
Dikamarnya, Dion duduk disamping Kevin yang teridur karena dia harus memulihkan lukanya. Kevin berada dikamar Dion karena menurut Clara jika ada yang menjaganya setiap waktu akan lebih mudah, untuk beberapa hari kedepan.
Kevin dengan wajah tegasnya persis dengan ayahnya, hanya saja ayahnya lebih penyendiri dibandingkan dengan anaknya, kevin. Dion terus menatap wajah kevin yang masih tertidur, wajah Kevin terlihat lebih tampan ketika dia tidur.
Tanpa disadari oleh Dion, Kevin sebenarnya hanya memejamkan matanya dan menyadari jika Dion terus menatap wajahnya. Kevin tidak mau menggangu orang lain dengan membuka matanya dan membuat orang lain malu. Karena itu Kevin terus memejamkan matanya dan menunggu Dion berhenti menatapnya dan pergi dari kamar itu.
"Dion...... Bisakah kau membantu dengan pekerjaan ini💢......" Teriak Clara yang sudah bersiap untuk pemotretan.
Setelah Dion pergi dari kamarnya, Kevin perlahan membuka matanya dan terlihat senyum tipis di wajahnya. Dion yang mendengar teriakan temannya itu segera menghampirinya.
"Bukannya hari ini kamu seharusnya pergi untuk wawancara? Tidak bisakah kita tidak bekerja hari ini?"
Kesal Dion pada Clara, karena bagaimana mungkin mereka terus bekerja tanpa adanya orang lain yang membantu.
"Ini untuk majalah terahir Dion, dan aku akan memberitahu media untuk berhenti bekerja menjadi model karena ingin beristirahat" Ucap Clara dengan aura aslinya, tegas dan berwibawa tidak seperti sebelumnya.
"Baiklah, setelah ini kita hanya fokus pada tuan" Jawab Dion dan mulai membantu Clara untuk pemotretannya.
****
Karena Alex tidak berangkat dan mengikuti kelas dijam pertama dia belum bertemu dengan kakak sepupunya itu sejak dia berangkat.
Saat jam istirahat, Alex segera kekelas Arga untuk mencarinya. Tibanya dikelas dimana kakaknya berada, hanya ada beberapa mahasiswa yang masih berada dikelas.
Alex melihat Arga duduk dibarisan paling belakang bersama tiga mahasiswa lain yang masih enggan meninggalkan tempat duduknya. Alex menghampiri Arga yang tampak aneh, Arga sedikit berbeda wajahnya terlihat lelah.
Pagi ini saat dirinya sedih, Arga terlihat baik baik saja tapi entah apa yang terjadi sampai membuatnya seperti ini.
"Ayo pergi" Ucap Alex pada Arga, sembari menepuk pundaknya sebelum dia pergi mendahului Arga.
Arga hanya menatap Alex dan mengikutinya dari belakang. Mark yang duduk disamping Arga menggunakan kekuatan sihirnya untuk menghentikan langkah Arga, tapi anehnya Arga melangkah seperti tidak terkena sihir apapun.
Mark yang baru pertama kali melihat sihirnya tidak mempengaruhi seseorang diam diam berpikir dan melirik kedua temannya yang memperhatikannya sejak awal.
'Aneh sebenarnya, siapa dia?' Pikir Mark sembari terus memperhatikan Arga yang pergi meninggalkan kelas.
"Kalian juga berpikir seperti apa yang aku pikirkan kan? Tidak memiliki aroma apapun seperti manusia biasa, tapi kalau dia hanya orang biasa bagaimana bisa sihirmu tidak mempan burung hantu? Apa dia salah satu penyihir legendaris kah?" Ucap Pure sembari menatap Leo dan Mark bergantian.
"Sialan siapa yang kau panggil burung hantu bodoh💢" Kesal Mark yang mendengar Pure menyebutnya burung hantu.
"Penyihir legendaris otakmu💢" Sambung Mark sembari menepuk kepala temannya dengan menggunakan buku. Pure yang mendapat pukulan dari Mark hanya menjerit kesakitan, mereka tidak menghiraukan teman mereka yang lain ditengah tengah mereka.
"Diam...Jika kalian ingin tahu ikutilah mereka, setelah kita makan pastinya"
Leo meninggalkan kedua temannya kekantin dan berlari cepat dengan kemampuan alphanya. Mark dan pure yang ditinggal oleh Leo terus menggerutu sebelum mereka mengikutinya pergi.
"Sial.....bodoh......f*ck...." Umpat mereka berdua pada Leo yang sudah jauh meninggalkan mereka.
_____
Setelah membeli makanan mereka, Arga dan Alex memutuskan pergi dan duduk ditempat biasa ditaman belakang dekat gudang. Disana Alex masih memperhatikan tingkah kakak sepupunya yang sepertinya memikirkan sesuatu.
"Apa yang kau pikirkan Ga?" Arga menatap Alex beberapa detik sebelum menjawabnya.
Alex mengerti apa yang dipikirkan Arga sekarang, memang seharusnya Arga tidak bertemu dengan takdirnya untuk sekarang.
Jika bukan karena Arga menemani Alex kesini mungkin Arga tidak akan pernah merasa sakit hati seperti sekarang ini. Bukan karena menyerah pada kenyataan hanya saja Arga tahu apa yang dipikirkan orang lain tentang nya.
Alex berpikir untuk menyelesaikan semua ini secepatnya, dia menarik Arga untuk pergi dari taman itu. Mereka pergi tanpa menghabiskan makanan dan meninggalkan makanan mereka begitu saja.
"Apa yang mau kau lakukan Raven.... " Ucap Arga saat mengetahui bahwa Alex membawanya ke taman didekat kantin.
Alex memandang lurus kedepan dimana terdapat empat sosok yang sedang, duduk dibawah pohon jauh didepan sana. Arga melirik Alex dan mengikuti pandangannya.
Didepan sana hanya ada satu sosok yang ia kenal yaitu Nathan, alasan mereka untuk datang kesini. Setelah Arga melihat apa yang dilihat oleh Alex, dia tahu apa yang akan dilakukan oleh adik sialannya ini.
"Apa yang akan kau lakukan hah💢?"
Arga berusaha menghentikan rencana Alex sekarang ini. Tapi gagal, Alex melepaskan tangan Arga yang mencegahnya dan Alex perlahan melangkah pergi menghampiri Nathan dan teman temannya itu.
..........¤¤¤.........
Saat istirahat, Nathan tidak ada pilihan kain selain menghampiri teman temannya. Tanpa Andrew, dikelas Nathan akan selalu diganggu oleh pengagum pengagumnya bahkan saat jam kelas berlangsung.
Dia berada ditaman biasa dengan Ella dan sikembar. Awalnya mereka heran dimana andrew, tidak biasanya dia tidak berada disisi Nathan sejak Nathan pindah kekampusnya.
Nathan menjelaskan pada mereka bahwa Andrew masih bersedih atas kehilangan ibunya. Dan dia menjelaskan siapa sebenarnya dirinya pada mereka.
Tidak ada pilihan lain bagi Ella dan sikembar selain terkejut dengan identitas nathan yang asli. Ivo dan Evo langsung minta maaf.
"Maaf yang mulia" Ucap mereka pada Nathan dengan posisi kepala menunduk.
Sikembar adalah keturunan vampire dan manusia karena itu mereka tahu siapa yang berada didepan mereka ini.
"Ada apa dengan kalian, siapapun kalian tetap saja kalian adalah temanku. Terlepas dari siapa aku sebenarnya" tegas Nathan pada sikembar dan dipatuhi oleh mereka.
Awalnya mereka sedikit khawatir dengan ucapan Nathan, tapi mereka tidak bisa menolaknya begitu saja. Mereka juga merasa sedih dengan kepergian ibu Andrew yang begitu baik pada mereka.
"Jadi kekuatanmu masih tersegel?" Ucap Ella yang memecahkan suasana canggung disana.
Karena Ella hanya manusia biasa yang tidak mengerti mereka. Tidak mempedulikannya dan tetap menganggap Zevan seperti Nathan yang dulu.
"Mmm....Memang seharusnya segel kekuatan dan ingatanku akan kembali secara bersamaan. Namun karena suasana yang mendesak dan pengorbanan ibu yang memaksa segel ingatan terpaksa terbuka.
Jadi aku sendiri harus menunggu sampai hari dimana segel itu pecah dengan sendirinya, tapi itu tidak menjamin mereka tidak menyerangku lagi. Jika mereka menyerangku disaat kekuatanku tersegel kemungkinan aku akan mati kembali di tangan mereka" Ucap serius Zevan pada teman temannya dan menatap mereka secara bergantian.
Saat mereka sedang mengobrol tiba tiba ada dua sosok yang menghampiri mereka, yaitu Alex dan Arga. Zevan yang melihat kehadiran orang yang mencurigakan dimatanya, segera berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam kearah mereka.
"Apa yang kalian mau?" Ucap Zevan dengan sengit. Arga yang takut jika adik sepupunya nekat segera menggegam tangannya dan membisikan sesuatu ditelinga Alex.
"Sebaiknya kita pergi Lex....Tidak kah kau melihat sekeliling taman hah......Banyak yang memperhatikan kita" Bujuk Arga pada Alex agar tidak nekat untuk sekarang ini.
"Jika kau tidak yakin, tenanglah......Kau hanya perlu melihatnya saja" Ucap Alex sembari melepas genggaman tangan kakaknya.