
Di Kamarnya, Nathan perlahan membuka matanya setelah berjam jam tidak sadarkan diri. Pandangan mata Nathan kini lebih tajam seperti pertama kali Andrew melihatnya.
Pandangan itu sama seperti saat Nathan tiba tiba bangun dari peti mati dan berdiri dibelakang andrew. Clara dan Dion segera berlutut pada Nathan.
"Yang mulia." Ucap mereka bersama yang membuat Andrew terkejut.
Mereka terus memanggil Nathan dengan sebutan yang mulia karena Nathan adalah tuan mereka. Nathan adalah kaisar Zevan yang selama ini mereka cari. Ternyata peti mati yang hilang itu dibawa oleh ibu Andrew untuk membangkitkan Nathan. Dan menjadikan darah Andrew sebagai kunci pembuka peti itu.
Melihat kebingungan Andrew, Nathan yang ternyata kaisar Zevan segera menjelaskannya pada Andrew. Ingatannya kini kembali dan mengetahui jati dirinya yang asli. Dia menjelaskan pada Andrew siapa dirinya dan siapa dua orang yang terus memanggilnya yang mulia.
Awalnya Andrew hanya tahu bahwa yang menolongnya adalah dua orang yang cukup terkenal. Clara yang seorang model dan Dion yang sebagai fotografer pribadi Clara.
Namun siapa sangka bahwa mereka sebenarnya bukanlah manusia biasa, mereka adalah Vampire pengikut setia dari kaisar Zevan. Dan saudaranya yang tampan Nathan, ternyata adalah seorang kaisar vampire yang kuat.
Kaisar Zevan yang sudah menjelaskan semuanya, mengucapkan terimakasih pada Andrew dan pada ibunya. Ia akan tetap menganggap Andrew sebagai saudaranya, meski dirinya sudah mengingat jati dirinya.
Namun setelah bangun dari pingsan nya dia tidak melihat dimana keberadaan ibu Andrew. Dan dia tidak mengerti alasan kenapa Andrew menangis memanggil ibunya dengan memegang jubah miliknya.
Cukup lama Andrew terdiam dan akhirnya dia menjelaskan bahwa ibunya sudah tidak ada. Air mata Andrew yang sudah mengering kini kembali turun saat dia menjelaskan tentang ibunya.
Zevan yang sudah berhari hari menjadi anak dan saudara dari Andrew juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Meski dia tidak menangis seperti Andrew, mata tajamnya perlahan sayu sembari menatap kosong kedepan.
Clara dan Dion yang berada ditengah mereka juga tidak bisa tidak merasa sedih. Karena belum sempat mereka berterimakasih pada ibu Andrew yang telah membangkitkan tuan mereka. Suasana disekitar rumah mereka kini tampak mencekam dengan kesedihan disekitarnya.
Penghuni rumah lain yang sempat mendengar adanya ledakan tidak berani mendekat. Karena mereka tahu ledakan apa itu. Ledakan yang berasal dari seseorang yang mengorbankan jiwanya untuk mengalahkan sosok yang jauh lebih kuat dibanding orang itu.
Pada awalnya mereka mengira bahwa pengorbanan jiwa hanya mitos belaka di kaum vampire. Mereka hanya mendengar cerita cerita kaum vampire yang sekarang jarang terlihat didepan mereka. Tidak sembarang orang bisa mengorbankan jiwanya, hanya seseorang yang tahu mantra itu.
Orang itu pastinya bukan hanya mengorbankan jiwanya tapi juga siksaan yang menyakitkan saat membaca mantra itu. Mereka yang sadar itu, hanya mengamati rumah Andrew dari jauh.
Ada juga beberapa yang datang membawakan makanan untuk Andrew dan dua sosok lainnya yang menunggu Nathan yang pingsan.
Saat Nathan bangun dan mengingat siapa dirinya, bulan yang tadinya tertutup oleh awan bersinar dengan terang. Namun beberapa saat kemudian bulan itu merubah cahaya, yang membuat suasana tampak mencekam. Suasana yang mencekam secara tiba tiba, berasal dari orang orang yang berada dirumah Andrew.
Kini tengah malam tiba, Andrew yang sedari tadi menangis terlihat mengantuk. Zevan yang melihat itu diam diam tersenyum.
"Tidurlah, besok kita akan mencari kebenarannya" Ucap zevan pada Andrew dan dijawab anggukan kecil dari Andrew.
Andrew kembali ke kamarnya dan tidur dengan wajah yang masih penuh dengan air mata yang kering. Dua sosok lain yang berada didalam kamar Zevan kini bangun dan menghampiri Zevan.
"Yang mulia Se-se..sebenarnya....." Ucap Dion dengan terbata bata.
Zevan yang mendengar itu berpaling dan menatap Dion. "Lanjutkan." Perintah Zevan yang tidak bisa dibantah oleh Dion maupun Clara.
"Se-sebenarnya wanita yang menyelamatkan yang mulia menggunakan.....sihir terlarang." Ucap Dion yang membuat pandangan Zevan kini lebih tajam.
"Siapa dia" Lirih Zevan yang tampak berpikir sembari melirik kearah jendela di kamarnya.
Tiba tiba, dari arah pintu berdiri satu sosok yang menolong Zevan dari cengkraman dua sosok jahat itu. Sosok itu yang tadinya memakai jubah abu abu, kini memakai pakaian biasa dan memperlihatkan wajah yang tampan. Wajah itu mirip dengan wajah yang dikenal oleh Zevan.
"Ayahku." Ucap sosok itu sembari menahan air matanya yang siap turun kapan saja.
"Ka....kau?" Zevan yang belum menyelesaikan kalimatnya dipotong oleh ucapan sosok itu.
"Benar yang mulia, orang itu adalah ayahku.....ayahku. Dia yang selalu mengagumimu." Ucap sosok itu yang sudah tidak bisa menahan air matanya.
"Dia......yang mengagumimu sebagai paman yang baik, dia.....yang bertahan hidup hanya demi menyelamatkan pamannya itu. Meski dia hidup dan berkeluarga, dia tidak pernah merasa bahagia karena kebahagiaannya tidak bisa bersamanya. Dia percaya pada pamannya itu, bahwa dia bukanlah penjahat apalagi penghianat.
Saat dia lari dari para vampire pemberontak, ibunya menyuruhnya untuk pergi ke kamarmu dan mengambil sebuah buku. Ibunya saat itu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan anak satu satunya.
Puluhan tahun berlalu untuk mempelajari buku itu dan, hingga dirinya bisa menggunakan sihir terlarang. Saat dia sudah bisa menggunakan sihir itu, dia berusaha membangkitkan pamannya itu.
Namun kekuatannya yang tidak sehebat milik pamannya hanya bisa mengeluarkan peti mati milik pamannya. Saat peti mati itu berhasil diangkat, tiba tiba ada dua sosok yang datang dan menyerangnya. Dua sosok itu tidak mau orang yang berada didalam peti mati itu bangkit, karena itu mereka membawa ayahku.
Setelah mereka pergi ada sosok lain yang sedari tadi bersembunyi dibalik pohon, sosok itu adalah orang yang dicintai ayahku. Dia memiliki sumpah dengan ayahku sebagai bawahannya selamanya sebelum mereka saling mencintai.
Karena sumpah yang diucapkannya, membuat mereka tidak bisa bersama. Setelah bertahun tahun lamanya mereka tidak bertemu dan akhirnya mereka bertemu kembali. Keadaan sudah tidak seperti dulu dimana sekarang, suami wanita itu sudah pergi meninggal dunia dan wanita itu datang ke ayahku untuk mengucapkan satu sumpah lagi.
Dia bersumpah bahwa akan menyelamatkan paman ayahku bersama sama dan jika mereka mati akan selalu bersama. Bahkan aku sebagai anak saja tidak bisa membantunya, namun wanita itu berani mati demi membantu ayahku...." Sambung sosok itu yang mengejutkan semua orang yang berada didalam kamar itu. Mereka akhirnya tahu kebenarannya.
"Ternyata ibu Andrew adalah orang yang dicintai Melvin.....Andai aku tahu itu sebelumnya aku tidak akan membiarkan mereka mengorbankan jiwa mereka demi ku." Ucap Zevan merasa bersalah.
Dia hanya berpikir, andai jika dia tidak terlalu dalam meninggalkan kepercayaan keponakannya pada dirinya. Mungkin saja keponakannya itu akan bahagia dengan orang yang ia cintai.
Melvin adalah keponakan satu satunya, dan anak dari kakak kandungnya. Yang berdiri didepan pintu itu benar benar mirip dengan Melvin keponakannya.
"Tidak yang mulia, jika ayahku tidak percaya pada yang mulia mungkin saja dia sudah mati sebelum ini. Bukankah kata ayah, dulu dia hanya seorang pengecut?" Ucap sosok itu yang ternyata adalah anak dari Melvin.
Zevan yang mendengar itu menghampirinya dan memeluknya. "Tidak perlu formal dengan kakekmu ini. Mulai sekarang panggil saja dengan nama Nathan, karena aku sekarang bukanlah kaisar vampire lagi. Kekuatanku masih tersegel dan membutuhkan waktu untuk membuka segel itu. Segel ingatanku dibuka paksa oleh ibu Andrew dan ayahmu karena itu aku ingin melihat kalian bahagia." Ucap Zevan dengan penuh wibawa.
"Siapa namamu?" Ucap Zevan pada cucunya ini.
"Kevin, bolehkah aku tetap memanggilmu kakek?" Ucap Kevin yang membuat Zevan terkejut.
Meski Zevan memanglah paman dari Melvin dan kakek dari Kevin dia merasa aneh jika dipanggil kakek oleh cucunya ini. Saat dia dibunuh oleh si penghianat dia baru berusia 20 tahun dan sudah menjadi kaisar. Karena itu saat dirinya dipanggil kakek terdengar aneh di telinganya.
"Aku memanglah kakekmu, tapi apa bisa kau tidak memanggilku kakek? Memangnya aku setua itu?" Ucap Zevan yang berusaha mencairkan suasana.
***
...Dari sini kita belajar bahwa cinta bisa membawa luka dan derita.Tapi, akan ada waktunya kebahagiaan muncul diwaktu yang tepat....