My Arogant Wife

My Arogant Wife
13. Berkunjung ke rumah suami



Rae menyusul suaminya seperti perintah mamahnya. Dia data dengan diantar oleh supir.


Rae bingung, bagaimana menghadapi suaminya nanti kalau melihatnya tiba-tiba ada di sana.


"Kenapa Mamah harus menyuruhku menyusul Sammy. Apa yang akan aku lakukan kalau bertemu dengan laki-laki itu," gerutu Rae. Dia memangku makanan yang dibawakan mamahnya dengan menggerutu sepanjang jalan.


Pak supir di depannya sampai gelang-gelang kepala.


"Nona, kita sudah sampai," ujar sang supir karena nonanya melamun sejak tadi.


"Ohh iya." Rae melihat sebuah rumah kecil yang ada di sana. "Apa benar itu rumahnya?" gumamnya.


"Ini sesuai dengan alamat yang nona katakan tadi," ujar pak supir yang mendengarnya.


"Baiklah, tolong bawakan semua barang yang ada di bagasi."


"Baik Nona."


Pak supir membawakan beberapa barang pemberian dari Sora sebagai hadiah untuk besannya. Entah apa saja isinya, Rae juga tidak tau.


Rae memencet bel yang ada pada pintu rumah itu. Tak lama seseorang membukakan pintu. Dia terkejut karena yang membukakan pintu seorang wanita setengah baya, tidak seperti nenek-nenek. Bukankah kata suaminya dia hanya tinggal berdua dengan neneknya.


"Maaf, apa benar ini rumah Sammy?" tanya Rae.


Sementara bibi Rose yang membukakan pintu juga sama terkejutnya karena bisa bertemu langsung dengan idolanya.


"Ohh ya ampun, apa aku sedang bermimpi. Ini nyata kan!" seru bibi Rose.


"Sayang, siapa yang datang?" Paman Frans menghampiri sang istri yang tak kunjung masuk.


Paman Frans juga dibuat terkejut melihat wanita yang ia tau adalah istri dari Sammy, ada di sana. "Kau sudah datang nak, ayo masuk. Maaf, istriku terlalu terkejut sampai tidak mengajakmu masuk," ujar paman Frans.


"Ah iya paman, tidak apa-apa. Tapi apa benar ini adalah rumah Sammy?"


"Ohh tentu saja benar, ini rumah suamimu. Kamu pasti terkejut karena melihat kami ada di sini. Ayo kita masuk, kita mengobrol di dalam, suamimu dan nenek Asha pasti senang melihatmu di sini."


"Baik paman, terimakasih."


"Apa kau akan terus disini, tidak ingin mengajak istri Sammy masuk." Paman Frans menegur istrinya.


"Ya ampun, maafkan bibi. Bibi terlalu senang melihatmu ada di sini. Mari kita masuk."


Rae duduk di bersama paman Frans dan bibi Rose yang sangat antusias dengan Rae. Selama ini bibi Rose hanya bisa melihat sosok wanita hebat itu dari media, sekarang dia bisa bertemu langsung. Tentu saja dia sangat senang.


"Maafkan bibi ya, bibi terlalu senang bisa melihatmu. Selama ini bibi sangat suka mengikuti berita kamu di televisi dan majalah. Kamu sangat hebat diusia yang masih muda. Bibi sangat mengidolakan kamu," ujar bibi Rose.


"Terimakasih bibi, anda terlalu berlebihan." Rae tidak menyangka ada orang yang begitu antusias bisa bertemu dengannya, padahal dia bukanlah selebriti.


"Sayang, jangan mengganggunya terus. Kau bisa membuatnya tidak nyaman," ucap paman Frans.


"Tidak apa-apa paman, aku senang bertemu bibi." Mereka sudah bercerita banyak, tentang mengapa mereka ada di sana dan bagaimana kehidupan Sammy selama ini. Memang benar Sammy hanya tinggal dengan neneknya.


Sammy keluar membawakan minuman untuk semua orang. "Maaf hanya ada ini," ujar Sammy.


"Tidak apa-apa, oh iya. Tadi mamah membawakan sedikit oleh-oleh. Tolong ambilkan untuk bibi dan paman." Rae menunjuk tumpukan barang yang diberikan mamahnya tadi.


"Tidak apa-apa bibi, terimalah. Anggap saja sebagai hadiah perkenalan kita, maaf aku baru datang. Seharusnya aku datang lebih awal."


Bibi Rose mengusap lembut kepala Rae. "Kami mengerti nak, kamu pasti sangat sibuk."


Setelah mengobrol lama, paman dan bibi Rose pun pamit pulang. Mereka membiarkan pasangan suami istri itu di sana.


Rae sedang menemani nenek Asha, dengan mudah Rae bisa akrab dengan nenek suaminya.


"Ini siapa nek? Apa ini cucu nenek?" tanya Rae menunjuk salah satu foto anak kecil yang sedang mereka lihat.


"Itu cucu nenek, dia sedang sekolah sekarang. Nenek sangat sayang padanya. Sam, sangat usil. Selalu membuat orangtuanya marah. Kalau sudah begitu hanya nenek yang membelanya, hahaha ...." Nenek Asha masih mengingat Sammy saat kecil. Sayangnya dia tidak ingat kalau cucunya sudah dewasa sekarang.


"Nenek pasti sangat sayang pada cucu nenek, apa dia tampan?" bisik Rae.


"Iyaaa, cucu nenek sangat tampan dan juga pintar."


Rae terus bercanda dengan nenek Asha sampai tidak menyadari kalau sejak tadi ada seseorang yang memandanginya.


Sammy tersenyum melihat kedekatan istrinya dengan sang nenek. Tidak ia sangka, seorang Rae yang merupakan pemimpin perusahaan besar mau mengobrol dengan neneknya yang kadang membuat orang kesal karena tingkahnya.


"Cucu nenek sangat tampan seperti dia, hehehe ..." Nenek menunjuk Sammy yang berdiri di ambang pintu.


Rae menoleh bersamaan dengan Sammy. Mata mereka lagi-lagi bertemu dengan situasi yang berbeda. Rae melihat Sammy menatapnya tidak biasa. Wanita itu memalingkan wajahnya lebih dulu,


"Ehheemm ... aku sudah menyiapkan makan malam. Kamu bisa makan lebih dulu, aku akan menyuapi nenek," ujar Sammy.


Rae pun berdiri meninggalkan nenek, dia pergi ke meja makan. "Apa dia yang masak semua ini, kapan dia melakukannya?" tanya Rae. "Baunya harum," gumamnya. Perutnya yang tadi tidak terasa lapar, mendadak menjadi lapar hanya dengan mencium bau masakan itu.


Beberapa saat kemudian, Sammy kembali ke belakang setelah menyuapi neneknya. Melihat makanan yang sama sekali belum tersentuh membuat dia berpikir kalau sang istri tidak menyukai masakan yang ia buat.


"Kenapa belum makan? Apa kamu tidak suka. Sebentar, aku akan memesan makanan dari luar." Sammy mengambil ponselnya untuk memesan makanan.


"Tunggu! Jangan memesan makanan. Aku belum makan karena menunggumu. Ah i--itu karena aku tidak terbiasa makan sendiri." Rae mengalihkan pandangannya. Malu sekali, dia merutuki dirinya sendiri.


Sammy tersenyum diam-diam, ia kira istrinya yang kaya itu tidak suka dengan makanan yang ia buat.


"Ayo makan," ajaknya.


Mereka pun makan malam dalam keheningan. Rae cukup menikmati makanan buatan laki-laki di depannya. Tidak disangka kalau suaminya pandai memasak. Rasanya pun cocok di lidahnya.


"Apa kau menyukainya? Aku tidak tau bagaimana seleramu. Lain kali aku akan bertanya pada asisten Vera," tanya Sammy meminta pendapat istrinya. Dia memang sudah terbiasa memasak sendiri untuk dirinya dan sang nenek tapi baru kali ini dia memasak untuk orang lain.


"Ini enak, bagaimana kau belajar masak? Dilihat dari hasilnya, sepertinya kamu sudah biasa masak." Rae mencicipi anek masakan yang ada di meja makan. Dia suka sampai nambah.


"Dari nenek, dulu dia pernah membuka kedai makanan. Nenek yang mengajariku segalanya," ujar Sammy, mengenang saat neneknya masih sehat. "Tunggu, ada sesuatu di bibirmu," tunjuknya pada wajah Rae.


"Mana." Rae mencoba membersihkannya sendiri. Namun, tubuhnya mematung seketika saat tiba-tiba Sammy membantunya membersihkan sisa makanan yang menempel di bibirnya. Tanpa sengaja ibu jari laki-laki itu mengusap bibir Rae.


Mereka saling menatap dalam keheningan, hati mereka berdebar kencang.


"Ma--maaf, aku hanya mau membantu membersihkannya," gugup Sammy, dia segera menarik tangannya. Kenapa kamu tidak bisa menahan diri! Kesalnya pada tangannya sendiri.