
Disebuah rumah mewah yang besar, dua sosok itu melemparkan Avin kedalam penjara bawah tanah. Disana Avin dipaksa untuk menyerahkan buku yang diserahkan ayahnya padanya.
Jika Avin tidak menuruti perintah mereka, mereka akan menyiksa Avin dengan kejam sampai Avin sendiri mau mengatakan keberadaan buku itu.
Avin yang menurunkan sifat ayahnya yang setia tidak ingin mengatakan dan membiarkan dirinya terus disiksa.
Cukup lama Avin bertahan dari siksaan keduanya, membuat salah satu diantara mereka bosan dan pergi meninggalkan penjara yang kotor itu.
Melihat kekasihnya yang sudah pergi meninggalkannya, membuat sosok lain yang berada dipenjara itu ingin mengikutinya.
Namun, saat sosok itu ingin mengikutinya tiba tiba tangan Avin yang lemah memegang kaki sosok itu dan berkata dengan lirih.
"Ka-ka...kau bukanlah kakek....Siapa...Kau...Sebenarnya..?" perkataan Avin membuat sosok itu tertegun dan berbalik menghadap Avin yang lemah dikakinya.
Sosok itu tampak marah dan menendang Avin, dia seperti ketakutan identitasnya akan terbongkar.
Karena itu dia membungkam Avin dengan mencekiknya dan membisikan sesuatu di telinga Avin yang hanya bisa didengarnya sebelum sosok itu menggunakan kekuatannya untuk membunuh Avin.
Entah apa yang dibisikan sosok itu pada Avin, yang pasti kebenaran dibalik semuanya. Tepat disaat tubuh Avin tergeletak dan menjadi debu, ada sosok lain yang melihat Avin dibunuh.
Sosok itu adalah sosok yang sama yang pergi meninggalkan mereka lebih dulu, namun karena sosok itu melupakan sesuatu dia segera kembali kepenjara.
Saat dia berada didepan pintu penjara dia melihat sosok yang dia cintai membunuh Avin musuh mereka dan juga cucu dari sosok yang membunuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" sosok itu bertanya pada orang yang dicintainya yang baru saja membunuh keturunannya sendiri.
"Memangnya kenapa jika aku membunuh bocah tidak berguna ini hah? Jika kau ingin bermain, bermainlah dengan anak mu itu" Jawab sosok itu kesal.
"Apa maksudmu hah? Oh...Sekarang aku tahu, ternyata kamu membunuh anak ini karena kasihan kan? Kau masih menganggapnya darah keturunanmu?......Setelah apa yang kau lakukan..... "
Sebelum sosok wanita itu menyelesaikan kalimatnya, lehernya dicekik oleh sosok yang dikenalnya. "Jika kau terus seperti ini akan ku bunuh kau--tidak peduli siapa kau dimasa lalu"
Ucap sosok laki laki yang bersama sosok wanita itu dengan kejam dan melemparkan tubuh sosk wanita itu ketanah.
"H....hh....ha....munafik...." Ucap wanita yang dilempar itu dengan kesulitan karena cekikan dari orang yang dicintainya.
Selama ini dia tidak pernah mencintai seseorang sedalam ini bahkan suaminya sendiri. Dia adalah seorang permaisuri, istri dari kaisar Daniel bernama Agnes Silviana.
Siapa yang tahu bahwa dia mencintai anak pertama dari suaminya, Devon Silviana.
Namun karena kebohongan yang dibuat suaminya, membuatnya terjebak dengan kehidupan yang tidak diinginkannya.
Awalnya dia berpikir bahwa dia membuat siasat untuk membunuh suaminya sendiri dan kabur bersama orang yang dicintainya akan membuatnya bahagia.
Namun siapa sangka bahwa jalannya sekarang malah membuatnya menderita dan hidup dalam pelarian.
Dia mencintai Devon sejak pertama kali bertemu dengannya. Devon yang dia kenal adalah sosok yang lembut dan baik hati.
Tapi dihadapannya sekarang adalah kebalikan dari Devon, kasar dan tidak mengenal belas kasihan.
"Jangan pernah berkhianat padaku, jika tidak......"
Sosok yang kini kita kenal sebagai Devon menggantungkan ucapannya dan pergi dengan wujudnya sebagai kelelewar.
Agnes yang menatap kosong kearah perginya Devon, mengalihkan perhatiannya pada mayat Avin dan menghela napas kasar. Dia mengambil abu Avin dan menyimpannya dikamarnya.
________
Setelah acara selesai tepat pukul tiga dini hari, Kevin yang akan mengantarkan para tamu pulang tiba tiba berteriak kesakitan dan jatuh pingsan. Leo dan teman temannya yang tepat disamping Kevin segera menangkapnya agar tidak jatuh kelantai.
Alex yang berdiri disamping zevan menghampiri Kevin yang jatuh pingsan. Diikuti Zevan dibelakangnya, yang merasa ada yang salah kali ini. Alex yang menghampiri Kevin, meminta Leo dan teman temannya menyerah tubuh Kevin kepadanya.
Zevan yang melihat itu hanya memperhatikan tanpa berkata apa apa. Tapi, saat Alex perlahan mencondongkan tubuhnya ke Kevin, Zevan reflek mendorong Alex menjauh dan merebut Kevin dari pelukan Alex.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Zevan menatap tajam kearah Alex. Reaksi spontan yang dilakukan Zevan pada Alex membawa makna tersendiri pada orang orang yang masih berada disana.
"Ada apa dengan reaksimu?Seperti sedang menangkap basah istrimu selingkuh...." sindir Leo yang melihat reaksi Zevan yang menurutnya aneh.
Zevan yang sadar setelah mendengar sindiran Leo segera pergi kekamar untuk membaringkan Kevin. Sedangkan Alex sendiri hanya memandang aneh kearah kepergian Zevan.
"Sesuatu yang buruk telah terjadi, apa kau juga berpikir begitu bu?"
Tidak seperti yang lainnya yang ikut pergi kedalam kamar untuk melihat Kevin. Alex memilih menarik tangan ibunya dan bertanya padanya.
"Jika kau merasakan bahwa ada sesuatu yang buruk, kenapa tidak mencari tahu sesuatu yang buruk macam apa itu?" Ibu Alex menghela napas kasar sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ibu tau jika kau tidak mungkin memeluk Kevin didepan orang yang sudah menjadi suamimu sekarang, hanya untuk mengetahui apa yang terjadi" ucap ibu sedikit menggoda anaknya.
Alex memandang kesal kearah ibunya: "Lalu apa itu ibu?" pertanyaan Alex yang ditujukan pada ibunya. Ibu Alex merubah ekpresi wajahnya menjadi serius.
"Sesuatu terjadi pada saudara Kevin, dan itu tidak bisa dihindari. Ini bukanlah urusan ibu, ini adalah urusanmu, dan tanggung jawabmu, semenjak kau masuk kedalam keluarga ini beberapa jam yang lalu."
Ucapan ibunya membuat Alex menghela napas dengan kasar. Dia tidak pernah berpikir bahwa takdir membawanya terlalu jauh, sekarang bukan hanya dia dipertemukan oleh seseorang yang ditakdirkan untuknya. Namun, juga harus membantu menyelesaikan masalahnya.
Dia masuk kedalam kamar dan melihat Kevin yang masih terbaring lemah: 'Seharusnya aku menolongnya dengan cepat' ucap Alex dalam hatinya.
Karena ibunya mengetahui apa yang terjadi, ia memilih pamit untuk pulang bersama suaminya dan adik adiknya.
Disusul pula dengan kepergian para leluhur vampire dan pelayan yang tidak mempunyai urusan lagi.
Dikamar itu tersisa Zevan, pelayan setianya dan beberapa orang yang dikenalnya beberapa hari ini.
"Sepertinya semuanya akan baik baik saja. Kalian tidak perlu repot repot menunggunya bangun, sebaiknya pergilah beristirahat".
Mendengar apa yang dikataan Alex, mereka yang berada dikamar tersadar bahwa ini seharusnya menjadi malam yang indah untuk Alex dan Zevan.
"Apa kau akan melakukannya saat keluargamu yang baru masih terbaring lemah hah? Benar benar tidak tahu malu....."
Leo mengeluarkan kata kata pedasnya, karna berpikir bahwa Alex secara tidak langsung mengusir orang orang. Dan sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi.
"Hah? Apa yang kau maksud dengan 'melakukannya'? Alex tidak bodoh untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh Leo.
Tapi dia tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan leo terhadapnya:'Apa dia seburuk itu?' pikirnya.
Arga yang sudah mengenal adiknya itu menundukan kepalanya sembari menahan tawa. Dia pikir apa yang dipikirkan Leo sedikit masuk akal jika seseorang tidak mengenalnya dengan baik.
Adiknya itu adalah sosok yang terlihat acuh tak acuh pada sesuatu hal yang menurutnya tidak perlu ikut campur. Tetapi sebenarnya dalam hatinya itu dia selalu ingin membantu jika dia bisa, atau dia akan diam diam membantu.
Lihatlah betapa mengagumkannya adik sepupunya itu bukan? Tapi tetap saja tidak banyak yang mengenalnya.
Leo yang melihat Arga menahan tawa merasa diejek olehnya secara tidak langsung
"Apa yang kau tertawakan hah....?"
Sebenarnya bukan hanya Arga yang menampilkan ekspresi berbeda dari sebelumnya. Tapi juga teman teman Leo, Andrew dan teman temannya, seluruh wajah mereka tertutup dengan warna merah karena malu.
Mereka berpikir sama dengan apa yang dipikirkan Leo, bahwa Alex benar benar tidak tahu malu. Wajar jika mereka merasa malu bukan? Sedangkan kedua pengikut setia Zevan terlihat acuh dengan candaan anak anak muda ini.
Arga yang mendengar ucapan Leo berusaha untuk menghentikan tawanya. Saat Arga menatap sekitar bukan hanya dia ditatap oleh Leo dengan pandangan aneh. Tapi juga ditatap dengan tajam oleh Alex dan Zevan dengan pandangan
'Aku akan membunuhmu'.
Arga yang memahami itu mengumpat dalam hatinya: 'Sial, sial.....'.
Saat semua orang yang berada diruang itu menunggu seseorang yang terbaring bangun, tiba tiba Kevin dengan mata masih tertutup berteriak sembari menyebut nama seseorang.
"Avin....Avinn.....ka....jangan pergi..... " teriak Kevin yang tiba tiba terbangun dan terengah engah. Zevan yang berada tepat disamping segera membawa Kevin dalam pelukannya, berusaha untuk menenangkannya.
Sedangkan yang lainnya yang masih terkejut dengan Kevin yang bangun tiba tiba, memandang kearah Kevin dengan penasaran. Mereka memandang kearah Kevin dengan pikiran masing masing berusaha menebak apa yang terjadi.
Berbeda dengan Arga yang tiba tiba menjadi serius dan pergi dari kamar itu bersama dengan Alex. Saat Arga menarik tangan Alex untuk pergi, hal itu tidak lepas dari pandangan Leo. Dia yang masih penasaran dengan mereka dan mengikuti dibelakangnya.
Mereka yang tersisa sedikit terganggu dengan kepergian Arga, Alex dan diikuti Leo tidak berusaha ikut campur dan memilih menemani Kevin dan mencari tahu apa yang terjadi.