
Sepulang sekolah seperti biasanya, Mega akan mengajak kedua temannya Bulan dan Bintang berkumpul dirumahnya. Bulan berpenampilan cantik dengan rambut ikalnya tergerai bebas.
Sedangkan Bintang mengikat rambutnya menjadi dua dengan mengenakan aksesoris yang membuatnya seperti bintang kampus, seperti namanya.
Bulan adalah sepupu dari Bintang, dan mereka juga merupakan putri dari lembah mimpi. Karena mereka lahir sebagai putri di lembah mimpi, sudah sejak lama mereka mendengar tentang cerita permata dalam lembah.
Sebenarnya permata yang dimaksud bukanlah barang yang berharga, tetapi terlalu berharga. Permata itu adalah seseorang yang sangat cantik yang lahir sebagai putri di lembah mimpi.
Sosok cantik itu begitu lugu dan polos, tapi siapa sangka bahwa Kaisar Vampire yang dulu tertarik padanya dan menjadikannya seorang permaisuri.
Seperti putri duyung lainnya di dunia ini, Mega juga tidak akan bisa terlalu lama jauh dari air. Karena itu rumahnya mempunyai kolam renang yang berada tepat disamping kamarnya.
Kedua orang tua mati sejak Mega masih kecil karena itulah mereka tidak berada dirumah. Karena itu, dia selalu mengajak Bulan dan Bintang kerumahnya untuk sekedar berbincang dan menemaninya.
Saat tiba dirumahnya, Mega segera pergi ke kolam renang disamping kamarnya. Dia duduk ditepi kolam dan mengucapkan mantra, perlahan kakinya yang putih berubah menjadi ekor berwarna Merah menawan.
Seekor mermaid yang cantik dengan ekor merahnya berenang didalam kolam seorang diri dengan ditemani kedua temannya dan duduk ditepi kolam.
"Mega-Bolehkah kita menginap disini?" Tanya Bulan pada Mega yang masih berada di kolam.
Mega yang mendengar ucapan Bulan yang terdengar tidak terlalu jelas, memutuskan menepi dan menghampirinya. "Apa yang tadi kau katakan?" Mega bertanya pada Bulan yang entah sejak kapan sedang memakan sebungkus camilan.
"Bolehkan kita menginap disini malam ini? Lagian sebentar lagi malam, bukankah kau teman yang baik?" Ulang Bulan dengan sedikit tambahan kata untuk membujuk Mega.
"Ada apa denganmu? Jika ingin menginap, menginap saja lah..... Tapi......" Ucap Mega menggantung dan tersenyum penuh makna.
"Baiklah baik, ini tentang Nathan lagi kan?" Ucap Bintang yang sedari tadi diam sibuk menata gaya rambutnya. Mega yang mendengarnya mengangguk dengan bahagia.
Bulan yang baru sadar menghela napas panjangnya. "Kapan kamu akan menyerah sih? Tidak kah kamu pikir, mungkin saja Nathan sudah mempunyai pasangannya sendiri. Lagian kita sama sekali tidak tahu latar belakang Nathan bukan?." Bulan menjelaskan pada temannya agar tidak terlalu mengharapkan apa yang tidak mungkin.
"Memangnya, apa salahnya mengejar Nathan hah? dan tahu dari mana bahwa Nathan sudah mempunyai pasangan? Lagian di kampus Mega adalah salah satu sosok yang dikagumi banyak pria, untuk apa Nathan menolak?" Ucap Bintang tidak setuju dengan pendapat Bulan.
"Tapi ucapan Bulan ada benarnya sih, untuk mencegahnya.....Bagaimana, kalau kamu segera menjadikannya pacar?" Saran Bintang pada Mega yang diam mendengarkan saran saran dari teman temannya.
"Hmmm.....Kurasa Bintang benar, jika Nathan tidak menjadikanku kekasih kenapa bukan aku yang maju lebih dulu ?" Mega tertawa kecil sembari membayangkan wajah tampan Nathan.
Bintang menatap bulan dan tersenyum penuh arti, lain dengan bulan yang hanya menghela napas kasar dan tidak membalas senyum sepupunya. Bulan lebih memilih menghabiskan camilannya yang ia ambil dari lemari es milik Mega.
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Didalam mansion nya, Clara yang sibuk dengan pekerjaan normalnya terganggu. Clara memiliki wajah cantik yang mendukungnya bekerja sebagai model. Karena Clara tidak bisa terus keluar dan meninggalkan mansion, dia bekerja dibantu oleh Dion. Dion disana sebagai fotografer yang membantu model terkenal.
Tiba tiba aroma wangi yang akrab menyusup kehidung mereka. Aroma itu sudah hilang lebih dari 100 tahun lalu. Karena itu mereka segera mencari dimana keberadaan aroma itu berasal. Mereka pergi masih dengan pakaian yang tadi mereka pakai untuk bekerja, dan pergi menyusuri hutan.
Baru saja mereka sampai dijalan yang sepi, mereka menemukan dua orang yang tergelatak tak berdaya. Dua orang itu adalah sosok berjubah abu abu yang terluka parah dan Andrew yang pingsan.
Clara dan Dion yang melihat mereka segera menyelamatkan mereka dan membawanya pergi dari sana. Mereka membawa dua orang itu kedalam Mansion mereka, dan mengobatinya. Sebelum mereka mengobati berjubah sosok abu abu, mereka membuka jubah itu dan memperlihatkan wajah yang pucat.
Saat Dion membukanya dia terkejut dan berkata dengan terbata bata: "Ka-kau..."
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Leo yang kabur bersama Nathan, membawa Nathan jauh dari dua sosok jahat itu. Dia pergi entah kemana, tidak jauh dari kampus. Tadinya dia berpikir untuk pergi membawa Nathan ke kampus, namun dengan luka didahi Nathan, Leo akhirnya membatalkannya. Dia takut jika luka itu yang sudah ia samarkan dengan bau serigala, tercium oleh yang lainnya.
Disepanjang jalan, Nathan terus memberontak pada Leo, dan hampir membuat Leo jatuh. Leo yang geram berhenti sejenak dan memarahi Nathan.
"Diam, atau ku serahkan kau pada dua sosok jahat itu..." Ucap Leo yang membuat Nathan berhenti memberontak dan menurutinya.
Setelah Nathan bertemu dengan dua sosok jahat itu, dia sadar bahwa banyak yang mengincarnya. Entah apa yang dilakukan Nathan sebelum ingatannya hilang yang membuat dua orang itu ingin membunuh Nathan.
Leo menemukan sebuah rumah terpencil dipinggiran sungai : 'Mungkinkah, rumah itu milik mermaid?' Pikir leo yang membawa Nathan.
Mereka berjalan perlahan kearah rumah itu. Leo berusaha mengetuk pintu rumah dan memanggil pemilik rumah.
"Tok-tok-tok permisi..... Apakah ada orang didalam ?" Ucap Leo pada pemilik rumah yang tidak diketahui. Cukup lama dia berdiri didepan pintu rumah sebelum satu sosok yang dikenalnya keluar dari rumah itu.
Dirumah belakang mereka, Alex dan Arga melatih kemampuan mereka. Rumah yang mereka tinggali berada dipinggir sungai dan cukup jauh dari rumah lainnya. Alex sengaja memilih rumah ini karena, suasana seperti inilah yang disukai Alex.
Arga yang masih melatih kemampuannya, duduk bersila diatas sungai. Tiba tiba dirinya jatuh ketengah sungai, dan membuat dirinya basah kuyup. Arga yang sudah bisa mengendalikan dirinya, keluar dari sungai dan menghampiri Alex. Alex disana sedang duduk dan menertawakan Arga yang basah kuyup.
"Apa yang kau tertawakan bodoh." Kesal Arga pada Alex.
"Ada apa denganmu hah? Hahaha.....hahaha...." Jawab Alex yang masih menertawakan kakak sepupunya ini.
Biasanya Arga selalu sempurna jika ingin menggunakan kemampuannya. Tidak seperti dirinya yang tidak bisa terus menggunakan kemampuannya. Karena itu akan menguras banyak energi yang dimilikinya, jika terus menerus digunakan akan membuatnya koma.
Sebagai gantinya dia bisa menggunakan kekuatan yang dimiliknya, tapi tidak dimiliki oleh Arga. Arga tidak mempunyai kekuatan apapun, karena dia bukanlah keturunan murni. Dia hanya memiliki kemampuan yang diturunkan oleh ibunya.
Tadinya Arga ingin membalas Alex, tapi tiba tiba dia tampak berpikir dan duduk disamping Alex. Alex yang melihat Arga yang masih basah kuyup, tiba tiba merubah ekspresi marahnya menjadi serius segera menghentikan tawanya.
"Kenapa?" Tanya Alex pada Arga disampingnya.
"Aku mendengar bisikan lagi kau tau, entah kenapa bisikan itu yang membuatku hilang kendali" Ucap arga frustasi.
"Apa dia disini? Bukankah kau hanya mendengar bisikan jika itu dia?" Jawab Alex yang membuat raut wajah Arga segera berubah.
"Si....siapa..yang kau maksud?" Jawab Arga gugup dan meninggalkan Alex sendirian.
Sebagai adik sepupunya yang sudah tinggal bersama bertahun tahun pastilah mengenalnya dengan baik. Alex menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arga yang lucu saat dirinya gugup.
'Sebenarnya, itu karma untukmu atau berkah sih ?' Pikir Alex dalam hati.
Mungkin sudah saatnya bagi Arga menemukan tempat untuk berteduh dari derasnya hujan, agar tidak menjadikan makanan nomor satu dalam hidupnya lagi. Setidaknya menghemat pengeluaran yang dikeluarkan Arga setiap kali makan.
Di kamarnya, Arga masih tetap memikirkan dia, dia yang entah sejak kapan masuk kedalam dunia Arga.
'Apa aku mendapat karma karena menertawakan Alex?' Pikir Arga sembari melemparkan handuknya.