My Arogant Wife

My Arogant Wife
22. Sammy Salah



Hampir satu jam Sammy menunggu istrinya di dalam mobil. Dia belum mau beranjak sebelum melihat sang istri pulang. Untunglah cuaca di tidak begitu dingin, kalau tidak Sammy pasti akan membeku karena terlalu lama menunggu. Laki-laki bermanik mata hitam itu selalu memandang ke arah restoran itu.


"Kenapa lama sekali kalau hanya makan malam. Apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Mungkinkah laki-laki itu menyatakan perasaannya pada Rae, Bagaimana kalau ternyata Rae juga memiliki perasaan yang sama." Sammy menerka-nerka apa yang terjadi dan membayangkan jika mereka saling mencintai. Maka Sammy tidak akan mempunyai kesempatan lagi.


Laki-laki yang sudah menggulung kemejanya hingga siku itu makin tak tenang. Dia ingin menyusul ke dalam sana dan mencari tahu apa yang terjadi. "Aku harus melihatnya sendiri," gumamnya.


Namun baru saja dia mau membuka pintu, sang istri dan laki-laki bernama Dewa itu terlihat berjalan menuju pintu keluar. Mereka bertatapan dengan mesra di mata Sammy. Rae, sang istri juga tersenyum sangat lepas saat dengan laki-laki itu. Mereka tampak begitu serasi, perbedaan mereka juga tidak begitu banyak seperti dirinya dan Rae yang bagai langit dan bumi.


Jika ada yang melihat pastilah mengira mereka itu adalah sepasang kekasih. Mungkinkah itu cemburu, perasaan takut kehilangan dan takut sang istri merasa lebih nyaman dengan laki-laki itu. Sammy memukul setirnya, merasa tak berdaya. Jika dibandingkan dengan laki-laki itu, tentu saja dia tidak ada apa-apanya.


"Terimakasih sudah mau makan malam denganku, aku harap pengakuan ku tadi tidak membuat hubungan kita jadi canggung. Tetaplah jadi Rae, adik kecilku yang manis," ujar Dewa.


"Iya kak, tenang saja. Meski aku merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan kakak tapi aku senang kakak bisa mengerti. Aku juga berharap Kak Dewa tidak menghindariku karena hal itu. Kita masih bisa berteman seperti biasa kan?"


"Tentu, kecuali kalau suamimu tidak membuat mu bahagia. Maka aku akan datang membawamu pergi."


"Kau tenang saja kak, Papah pasti lebih dulu bertindak kalau hal itu terjadi," sahut Rae seraya tersenyum.


"Biarkan kakak memelukmu sebentar." Dewa merentangkan tangannya, membuat Rae tidak punya pilihan lain selain memenuhi permintaan terakhir laki-laki itu.


Aku harap kau bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku Kak. Dan kakak bisa bahagia dengan wanita yang kakak cintai.


Pada saat itu, Sammy datang dan menghentikan mobilnya di depan mereka. Dia turun untuk menjemput istrinya.


"Sepertinya kau sudah ada yang menjemput," ujar Dewa.


Rae melihat ke belakang dan menemukan suaminya ada di sana. Bagaimana bisa laki-laki itu ada di sana, dia tidak merasa menghubungi suaminya untuk menjemputnya.


"Apa sudah bisa pulang sekarang?" tanya Sammy.


"Ah kalau begitu aku akan pulang sekarang kak. Terimakasih makan malamnya, jangan lupa kabari aku saat kakak akan kembali besok. Aku akan mengantar kakak ke bandara," ucap Rae.


"Iya, tentu. Hati-hati di jalan. "


Sammy membukakan pintu untuk istrinya. Mereka belum saling menyapa, situasinya cukup canggung. Rae takut suaminya salah paham dengan pelukan perpisahan tadi.


Di dalam mobil terasa sunyi, Rae maupun Sammy tidak ada yang berbicara. Mereka fokus menatap jalanan, tapi rasanya Rae tidak tahan lagi dan dia perlu tau kenapa laki-laki yang duduk di sampingnya itu bisa tiba-tiba ada di sana tepat setelah ia keluar dari restoran.


"Emm kenapa kamu tiba-tiba datang? Kamu tidak menungguku sejak tadi kan," tebak Rae.


"Tidak, aku hanya kebetulan lewat setelah melihat nenek di rumah sakit," jawab Sammy.


Sungguh jawaban yang tidak masuk akal karena jalanan menuju ke rumah sakit jelas berlawanan dengan arah menuju restoran. Tapi Rae tidak membahasnya lebih jauh.


"Apa laki-laki itu akan kembali ke Jepang besok? Kenapa dia tidak tetap di sini saja, bukankah dia sudah mengungkapkan perasaannya."


Rae sangat terkejut mendengar ucapan suaminya, bagaimana laki-laki itu bisa tau. Apa dia memasang alat dengar pada Rae. atau mata-mata yang mengikuti wanita itu. Ah tidak, bahkan di restoran tadi hanya ada Rae dan Dewa karena Dewa sudah memesan tempat itu khusus untuk makan malam dengan Rae tanpa ada yang mengganggu.


Melihat keterkejutan di wajah Rae membuat Sammy yakin kalau yang ia katakan itu benar.


"Jadi apa kalian sudah berpacaran sekarang?"


"What's!! Apa maksudmu, itu tidak akan terjadi. Aku tau batasanku sebagai wanita yang sudah bersuami," bantah Rae.


"Kenapa, pernikahan kita bahkan karena terpaksa. Bukan karena cinta. Mungkin karena itulah kamu memberi jarak pada hubungan kita. Karena di hatimu tersimpan nama laki-laki lain," ujar Sammy.