
Kevin yang tadinya bersikap formal perlahan terbiasa dengan sikap Zevan untuk memperlakukannya seperti temannya. Meski kakeknya itu menyuruhnya untuk bersikap layaknya teman tapi Kevin menolaknya dan memohon pada Zevan setidaknya dia menjadikan Zevan seperti ayahnya. Zevan yang tidak bisa menolak permintaan Kevin pasrah menyetujuinya.
Cukup lama mereka mengadakan reuni,sampai tidak sadar jam sudah menunjukan pukul 04:00 dini hari. Zevan menyuruh Clara dan Dion kembali ke mansion mereka, dan membawa Kevin yang masih terluka. Saat mereka baru saja ingin pergi Kevin menghentikan mereka.
"Tunggu." Ucapnya sembari melangkah kembali pada Zevan.
"Ayah Zevan, siapa pelaku sebenarnya?" ucap kevin tiba tiba.
Zevan merubah raut wajahnya menjadi kecewa. "Dia adalah......orang yang aku percayai." Ucap Zevan menggantung sebelum melanjutkan ucapannya.
Kevin dan dua pengikut Zevan masih belum mengetahui siapa orang itu, berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh pada zevan. Karena keadaan Kevin yang masih lemah, Clara menyarankan mereka untuk segera meninggalkan rumah ini.
Namun sebelum kepergian mereka, Zevan berpesan pada mereka untuk segera mengurus kepindahannya dengan andrew dari rumah ini.
.......
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Disisi lain, dua sosok jahat yang terluka oleh sihir pengorbanan ibu Andrew terbaring lemah dikamar masing masing. Mereka tidak sempat mengelak karena terkejut, dan membuat diri mereka terluka parah.
Luka luar ditubuh mereka memang bisa sembuh dengan sendirinya, namun mereka bukan hanya menderita luka luar. Ada juga luka dalam yang tidak bisa diabaikan begitu saja, luka itu membutuhkan waktu untuk memulihkannya.
Untuk saat ini mereka tidak ingin berurusan dengan kaisar Zevan, agar tidak membahayakan mereka. Tapi jika mereka tidak segera berurusan dengannya, mereka takut jika segel kekuatan Zevan terlanjur terbuka.
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Sinar matahari menembus jendela kamar Alex, yang membuat dirinya bangun dari mimpi. Mimpi yang ia dapatkan semalam mungkin aneh, dan tidak masuk akal.
Di mimpinya itu, Alex bertemu seorang wanita cantik yang begitu dekat dengannya. Dia merasakan rasa yang tidak pernah dirasakannya sejak dia kecil.
Wanita yang ia panggil 'Ibu' di mimpinya itu, begitu nyata bagi Alex. Namun saat ia bangun Alex tidak menemukan siapapun disampingnya, dan menyadari bahwa itu semua hanya mimpi yang tidak mungkin terjadi.
Ibunya sudah pergi disaat dia dilahirkan, namun ayahnya selalu mengatakan padanya bahwa suatu saat ibunya akan terbangun dan memeluknya. Alex menatap sekeliling dengan linglung, tanpa disadarinya air mata turun dari sudut matanya.
Di kamarnya, Arga merasakan ada yang aneh dengan Alex segera menghampiri kamarnya.
"Alex keluar lah, waktunya kuliah." Ucapnya untuk memanggil Alex keluar.
Alex yang mendengar teriakan Arga, segera membuka pintu kamarnya dan menghampiri kakak sepupunya itu.
"Pergilah lebih dulu, aku akan menenangkan pikiranku dengan meditasi." Ucapnya melewati Arga yang menghalanginya, dan pergi menuju taman belakang rumah.
Disana dia duduk tenang diatas batu sungai, mendengar alam bernyanyi dan melantunkan puisinya.
Arga yang sudah bersiap untuk berangkat, mengintip adiknya lebih dulu sebelum dia berangkat meninggalkannya. Setengah jam berlalu sejak Alex bermeditasi, tapi belum bisa membuatnya benar benar tenang.
Arga yang mengetahui suasana hati Alex, membiarkannya dan tidak berusaha menghiburnya. Karena setiap Alex merindukan ibunya, dia selalu ingin menyatu dengan alam untuk menenangkan hatinya.
Tidak peduli seberapa besar orang lain berusaha menghiburnya, tetap saja Alex masih tidak merasakan tenang dihatinya.
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Namun sebelum kematiannya ayahnya berusaha meraih Zevan dan menyerahkan permata itu padanya.
"Jangan pernah percaya apa yang kau lihat dan dengar saat ini." Ucapnya saat itu sebelum mengambil napas terakhir dan menjadi abu.
Ayahnya saat itu memang mati didepannya, tapi bukan dia yang meracuninya melainkan ada orang lain diruang itu.
Karena pagi ini ia harus berangkat kuliah, dia mengakhiri lamunannya dan pergi ke kamar Andrew. Zevan membuka pintu pelan dan didalam kamar menampilkan sosok yang terbaring damai di ranjangnya.
Andrew tidak bisa tidur tepat waktu karna menangisi ibunya. Karena itu, Zevan menghampiri Andrew dan mengatakan padanya untuk tidak berangkat hari ini.
Andrew yang masih setengah sadar menyetujui saran Alex dan melanjutkan tidurnya. Meski tidurnya tidak nyenyak karena dia selalu memikirkan ibunya, setidaknya dia berharap untuk bermimpinya tentangnya
Di Kampus, Arga yang sudah berangkat berencana keruang dosen untuk mengajukan ijin untuk Alex. Dia tahu pasti Alex membutuhkan waktu lebih menenangkan pikirannya, karna itu dia menemui dosen dan meminta ijin atas nama Alex untuk tidak mengikuti kelas di jam pertama.
Setelah semuanya selesai,dan mengabari Alex untuk tidak berangkat di jam pertama, Arga berencana untuk pergi kekantin. Ditengah jalan dia dihadang oleh sosok yang bahkan tidak mau dia temui untuk saat ini.
Leo yang kemarin baru saja berkunjung kerumah Arga dan Alex semakin penasaran dengan siapa mereka sebenarnya. Keanehan yang terjadi dirumah Andrew, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Leo merasa bahwa Arga dan Alex bukanlah orang biasa.
Karena itu saat dia bersama teman temannya, dia melihat didepan sana ada Arga yang sepertinya ingin pergi kekantin. Dia menghampiri Arga yang berjalan sendirian dan meninggalkan ketiga temannya.
Teman temannya hanya penasaran pada Leo yang tiba tiba menghampiri Arga mahasiswa baru dikelas mereka dan tidak ingin ikut campur. Saat tiba didepan Arga dan menghalangi jalannya, Leo menarik tangan Arga menjauh dan mencari tempat yang sepi.
Arga tahu apa yang akan dilakukan Leo hanya diam dan mengikutinya. Saat tiba dilorong yang sepi Leo melemparkan tangan Arga yang ia tarik dan menatapnya.
"Siapa kau sebenarnya?" Tatapan tajam Leo tidak membuat Arga ketakutan maupun menjawabnya.
Arga tiba tiba tertawa dan membuat Leo semakin geram. "Jawab aku!" Ucap leo dengan kesal dan memukul tembok dibelakang Arga, membuat Arga berhenti tertawa dan memandang Leo dengan diam.
"Tidak ada gunanya ikut campur urusan orang lain bukan?" Ucap Arga yang meninggalkan kesan tajam dan dalam.
Arga mendorong Leo ke tembok dan mengurungnya diantara kedua tangannya. "Semakin kau ikut campur, semakin kau akan menyesal. Mulai sekarang anggap saja kamu tidak pernah mengenalku, kau tahu tanpa kau sadari kau sendiri yang membuat jalanmu sendiri" Sambung Arga sebelum meninggalkan Leo sendiri di lorong itu.
Leo yang baru kali ini mendengar ucapan Arga yang tampak kesal tertegun dan mengabaikan Arga yang sudah jauh meninggalkannya. Tak berapa lama setelah kepergian Arga, Zevan datang menghampiri leo dan menyadarkannya.
"Dia......memang misterius." Lirih Zevan yang masih didengar oleh Leo.
Dia tahu memang, sejak Arga menghampirinya kemarin Arga memang tampak misterius dimatanya. Namun entah kenapa saat dia berusaha mengabaikannya, Leo selalu dibuat penasaran oleh Arga.
Leo yang sudah sadar keberadaan nathan didepannya, segera meliriknya. Nathan hari ini tampak berbeda dari biasanya, pandangan tajamnya kini lebih terlihat.
"Apa maksudmu?" Tanya Leo pada Nathan.
"Bukankah kemarin malam, dia berkata bahwa meski kita selamat belum tentu orang lain selamat?" Ucap Nathan yang mengingat ucapan Arga kemarin.
"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kenapa Andrew terus menangis dan memanggil ibunya?" Leo yang penasaran dengan apa yang terjadi dirumah Andrew.
"Salah satu penyelamatku mati dengan keinginannya sendiri." Ucap Nathan menatap kosong kedepan.
Leo yang mendengarnya menghela napas panjang, dia tidak pernah berpikir bahwa apa yang diucapkan Arga adalah kebenaran.
"Memang aneh, dia tahu sebelum semuanya terjadi. Apa mungkin Arga ada hubungannya dengan dua sosok jahat itu? Dan siapa sebenarnya mereka." Ucap Leo sembari menatap nathan.
"Mereka hanya orang yang membenciku. Ck miris yah, orang yang dulunya aku percayai tapi pada akhirnya... " Ucap Zevan lirih diakhir kalimat.
"Ka..kau...apa ingatanmu kembali? Bagaimana bisa, sejak kapan?" Leo memandang Nathan aneh.
Sejak kemarin dia menolongnya dia sudah sadar bahwa identitas Nathan tidak sesederhana yang ia pikirkan. Kemarin Leo memang takut semakin identitas Nathan menarik, semakin Mega menginginkannya.
Leo sudah berusaha mendekati Mega sejak di tahun Mega masih mahasiswi baru di kampusnya. Namun sekarang tidak peduli siapa Nathan, dan seberapapun Mega menginginkannya dia hanya ingin Mega bahagia.
Karena pada akhirnya perasaan yang dulunya ia rasa adalah cinta kini berubah menjadi sebuah obsesi. Sejak bertemu dengan seseorang yang lain perlahan obsesi itu terkubur.
"Kau akan tahu suatu saat nanti." Ucap Nathan sebelum meninggalkan Leo dibelakangnya.
"Ya iyalah suatu saat nanti memang akan tahu. Tapi, itu kapan bodoh!!!💢......" Kesal Leo yang sudah ditinggal oleh Nathan.