
Zevan yang berada dikelasnya, setelah kejadian ditaman masih merasa marah pada Alex. Bahkan saat jam kelas selanjutnya, Zevan sama sekali tidak memperhatikan apa yang diajarkan didepan sana.
Begitu juga teman temannya dan yang lainnya yang melihat didepan mata mereka sendiri Alex yang mencium Zevan. Mereka tidak bisa mengabaikan begitu saja kejadian itu dan tidak bisa fokus pada jam kelas selanjutnya.
Seperti Mark yang duduk tepat disebelah Arga yang juga melihat semua itu. Karena kedekatan Arga dan Alex yang membuat Mark tidak bisa mengabaikannya. Mark merasa aneh, dan malu dihatinya karna baru kali ini dia melihat seorang pria yang mencium pria lain didepan matanya.
Sedangkan Pure sendiri hanya berusaha mengabaikan semuanya dengan bermain game diam diam dikelas. Teman mereka, Leo terus menatap lurus kedepan seolah memperhatikan kelas.
Leo berpikir, sebenarnya apa yang membuat Zevan begitu marah hingga mengeluarkan aura kuat miliknya. Dia sendiri tahu Zevan sebenarnya berusaha menyembunyikan identitas aslinya sejak pagi tadi.
Vino yang berada dikelas Zevan terus menatap ekspresi diwajah Zevan. Dari awal Vino tidak tahu sama sekali apa yang dibicarakan teman temannya tentang keanehan Arga.
Tapi disaat dia melihat kejadian Alex dan Zevan, dia setuju dengan pendapat teman temannya. Bahwa Arga memang mahasiswa baru yang sangat aneh.
Arga melihat Alex yang dekat dengannya mencium Zevan hanya diam. Tidak ada ekspresi kaget diwajah Arga, hanya ekspresi takut seperti kehilangan sesuatu dihidupnya saat Alex tiba tiba melemah.
Mega yang sudah tidak menangis hanya menatap sedih kearah Zevan. Dan kedua temannya, Bulan dan Bintang juga tidak bisa membantu Mega selain berusaha mengabaikannya dan menenangkan teman mereka.
Saat mereka melihat kemarahan Zevan ditaman, membuat mereka tidak berani terus mendekatkan Mega dengan Zevan. Karena mereka tahu jika identitas Zevan tidak bisa diremehkan, begitu juga Mega yang berusaha tidak mengharapkan Zevan lagi.
Niat awal mereka melihat Mega mengungkapkan perasaannya pada Nathan hari ini berakhir seperti ini. Tapi mereka bersyukur Mega tidak bertindak gegabah saat itu. Jika dia sedikit saja menyinggung Nathan, kemungkinan Nathan bisa menghancurkan Mega dan teman temannya.
Ella dan sikembar tidak bisa fokus pada kelas mereka, karena masih memikirkan Zevan yang tidak bisa ditenangkan oleh mereka. Ella tahu sekarang bahwa Zevan benar benar bahaya jika dia marah.
Dan Ivo yang pernah membaca sebuah buku tentang kehidupan kaisar vampire diam diam memendam pikirannya. Ivo tahu apa yang membuat zevan begitu marah pada Alex, karena itu dia memilih diam dan memberitahu teman temannya saat pulang nanti.
Sedangkan adiknya Evo yang biasanya berisik hanya diam sampai jam kelas berakhir.
________
Saat pulang dari kampus, Ivo menghampiri Ella untuk memberitahu sesuatu yang sangat penting padanya. Dia mengajak Ella pergi dari area kampus terlebih dahulu dan diikuti juga Evo adiknya.
Mereka berada dihalte bus yang sepi dan ekspresi wajah Ivo seketika berubah serius memandang Ella dan Evo bergantian.
"Se...se...sebenarnya...."
Ivo ragu memberitahu mereka langsung menghentikan ucapannya.
"Apa yang akan kau katakan Iv, katakan saja" Ucap Ella yang dibuat penasaran oleh temannya ini.
"Kalian tahu, kenapa Zevan begitu marah pada Alex?" Tanya Ivo yang membuat keduanya menggelengkan kepala mereka.
"Bukankah karena seorang laki laki menciumnya?" Ucap Evo yang sedari tadi diam.
"Mmm.....Aku tidak terlalu yakin tentang apa yang aku baca, tapi sebenarnya--Zevan marah karena alex telah membuatnya melanggar sumpahnya" Ucap Ivo pada mereka.
Ella masih tidak mengerti apa yang dibicarakan Ivo hanya memasang wajah bingungnya.
"Sumpah yang berisi: 'Siapapun yang mengambil kesucian dari bibirku akan menikah denganku dan menjadi pendampingku selama orang itu hidup' Itulah yang diucapkan Zevan yang tertulis disebuah buku.
Buku itu adalah buku yang diberikan oleh ayah untuk aku baca, buku itu berisi tentang kehidupan kaisar Zevan yang ditulis olehnya sendiri" Ucapan Ivo yang menjawab wajah bingung Ella.
"A...a....apa? Lalu dari mana ayah mendapatkan buku itu? Dan bagaimana bisa aku sama sekali tidak mengetahui ada buku itu dirumah kita?" Tanya Evo pada kakaknya, karena bagaimana bisa Evo tidak tahu sama sekali tentang buku yang dimaksud oleh Ivo.
"Bukankah kau yang tidak tertarik dengan buku tua itu hm...Kau hanya tertarik pada buku sampahmu itu kan? Dan masalah ayah mendapatkannya darimana, coba tanyakan sendiri saja" Ucap Ivo yang mendapat senyuman lebar dari Evo.
.
_________
.
Sepulangnya Zevan dari kampus, wajahnya terlihat begitu marah dimata Andrew yang membukakan pintu untuk Zevan. Bukan hanya Andrew yang ada disana.
Ada juga kedua pengikut setia Zevan yang membantu Andrew mengemasi barang barangnya. Karena tuan mereka menyuruh mereka agar segera membawa Andrew pindah dari rumah ini.
Zevan datang dengan wajah yang marah, dan tiba tiba menendang barang barang disekitarnya. Andrew yang baru pertama kali melihat kemarahan Zevan bersembunyi dibalik tubuh Dion. Zevan terus melemparkan barang barang disekitarnya untuk melampiaskan semua kemarahannya.
Dion dan Clara yang mengikuti tuan mereka sejak dia masih kecil saja kebingungan dengan kemarahan tuan mereka kali ini.
"Tu...tu....tuan"
Dion yang kebingungan dengan tingkah tuannya, berusaha mengalihkan perhatiannya. Zevan menatap tajam pada Dion dan perlahan menghampirinya.
Dion yang ketakutan berusaha berpikir jernih, Clara yang takut tuan mereka membunuh temannya segera menghentikannya.
"Ma...ma...maafkan...Kami yang mulia...." Ucap clara yang juga ketakutan dengan zevan.Kedua berlutut dan meminta maaf.
"Ze....zevan..." Teriak Andrew ketakutan yang berhasil menghentikan langkah Zevan.
Kini Zevan sadar kemarahannya membuat Andrew yang ia anggap saudara ketakutan hingga tidak berani menampakkan wajah didepannya. Zevan berbalik dan memanggil Clara dan Dion untuk mengikutinya.
Zevan membawa mereka kedalam perpustakaan mini dirumah ini, dan duduk didepan mereka masih dengan amarah yang dia tahan.
"Se.....se......sebenarnya,ada apa......tuan?" Ucap Dion dengan gugup.
Zevan memandang sekilas dan menjawabnya. "Apa aku benar benar harus menikahinya?"
Zevan berusaha menahan amarahnya dengan mengatupkan giginya. Dion yang mendengar jawaban dari tuannya, benar benar terkejut dan tidak bisa lagi menjawabnya.
"Jadi, karena ini tuan begitu marah?"
Tanya Clara yang membuat Zevan melirik tajam kearahnya.
"Memangnya kenapa hah?" Zevan sudah tidak bisa menahan amarahnya dan menghancurkan buku yang dia pegang.
"Ma....ma...maaf....yang mulia....maaf" Clara yang ketakutan berusaha meminta maaf pada Zevan.
"Yang mulia.....tenang, sebenarnya siapa yang maksud?" tanya dion pada Zevan untuk mengalihkan perhatiannya.
"Siapa dia tidak penting bukan? Yang terpenting adalah apa aku harus menikahinya? Walaupun orang itu sama sekali tidak aku cintai hah💢" teriak Zevan yang membuat Dion kebingungan menjawabnya.
"Sumpah itu tidak bisa dibatalkan, tidak ada cara lain selain tuan menikahi orang itu" Ucap clara lirih.
"Aku memang bersumpah seperti itu, karena ingin menjaga kesucianku untuk pengantinku......tapi, pemuda itu yang tidak tahu malu menciumku didepan banyak orang apa aku bisa menerima semua ini hah💢...." Ucapan Zevan kali ini membuat kedua pengikutnya terkejut dan tidak bisa berkata kata.
Sekarang mereka tahu kenapa tuan mereka begitu marah pada kenyataan ini. Bukan hanya karena orang itu tidak dicintai tuan mereka, ataupun karena dia adalah seorang pria.
Melainkan karena Zevan sangat membenci pernikahan yang hanya menguntungkan satu pihak tanpa adanya sebuah cinta.