
___
*****
Tidak ada cara lain yang harus dilakukan Zevan selain menikahi Alex. Karena itu kedua pengikutnya berusaha menenangkan Zevan untuk berpikir jernih dan memutuskan keputusannya.
Zevan dan Andrew seharusnya pindah sore tadi, karena kemarahan Zevan yang tiba tiba membuat mereka terpaksa pindah kemansion disaat tengah malam.
Tidak ada barang lain yang dibawa mereka selain buku buku penting dan barang milik Andrew dan ibunya. Andrew tidak terlalu banyak membawa barangnya, karena dia pikir itu tidak terlalu penting.
***
Tibanya mereka dimansion, Zevan menyuruh Andrew untuk beristirahat disalah satu kamar disana. Andrew tidak mengerti apa yang membuat Zevan marah, hanya berusaha tidak mencampuri urusannya.
Kevin yang tertidur, terganggu oleh aura kuat yang membuatnya semakin terluka dan lemah. Dia berusaha bangkit dan keluar dari kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Kevin melihat kakeknya dengan wajah marah, dan dua sosok lain yang kebingungan. Dia tidak melihat sama sekali Andrew disana, dan Clara berkata bahwa Zevan menyuruhnya untuk tidur lebih dulu.
Kevin melihat ada yang aneh dari kakeknya saat ini, bukan hanya auranya yang menyeramkan tetapi juga lebih kuat dari sebelumnya.
Dia terus menatap wajah kakeknya dengan pandangan berpikir. Cukup lama dia menatap Zevan, sampai dia memutuskan untuk berhenti menatap dan menghampiri kakeknya.
"Kupikir auramu lebih kuat kakek" Ucap yang membuat Zevan sedikit terkejut.
Memang sejak dia marah siang tadi, aura yang dikeluarkannya cukup berbeda bahkan menurut dirinya sendiri.
"A...a..apa mungkin segel kakek pecah" Sambung Kevin yang membuat semua orang terkejut, termasuk Dion dan Clara.
Yang mereka tahu jika segel itu akan pecah dengan sendirinya, namun akan membutuhkan waktu cukup lama dan itu terjadi secara perlahan.
Zevan yang mendengarnya, menatap serius kearah kevin. 'Apa mungkin ini karena Alex?' Ucapnya dalam hati.
Jika benar apa yang dipikirkannya adalah kebenaran kemungkinan Alex hanya ingin menolongnya tidak menginginkan apa apa darinya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menerima semua ini dengan cepat, dia membutuhkan waktu.
Dan anehnya saat dirinya tahu bahwa Alex hanya sekedar menolongnya, perasaan sakit entah dari mana muncul dihatinya. Dia hanya mengabaikannya dan pergi kedalam kamarnya dirumahnya sendiri.
_________
Tiga hari berlalu sejak hari itu, dan Zevan belum juga memutuskan keputusannya. Beberapa hari ini dia sudah memikirkan semuanya, dan berusaha menerimanya.
Namun sejak saat itu dia tidak pernah bertemu dengan Alex dikampus. Pagi ini dia yang sudah berangkat bersama Andrew segera pergi ke kelas Leo yang ia tahu jika Arga juga berada dikelas yang sama.
Andrew yang tadinya tidak tahu apa yang terjadi, kini sudah mengetahui semuanya saat teman temannya menceritakan keesokan harinya. Andrew tidak pernah berpikir kejadian itu akan terjadi saat dirinya tidak ada disisi Zevan.
Dia sedikit menyesal karena saat itu dia tidak bisa melakukan apa apa, karena dia berada dirumah untuk menenangkan dirinya dari kesedihan.
Dia juga khawatir tentang perasaan Mega yang juga melihat dengan matanya sendiri. Kini, perlahan keadaan Mega mulai membaik dengan adanya teman temannya yang selalu mendukungnya. Andrew yang dulunya tidak berani mendekati Mega, kini mulai perlahan menghiburnya dengan selalu adanya dirinya disisi Mega.
Dilorong sepi Zevan bertemu dengan Leo dan teman temannya. Mereka memanggil Zevan dan menanyakan kemana Zevan akan pergi. Zevan menanyakan keberadan Arga pada mereka, dan dijawab oleh Leo.
"Kurasa kau tidak usah mencarinya lagi, lihat disana.....Dia sibuk dengan pelacur" Ucap Leo sembari menunjuk kearah dimana Arga duduk didepan sana bersama Anna.
Zevan mengikuti kearah yang ditunjuk Leo dan pergi menghampiri Arga tanpa mengucapkan terimakasih pada Leo dan teman temannya.
"Bukannya terimakasih malah pergi tanpa pamit, dia itu makhluk hidup atau jalangkung sih?đź’˘"
Leo mengeluh pada teman temannya, karena sikap Zevan yang pergi begitu saja. ketiga temannya hanya tertawa dan tidak menjawabnya.
***
Arga yang sudah beberapa hari tidak ditemani Alex, terus diikuti oleh Anna. Penyihir cantik itu terus mengikuti Arga diwaktu senggangnya, meski Arga terus menerus mengusirnya. Anna sudah mengejar Arga sejak dia bertemu Arga lima tahun yang lalu, disaat Arga masih berusia lima belas tahun.
Meski Anna dan Arga terpaut jauh sekitar lima tahun, tidak membuat Anna berhenti mengejar Arga. Entah apa yang membuat Anna begitu tertarik pada Arga, tidak seperti yang lainnya.
Mungkin karena Anna saat itu, bertemu Arga disaat Arga dikejar oleh teman sekelasnya. Saat itu Arga berlari tanpa mempedulikan sekitar, tepat saat itu Arga bertemu dengan Anna dan tidak sengaja menabraknya.
Arga menabrak Anna yang dan membuat kalung yang seharusnya ia pakai untuk melindungi pesonanya jatuh. Disaat itulah Anna melihat seseorang yang begitu membuatnya terpikat didepan matanya.
Arga jengah dengan hari damainya yang diganggu oleh penyihir ini, tidak menanggapi sama sekali apa yang dikatakan Anna.
Sampai dirinya akhirnya terselamatkan saat sosok lain datang didepannya. Dia kira sosok yang datang itu akan menjadi penyelamatnya, tapi ternyata itu semua hanya pikirannya.
Zevan berdiri didepannya dan menatapnya. "Dimana dia....?" tanya Zevan pada Arga yang membuat Arga sedikit tersinggung.
Dia tahu siapa yang dimaksud Zevan, siapa lagi jika bukan Alex yang sudah mencium Zevan tiga hari lalu. Arga tahu jika alex mencium Zevan secara tiba tiba yang membuat Zevan marah, tapi itu semua juga bukan kesalahan Alex sepenuhnya.
Adik sepupunya itu, hanya ingin menyelesaikan semua urusannya untuk membantu Zevan dengan cepat. Tapi entah apa yang terjadi hingga membuat tubuh Alex melemah secara perlahan.
Arga menyuruh Anna pergi meninggalkannya untuk berbicara dengan Zevan. Awalnya anna keberatan,namun saat tatapan arga berubah serius anna sadar bahwa dia tidak bisa lagi ikut campur urusannya. Zevan duduk disamping Arga dan menanyakan kembali dimana keberadaan Alex padanya.
"Memangnya apa yang kau pedulikan tentang dia hah? Kau mencarinya hanya ingin marah pada nya kan?" ucap Arga dengan sinis.
"Kau tahu, tidak perlu repot mencari adikku lagi. Dia sudah selesai dengan urusannya disini, untuk menemukanmu dan membuka segel kekuatanmuđź’˘......Lalu apa lagi yang kau mau hah?" Sambung Arga sembari menatap tajam pada lawan bicaranya.
"Jadi benar karena dia kekuatanku kembali sebelum waktunya? Tapi apa kau tahu tidak akan mudah bagi adikmu untuk meninggalkanku" Arga terkejut dan tidak mengerti apa yang dimaksud Zevan.
"Seharusnya....., aku tidak membiarkannya menciumku saat itu. Jika itu tidak terjadi mungkin kau dan adikmu tidak akan berurusan denganku selamanya. Jika kau ingin tahu kebenarannya bawa aku pada adikmu".
Zevan melembutkan nada suaranya di akhir kalimat, karena dia juga ingin menyelesaikan apa yang terlanjur dimulai.
"Baik jika itu yang kau mau, tapi ingat untuk tidak macam macam denganku" Ancam Arga sebelum pergi meninggalkan Zevan.
'Sebenarnya ada apa dengan semua ini' pikir Arga disaat dia sudah menjauh dari Zevan. Keadaan Alex terus memburuk, namun aura pekat yang tidak dikenal Arga perlahan terus bertambah disekitar Alex.
Arga sebagai orang terdekatnya saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga keadaan Alex menjadi seperti itu. Dia pikir mungkin ini semua masih berhubungan dengan Zevan, tapi dia tidak bisa meminta Zevan memeriksa Alex begitu saja. Arga takut jika Zevan masih memendam rasa bencinya Pada Alex yang membuat nyawa Alex terancam.
Namun bagaimanapun dia berpikir, tidak ada cara lain selain menyetujui Zevan untuk menemui Alex. Karena jika dia memberitahu ibunya, dia takut ibunya akan marah besar dan bertindak ceroboh.
Hal itulah yang membuat Arga diam dan terus merawat Alex dirumah tanpa diketahui oleh ibunya keadaan Alex sebenarnya.