
Tibanya di kampus, Alex dan Arga segera pergi turun dari mobil dan pergi untuk mengurusi kepindahan mereka ke kampus ini. Saat mereka datang, tidak banyak yang memperhatikan mereka. Sepertinya itu karena kalung yang dibuat oleh Alex.
Aroma mereka sebenarnya kuat, hanya saja aroma itu akan tersegel jika mereka menemukan orang yang akan mereka percayai sebagai takdir mereka dan menikahi orang itu.
Untuk sementara sebelum mereka menemukan orang itu, mereka membuat kalung dari kekuatannya sendiri. Namun, karena Arga bukan keturunan murni dia memakai kalung yang dibuat oleh Alex
Kalung yang dibuat Alex berbentuk daun transparan yang sederhana. Bukan hanya karena kalung yang mereka pakai, mereka juga memakai pakaian simple yang membuat orang tidak tertarik.
"Alex, bisa tidak kita pergi ke kafetaria lebih dulu?" Ucap Arga di samping Alex ditengah jalan. Alex yang mendengar kakak sepupunya kelaparan hanya meliriknya dan tidak menanggapinya.
Setelah bertanya pada mahasiswa lainnya, akhirnya mereka menemukan kearah mana ruangan yang mereka tuju. Meski ditengah jalan mereka banyak berpapasan dengan mahasiswa lain, dari yang biasa dan terlihat populer.
Ada satu mahasiswa yang berpapasan dengan mereka yang memiliki aroma begitu kuat dan pesona yang memikat.
Saat mereka berpapasan dengannya, Alex terus menatapnya. Saat mata mereka bertemu, suasana hatinya berubah menjadi rumit. Alex melewatinya dan masih melihatnya berdiri diam, segera menyuruh Arga untuk segera pergi.
Dalam sekejap mereka berada didepan pintu tempat mereka mengurus kepindahan mereka. Meninggalkan Nathan yang masih diam dan akhirnya memilih pergi, saat tidak mendapati mereka kembali.
Setelah mereka selesai, Arga segera bertanya pada adiknya ini. "Lex, apa dia yang kau cari?" Tanya Arga yang duduk didepan Alex. Kini mereka berada di taman belakang, disamping gudang.
Mereka duduk dibangku kosong yang tersedia disana. Sepertinya tidak banyak yang berkunjung ketaman ini, mungkin hanya beberapa mahasiswa penyendiri.
Alex tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan arga. "Entahlah, sepertinya memang dia..." Ucap lirih Alex pada Arga.
Arga yang mendengarkannya kaget dan menepuk pundak Alex. "Kenapa tidak kau lakukan saja tadi?" Saran Arga pada Alex, yang berhasil membuatnya mendapat pukulan diperutnya.
"Aduh...duh...aduh...sial...kau...aduh." Teriak Arga sedikit dramatis.
Alex yang melihatnya, hanya memutar bola matanya dan menjawab. "Belum waktunya tahuđź’˘, bagaimana bisa kau melakukannya sebagai orang yang baru pertama kali dilihatnya hm... ?" Alex pergi meninggalkan Arga yang masih bersikap dramatis.
"Bukannya kau lapar, cepatlah!" Teriak Alex yang sudah cukup jauh Arga. Waktu istirahat sepertinya sebentar lagi, Karena itu lah Alex mengajak kakaknya itu untuk makan.
Meski Arga memiliki tubuh yang bagus dengan otot yang menggoda, tetap saja dia mengutamakan makanan nomor satu. Karena dia belum menemukan seseorang yang membuatnya tertarik, dia memilih untuk tertarik pada makanan. Dan menjadikannya nomor satu di hidupnya.
Arga yang mendengar teriakan Alex yang mengajak makan segera bangun dan berlari mengejar adiknya itu. "Hay....hay....Alex....tunggu....." Teriak Arga yang sudah tertinggal cukup jauh.
Alex yang mendengar teriakan Arga, menggeleng tak percaya dengan kakak sepupunya ini. " Dasar bodoh, bukannya kamu bisa saja berada didepan ku dalam sekejap, kenapa harus lari sih....." Teriak alex yang menyadarkan otak Arga yang penuh dengan makanan.
"Ahh iya dasar bodoh." Ucap Arga pada dirinya sendiri.
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Tibanya di kantin, bel istirahat berbunyi waktunya mahasiswa mengakhiri kelas mereka dan pergi untuk makan ataupun sekedar bersantai. Setelah memesan makanan, Alex dan Arga memilih duduk dibangku kosong disudut ruang.
Meja itu menghadap kearah taman tepat disamping kafetaria. Saat ini Arga menyantap makanannya dengan hikmat, lain dengan Alex didepannya.
Nathan yang merasa ditatap, mencari arahnya dan mendapati Alex yang duduk bersama Arga. Meski Nathan terbiasa menjadi pusat perhatian, namun kali ini dia merasa berbeda.
Dia penasaran dengan sosok itu, yang terus menatapnya dari pertama kali mereka bertemu. Dia merasa tatapan sosok itu tadi pagi, sempat membuatnya tenggelam dalam pikirannya.
'Apakah aku mengenalnya? Kenapa aku merasa dia tidak berbahaya, tapi kenapa dia terus mengawasiku?' Pikir Nathan dalam hati.
Rasa penasaran itu kini kalah dengan rasa tidak pedulinya. Nathan membiarkan Alex terus menatapnya dan berpura pura tidak peduli.
Setelah makanan habis, Arga mengajak Alex untuk segera pergi dari sana. Alex yang sedang menatap Nathan, mengangguk dan pergi mengikuti Arga.
Arga memilih untuk mengajak Alex ketaman belakang untuk tempat mereka menghabiskan waktu sebelum memasuki kelas. Karena disana suasananya begitu tenang dan asri yang disukai mereka.
Saat mereka tiba disana, ada beberapa mahasiswa lain yang datang. Tidak seperti saat pertama kali mereka kesini, mungkin itu karena ini adalah waktu jam istirahat. Mereka semua sepertinya adalah orang yang penyendiri.
Namun tidak untuk sosok yang duduk dikursi jauh dari pandangan mereka, tepat didepan gudang. Sosok itu menyenderkan kepalanya dikursi dan memejamkan matanya. Dia mengenakan kemeja dengan bagian atas terbuka, yang membuat sosoknya tampak menarik.
Dilihat dari penampilan saja, sosok itu pasti orang yang populer dan menawan. Saat sosok itu tenggelam dalam pikirannya arga yang melihatnya penasaran dan menghampirinya.
Arga tidak peduli lagi pada adik sepupunya yang duduk sendirian. "Alex tunggulah disini, aku akan segera kembali." Ucap Arga sebelum menghilang dari pandangan alex.
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Hari ini seperti biasanya, Leo duduk disamping Pure dan Mark. Wajah Leo tampak berbeda dari biasanya, entah apa yang menjadi beban pikiran Leo selain cintanya yang terus ditolak Mega. Yang mengherankan bagi mereka adalah Leo tidak pernah menganggap cinta yang terus ditolak itu menjadi bebannya.
Meski Mark bisa saja menggunakan tongkat sihirnya agar Leo mengatakan yang sebenarnya. Namun saat menyangkut masalah pribadi temannya, dia lebih memilih menunggu mereka untuk menceritakannya sendiri.
Pure tidak tahan melihat wajah kusut temannya, dan ingin menanyakan alasannya. "Ada apa denganmu Leo?" Tanya vino yang baru saja datang.
Vino pergi ke kelas senior, karena bosan. Pure yang baru saja ingin bertanya pada Leo menghela napas kasar dan menatap tajam Vino. 'Kenapa dia selalu lebih dulu' Pikir pure. Mark tidak mempedulikan keduanya, dia lebih memilih menunggu Leo menjawab.
"Apa kalian percaya pada Mate?" Ucap Leo dengan lesu, yang berhasil membuat ketiga temannya terkejut.
"Nggak! Karena kita lebih percaya cinta yang akan tumbuh perlahan." Ucap ketiga teman Leo bersama.
Leo yang mendengarnya menghela nafas dan melanjutkan ucapannya. "Ayah mengatakan bahwa aku sepertinya mempunyai mate. Meski dia sendiri tidak yakin dengan itu, karena biasanya seseorang yang mempunyai mate akan mempunyai bau feromon yang berbeda. Sedangkan aku sendiri tidak ada bedanya dengan para alpha yang bebas memilih pasangannya.
Bagaimana jika ucapan ayah adalah kebenaran? Kalian tahu kan bagaimana mungkin orang sepertiku mempunyai mate sedangkan orang kucintai sepertinya bukan takdirku." Jelas Leo menuangkan segala pikirannya.
Mereka yang mendengar ucapan Leo, ingin menjawab dan bertanya. Namun, melihat raut wajah Leo yang lebih kusut dari sebelumnya membuat mereka mengurungkan niatnya.
Sepertinya tidak tepat bagi mereka untuk menuangkan cuka pada luka. Mereka memilih diam membiarkan Leo berada didalam pikirannya, sedangkan mereka bertiga memilih pergi ke kafetaria dan meninggalkan Leo dikelas.
Tidak terasa waktunya jam kelas dimulai, Vino yang bersama Mark dan Pure pamit dan kembali ke kelasnya. Sedangkan Mark dan Pure masih tidak ingin bangun dari tempat duduknya. Sampai salah satu teman sekelasnya memanggil mereka untuk segera masuk.