My Arogant Wife

My Arogant Wife
23. Didesak Terus



Deru laju kendaraan roda empat memecah jalanan yang ramai di pagi hari. Semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Awan cerah dan sinar mentari pagi yang hangat menyambut hari mereka. Termasuk sepasang suami istri yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja mereka.


Sepasang suami istri yang sejak semalam saling tidak menyapa. Bahkan saat malam hanya ada punggung yang saling bertemu. Meski begitu, sang istri masih berusaha menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dengan menyiapkan pakaian dan melayani suami saat makan. Meski tanpa sepatah katapun.


Sampai saat ini pun, hanya ada suara bising dari kendaraan dan suasana kota yang memenuhi gendang telinga mereka. Mereka duduk bersebelahan di dalam mobil tapi seperti sendirian.


"Apa kamu akan mengantarkan laki-laki ke bandara nanti?" suara laki-laki menyita perhatikan Rae yang sedang fokus menatap jalanan yang setiap hari ia lewati.


"Hmmm ... itu akan jadi pertemuan terakhir kita. aku ingin mengantarkan nya sendiri," ujar Rae.


"Boleh aku ikut, aku akan menyetir sebagai sekretarismu bukan sebagai suami."


Rae mengerutkan keningnya, apa-apaan pria itu. Sudah semalam dia berpikir seenaknya sekarang mau ikut mengantar Dewa. Rae mengangkat bahunya acuh. "Terserah," jawabnya singkat.


Mereka sampai di depan gedung yang menjulang tinggi perusahaan milik keluarga William. Rae turun dibukakan pintu oleh asisten Vera yang sudah menunggunya di depan. Membiarkan Sammy memarkirkan mobilnya di basemen perusahaan itu.


"Nona, ada kiriman untuk anda," ujar Vera.


"Oh ya, dari siapa?" tanya Rae.


"Dari Tuan Dewa, saya sudah meletakkannya di meja anda."


"Dewa? " Rae sedikit terkejut tapi dia akan tau nanti. Dia turun dari lift dan langsung menuju kantornya.


Benar kata asisten Vera. Sudah ada sebuah kotak kecil di meja Rae. Wanita itu melepas jasnya dan meletakkannya pada sandaran kursi. Lalu duduk dan meraih kotak itu.


"Apa ini? Kak Dewa memberiku apa," gumamnya.


Dia segera membuka kotak itu, matanya melebar melihat benda itu. Sebuah bola salju yang terbuat dari kaca, yang di dalamnya terdapat ornamen seperti salju dan pernak-pernik nya. Itu adalah hadiah yang pernah Rae berikan pada laki-laki itu saat mereka masih kecil. Sebagai ucapan terimakasih Karena Dewa sudah membantu Rae belajar.


"Kak Dewa masih menyimpan ini, tapi kenapa dikembalikan. Ah ada suratnya juga." Rae melihat sebuah amplop putih di bawah hiasan itu dan membaca surat yang terdapat di dalam amplop itu.


Maaf kakak tidak menepati janji untuk yang terakhir kali, karena kakak sekarang sudah ada di dalam pesawat. Bukan kakak tidak mau kau mengantar kakak tapi aku takut kalau melihatmu lagi, aku takut tidak akan bisa melepasmu.


Hehehe tidak apa-apa, aku tidak sedih karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tetap bahagia selama kamu bahagia. Aku senang masih tetap bisa menjadi kakakmu.


Salam sayang.


Dewa.


"Kak Dewa ... aku pasti akan merindukanmu." Rae begitu tersentuh dengan ucapan tulus dari Dewa. Dengan memperlihatkan kalau laki-laki itu masih menyimpan benda yang sudah puluhan tahun itu sudah cukup membuktikan kalau pria itu memang benar-benar mencintai Rae sebagai seorang wanita. "Aku harap kakak juga bisa menemukan wanita yang baik dan bisa membuat kak Dewa bahagia."


...


Setelah kepergian Dewa tak lantas membuat hubungan suami-istri itu jadi membaik. Rae yang masih dingin dan menjaga batas membuat Sammy kesulitan untuk memasuki dunia wanita itu. Laki-laki itu cukup lelah mencoba, hampir setiap hari Sammy berusaha mendekat tapi sikap wanita itu masih sama.


"Bukankah ini akhir pekan, pergilah jalan-jalan. Mamah perhatian kalian tidak pernah pergi jalan-jalan berdua selain pergi dan pulang bekerja," ujar Sora di meja makan.


"Aku ada pekerjaan Mah," jawab Rae malas.


"Pekerjaan apa lagi, bukankah proyek barumu sudah selesai di garap." Papah William menyahut.


"Ya itu, aku masih perlu meninjau lagi sebelum launching besok Pah," ujar Rae mencari alasan. Karena sejujurnya dia sangat canggung jika hanya pergi berdua dengan suaminya. Sedangkan kalau di rumah atau di kantor dia masih punya alasan untuk menghindar.


"Tidak perlu khawatir, nanti papah akan bantu kamu mengeceknya. Kamu pergi saja menghabiskan waktu bersama suamimu. Ini perintah dari atasanmu!" tegas William yang merupakan seorang Presdir.


"Tapi Pah--"


"Pergilah nak, sesekali kalian perlu menghabiskan waktu di luar. Menginap di luar juga tidak masalah. Pulanglah besok," timpal Sora bersemangat. Segera berikan mamah cucu yang lucu. Seolah wajahnya berkata seperti itu sambil tersenyum girang.


Rae memutar bola matanya jengah, cucu, cucu, cucu apa segitu pentingnya cucu bagi mereka. Kenapa dulu tidak melahirkan banyak anak saja agar tidak hanya aku yang didesak seperti ini. Mereka kira membuat anak segampang itu apa. Ya memang itu mudah tapi masalahnya aku dan Sammy itu ... aaarrrggghhh menyebalkan.