy tidak ingin istrinya berpikir kalau semua laki-laki seperti itu.


"Aku paham bagaimana perasaan Bibi. Dia pasti berpikir tidak ingin menahan suaminya untuk bertahan dengannya, membiarkan paman dengan wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Ya, aku rasa itu pilihan yang tepat. Jika bibi bertahan, dia hanya akan merasakan sakit saat melihat paman bersama wanita lain dan anaknya bahagia. Meski mereka saling mencintai sekalipun tapi kehadiran anak itu lama kelamaan pasti akan menghapus rasa cinta paman pada bibi." Itu pendapat Rae.


Tidak, tidak seperti itu. Menurut Sammy bibi tidak harus mengalah dengan cintanya. Perasaan mereka sudah tumbuh puluhan tau, apa karena kehadiran orang baru itu membuat perasaan mereka bisa berubah secepat itu. Tapi Sammy juga tidak bisa membantah keputusan bibi, apapun pilihan bibi Rose dia akan mendukungnya.


Karena bibi Rose sudah seperti keluarga bagi Sammy. Apalagi saat ini neneknya tinggal bersama bibi Rose. Nenek Asha begitu sayang pada bibi Rose meski dia sudah mengingat semuanya. Tidak apa-apa. sekarang dia yang akan menjadi pelindung untuk mereka.


Jadi yang terjadi adalah, belum lama ini suami dari bibi Rose tiba-tiba membawa pulang seorang wanita yang sedang mengandung. Tentu saja semua orang syok mendengar kenyataan itu, melihat bagaimana harmonis nya keluarga mereka meski tanpa kehadiran anak. Siapa sangka kalau Laki-laki itu ternyata melakukan kesalahan.


Rae sudah merebahkan tubuhnya dengan membelakangi Sammy tidak ada yang berbeda dengan posisi mereka saat tertidur. Meski beberapa kali saat membuka mata posisi mereka sudah berbeda. Tapi tetap tidak membuat mereka dekat.


Sammy hanya bisa memandangi punggung istrinya. Jika ditanya apa dia tidak bern4psu pada wanita itu, sehingga selama dua tahun belakangan bisa tahan tidak menyentuh wanita itu. Tentu saja Sammy amat sangat tersiksa. Bagaimanapun dia pria normal, setiap kali tak sengaja melihat istrinya hanya menggunakan handuk mungkin, atau sedang berganti pakaian. Sammy ingin sekali menerkam tapi dia tidak melakukan itu. Ah, apalagi sekarang Rae sedang masa-masa m€nyusu1 anaknya, otomatis Sammy seringkali melihat gunung k€mb4r itu dilahap si kecil. Itu adalah masa yang paling sulit karena rasanya Sammy juga mau mendapatkan jat4hnya.