Mistakes

Mistakes
izinkan aku menikahi anak mu



Alex tersadar dari lamunan nya dan menyadari bahwa dirinya sudah berbaring diranjang miliknya. Ayah Alex tersenyum dan mengelus kepala nya seperti yang ia lakukan saat Alex masih kecil.


"Apa kau merindukan ayahmu hmm....."


Alex hanya mengangguk kecil sembari terus menatapnya seolah tidak ingin kehilangannya lagi. Sosok asing yang diperhatikan Alex tadi melangkah menghampirinya.


"Apa begitu menyakitkan menerima semua itu? Ibu benar benar tidak berharap bahwa kamu akan mengalami semua ini"


Ucap sosok wanita itu pada Alex yang membuat jantung miliknya berdetak lebih cepat. 'Tunggu-tunggu apa yang dia katakan? Ibu....apa dia....'


"Ibumu memang masih hidup Raven, dan karena dirimu saat itu ibumu bangun dari mati yang bukan kematiannya. Ibumu hanya terjebak didalam ruang yang gelap yang memperangkap jiwa ibumu yang membuatnya seolah mati.


Kamu tahu? Tepat disaat ibumu mengandung kamu kakek dan nenekmu mengusir ku dan ibumu pergi dari istana".


Alex tertegun dengan penjelasan ayahnya, dia sama sekali tidak berharap bahwa dirinya adalah keturunan kerajaan. Dia terlalu bahagia dan terkejut dengan kedatangan ibunya yang sama sekali tidak pernah ia temui.


Yang membuatnya tidak ada waktu untuk menghentikan ucapan ayahnya dengan pertanyaan pertanyaan seperti biasanya. Bahkan dia juga tidak ada waktu untuk memeluk dan memohon ayahnya untuk terus memanggilnya Raven seperti dulu saat dia berusia empat belas tahun.


Ayahnya saat itu memanggil namanya dengan Raven karena ingin membujuknya untuk tidak membawa seekor ular kedalam sekolah.


"Kamu tahu sayang, sejak saat itu ayahmu membawa ku pergi dari sana dan hidup seolah hanya manusia biasa. Ibu ingat sekali betapa perhatiannya ayahmu dan khawatirnya dia saat ibu berusaha melahirkanmu. Hahahaha......Jika saat itu aku tidak kesakitan mungkin melihat raut wajahnya saat itu aku akan tertawa tanpa melihat sekitar.... Hahaha..."


Sosok wanita yang menyebut dirinya ibu tertawa lepas, tetapi sosoknya masih terlihat begitu anggun dimata Alex.


"Apa yang kau tertawakan sih, aku hanya khawatir dengan anakku bukan kamu".


"Ouh jadi begitu, baiklah kembalikan aku didalam istana ibumu lagi dan buat diriku tertidur"


"Ehh bagaimana bisa itu tidak mungkin lah"


.


.


.


Pertengkaran kecil mereka terjadi cukup lama didepan Alex, pertengkaran yang mengungkit begitu banyak kenangan diantara ibu dan ayahnya. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya sekarang, ternyata ayah dan ibunya bukan sosok yang saling menghormati dengan kaku.


Tapi menciptakan pertengkaran untuk membuat setiap moment menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan. Pantas saja saat itu, bibi berkata padanya bahwa dia sama sekali berbeda dengan ayah dan ibunya.


Sifat mereka yang diturunkan pada Alex hanya sifat yang membuat orang mudah geram pada mereka. Mereka mudah menciptakan pertengkaran tapi juga mudah mendamaikan nya.


Hingga pertengkaran itu menjawab satu persatu pertanyaan Alex. Dari kemana sebenarnya ibunya berada selama ini, dan alasan kenapa ayahnya menyembunyikan identitasnya sebagai element king.


Sebenarnya dulu saat nenek masih remaja, ayah dari nenek pernah bersumpah untuk menjaga keturunan mereka dari para penyihir. Dan tidak membiarkan seorang penyihir masuk dalam kehidupan keturunan mereka.


Karena dulu dikerajaan milik mereka terjadi beberapa konflik yang mengakibatkan kematian sumpah lima makhluk immortal. Mermaid kuno, werewolf, elf, peri, dan orang dari lembah mimpi mati ditangan seorang penyihir bernama melfianus.


Kematian mereka tepat didepan ayah dari nenek yang membuatnya begitu membenci kaum penyihir. Setiap sumpah yang diucapkan memilik konsekuensi tersendiri, begitu juga sumpah yang diucapkan kakek buyut Alex.


Siapa yang menyangka bahwa cucu mereka akan jatuh pada seorang penyihir cantik yang meluluhkan hatinya.


Karena itu, tidak ada alasan lain untuk orang tua ayah terus membencinya. Mereka berusaha menerima apa yang menjadi kebahagiaan anaknya. Dan karena itu juga, mereka memperintahkan anak bungsu mereka untuk menemukan dan mengawasi kebahagiaan anak sulung mereka.


Namun semua yang mereka lakukan terlambat, saat bibi menemukan kakak dan kakak iparnya bukan diwaktu tepat. Karena saat itu bibi menemukan bahwa kakak iparnya mengalami koma setelah kelahiran anaknya.


Dia melaporkan semua itu pada kedua orang tua nya, dan membuat mereka datang menemui anak sulung mereka setelah sekian lama. Mereka menebus kesalahan dengan menjaga tubuh menantu mereka didalam gelembung pelindung dan dijaga diistana mereka yang berada didalam hutan mematikan.


Setelah mereka rasa cukup mengoreksi kenangan kenangan mereka, mereka mengalihkan perhatiannya pada Alex, anak satu satunya yang mereka miliki. Ibu Alex melepas rindu dengan memeluk Alex, ayah hanya melihatnya dan duduk dikursi belajar milik anaknya.


Tidak pernah bertemu dengan Alex membuat ibu Alex tidak begitu mengenal anaknya. Dia pikir saat dirinya bertemu dengan anaknya, anak itu akan banyak bertanya dan memulai pertengkaran kecil dengannya.


Tapi apa ini? Saat dirinya begitu rindu pada anaknya, sang anak hanya diam dan mengepresikan rindunya hanya lewat sebuah pelukan. Hebat sangat hebat, sebenarnya anak siapa ini? Kenapa begitu berbeda dengan orang tuanya.


Berada dalam pelukan ibunya yang tidak pernah dirasakan olehnya sejak kecil benar benar nyaman. Bahkan dia tertidur dipelukan itu dengan nyaman.


"Apa yang kau katakan? Dia sama sekali berbeda dengan mu tahu--Dia pendiam. Sebenarnya ini anakku atau bukan sih?"


"Bukan anakmu tapi anakku"


"Hei dia anakku..."


"Anakku lah, bukankah sifatnya mirip denganku dulu?"


"Sifatmu lebih buruk untuk seorang pangeran"


.


.


.


.


.


Begitulah tingkah mereka bahkan saat anak mereka sendiri masih tertidur lelap dihadapan mereka. Sampai mereka sadar bahwa anak mereka masih akan mengalami penderitaan malam ini segera mentransfer energi mereka untuknya.


Ibu Alex yang seorang penyihir menggunakan tongkatnya untuk menyihir Alex untuk tetap tertidur. Menurut mereka, seharusnya konsekuensi yang dialami Alex memiliki solusi tapi mereka tidak tahu solusi apa itu.


Berjam jam mereka disamping Alex untuk melihat perkembangan energi yang mereka transfer menjalar keseluruh aliran darah anak mereka. Sampai suara kedatangan orang asing mengganggu mereka.


Saat sosok asing membuka pintu, ternyata sosok itu hanya Arga, keponakan mereka. Dibelakang keponakan mereka ada beberapa sosok lain yang masuk. Tapi pandangan mereka terkunci pada satu sosok diantara mereka sekilas.


Seorang yang begitu kuat dengan pesona yang tidak tersegel, siapa lagi jika bukan zevan. Kedatangan Zevan menjawab semua pertanyaan kedua orang tua Alex, sepertinya konsekuensi yang dialami Alex tiga hari ini hanyalah awal.


•••••••¤¤¤¤••••••


.


.


.


"Ah...Iya, kenapa kau hanya menyambut pamanmu ini hah? Bagaimana dengan bibimu ini?" Ayah Alex menarik tangan sosok bergaun hijau itu dan memperkenalkannya pada Arga.


"Bibi, apa benar dia bibi ku paman?......Jadi bibi benar benar masih hidup? Lalu kemana kamu selama ini bibi....." ucap Arga yang masih terkejut dengan keberadaan bibinya didepan matanya ini.


"Mm....tidak semua yang terjadi harus selalu dijelaskan kan bukan? Yang pasti mengenai Alex bukan lah salahmu Arga. Takdir tidak akan pernah salah, dan tidak akan pernah bisa dihentikan meski kau sendiri menangis dan menyesali semuanya. Kau tahu Arga, takdir Alex memang seperti ini tidak ada cara untuk kamu menghentikannya" ucap ayah Alex menjelaskan pada keponakannya.


Zevan yang sedari tadi memperhatikan semuanya kini melangkah maju dan menghampiri ayah Alex.


"Jadi kau adalah ayah dari anak ini? Bisakah aku berbicara denganmu paman?" tanya Zevan pada ayah Alex.


"Baiklah bicaralah sekarang, bukankah tidak baik jika merahasiakan sesuatu dari seseorang?" ucap ayah Alex yang membuat Zevan sedikit kesal. Ayah Alex sebenarnya tidak ingin merahasiakan sesuatu pada semua orang yang berada disini.


"Jadi apa aku boleh menikahi anakmu?" ucap Zevan pada intinya yang membuat semua orang melihat kearahnya.


Ayah dan ibu Zevan awalnya berpikir bahwa anaknya akan terlibat dalam balas dendam Zevan lebih jauh. Ternyata itu semua bukan hanya kemungkinan, melainkan sebuah kenyataan yang bahkan lebih dari apa yang mereka pikirkan.


"Apa yang kau bicarakan?"


Seseorang yang baru saja membuka matanya memotong ucapan Zevan. Alex bangun dari tidurnya dengan tubuh yang jauh lebih baik dari sebelumnya, karena energi yang ditransferkan orang tua nya. Sebenarnya dia sudah terbangun karena terganggu oleh pertengkaran kedua orangtua nya.


Namun, dia berpura pura seolah belum bangun, dan terus memejamkan matanya. Hingga sebuah pernyataan terdengar ditelinganya yang sama sekali tidak dia inginkan.


Dia menatap tajam lawan bicaranya itu. Dengan tatapan Alex yang tajam tak membuat Zevan goyah. Dia malah balik menatap Alex dengan dalam tepat dimatanya.