Mistakes

Mistakes
Misi



Kegiatan Menata rumah baru sementara mereka Akhirnya selesai. Membuat Arga merasa haus dan pergi ke toko untuk membeli minuman dingin untuknya dan Alex. Kini didalam rumah, hanya tersisa Alex sendirian yang sedang termenung memandang kearah buku didepannya.


Buku yang sama yang diberikan ayahnya dulu padanya. Buku itu memiliki segelnya sendiri yang hanya bisa dibaca oleh Alex sebagai pemilik buku.


Didalam buku itu tertulis, kekuatan apa yang dimiliki Alex dan sihir sihir terlarang. Sihir itu tidak bisa digunakan selain oleh dirinya, namun tanpa sihir itu pun kekuatan yang dimilikinya masih lebih besar dibanding sihir itu.


Saat kelahiran Alex, dia hanya akan memiliki kekuatan yang diturunkan orang tuanya. Kekuatan lain yang tersembunyi yang tertulis dibuku itu hanya akan terbuka segelnya jika dia menemukan orang yang disebut sebagai takdirnya.


Namun disisi lain buku itu, juga tertulis jika dirinya adalah pemilik buku ini dia harus menyelamatkan orang yang harus diselamatkan. Sejak kecil ayahnya selalu menceritakan cerita tentang kekaisaran vampire yang hancur.


Didalam cerita itu kaisar muda Zevan yang tampan itu diduga sebagai pelaku dibalik kehancuran kekaisaran. Namun dalam hati Alex berpikir bahwa itu semua mungkin bukanlah kebenaran. Dalam diam Alex mengingat kenangannya bersama dengan ayahnya dulu.


Terdapat seorang ayah yang sedang memangku kepala anak lelakinya. Anak itu berusia sekitar sepuluh tahun dengan mata yang tajam. Anak itu tidak lain adalah Alex saat dirinya masih berusia sepuluh tahun.


Alex saat itu mendengarkan cerita ayahnya dengan serius didalam pangkuan sang ayah. Duduk dengan tenang ditepi danau tepat depan rumahnya dulu. Ayahnya sudah berulang kali menceritakan cerita itu sejak ia kecil. Namun cerita itu selalu ingin Alex dengarkan berulang kali, mungkin alur dalam cerita itu bisa berubah seiring berjalannya waktu.


Sebanyak apapun Alex mendengar cerita itu, tetap saja tidak ada yang berubah. Dari sang kaisar yang diduga penghianat dan masih belum ditemukannya misteri lain.


Sampai saat itu, dipangkuan sang ayah Alex berjanji padanya bahwa ia ingin menyelamatkan apa yang menurutnya baik. Dia berpikir saat itu bahwa kebenaran masih jauh lebih rumit dibanding cerita yang diceritakan sang ayah.


Karna janjinya lah saat itu, keyakinannya ini tidak pernah berubah. Menurutnya mungkin orang yang harus diselamatkan entah kenapa tertuju pada kaisar zevan itu.


Di umurnya ini yang seharusnya sudah menemukan seorang kekasih, ia lewatkan demi mendapatkan kebenaran. Cinta pertamanya yang begitu ia cintai harus pergi bersama orang lain.


Tujuan alex pergi kesini bukan saja untuk mencari kaisar zevan, namun juga untuk melarikan diri dari cintanya itu. Mereka memang saling mencintai, tapi cinta tidak bisa melawan sebuah takdir. Dia adalah sosok cantik yang meluluhkan hati Alex pertama kali dengan senyum manisnya.


Saat Alex pergi ke kota ini, dia sudah memutuskan untuk mengikhlaskan cintanya itu. Mencari kebenaran dibalik ilusi, dan mengejar sebuah ekspetasi. Sulit memang, tapi itulah yang harus dilakukan Alex.


Dalam buku milik alex, untuk menyelamatkan kaisar Zevan sang vampire abadi. Alex harus bertemu dengannya dan melakukan cara yang bahkan tidak terpikirkan olehnya sama sekali.


Pertama kali Alex mengetahui cara itu, mungkin dia hampir saja menyerah. Namun ingatan tentang janjinya pada ayahnya saat itulah yang membuatnya berusaha acuh tentang cara itu. Saat Alex termenung dalam lamunan nya, Arga yang baru saja kembali mengagetkan Alex.


Arga menempelkan minuman dingin yang ia beli ke kepala Alex dan membuat dunia nyata Alex kembali. Alex yang baru saja terbangun dari lamunan nya, melirik tajam kakak sepupunya itu. Arga yang mendapat lirikan tajam Alex hanya mengabaikannya dan duduk disamping Alex.


"Apa kau ragu Lex?" Tanya Arga pada Alex.


"Tidak, hanya saja apa harus aku melakukan cara itu Ga?" Ucap Alex yang terlihat sedang berpikir.


Arga yang mendengar ucapan Alex, tidak bisa menahan tawanya. "Hahahaha...ya kan ga ada cara lain Lex...hahaha." Kata Arga diiringi tawanya.


Alex yang mendengar ucapan Arga, geram dan ingin memukulnya. Namun, kalah cepat dengan Arga yang sudah berada dikamar yang terkunci dari dalam.


"Maafkan kakakmu ini Raven.....hahahaha." Kata Arga dari dalam kamar yang masih dengan tawanya.


Raven adalah nama lain dari Alex yang biasa dipanggil oleh Arga, dia hanya memanggilnya seperti itu jika memohon bantuannya atau menghindari kemarahannya.


Cara itu cukup efektif karena Alex akan mengingat ayahnya yang memanggilnya Raven saat kecil. Namun nama itu sudah tidak disebut oleh ayahnya sejak dia berusia dua belas tahun.


Cara untuk menyelamatkan kaisar hanya diketahui Alex dan Arga. Karena, Alex tidak ingin bibinya ataupun siapapun mengetahui cara itu. Yang pasti membuatnya malu dan tidak ingin menunjukan mukanya didepan mereka.


Saat Arga pertama kali mengetahui itu, dia tertawa lepas didepan Alex. Arga sama sekali tidak peduli dengan Alex yang berpikir, dia benar benar menganggap cara itu sedikit lucu.


Bukan hanya sedikit tapi saat Arga membayangkan cara itu dilakukan Alex pada Kaisar, itu akan benar benar lucu. Membayangkannya saja Arga tidak kuat apalagi harus melakukannya? Namun siapa sangka karma akan datang suatu saat nanti pada Arga.


Tepat hari ini, Alex dan Arga berencana mendaftar ke kampus baru. Yah, mereka kini berada dikota pendidikan yaitu kota C. Mereka berangkat dengan menaiki mobil pribadi mereka yang berwarna biru. Diperjalanan Alex terus menatap sekeliling jalan.


Saat mobil mereka melewati jalan yang sepi dengan pohon yang rindang, suasana alam begitu terasa. Suasana seperti itulah yang disukai oleh Alex, menyatu dengan alam, baik itu bumi ataupun langit.


Namun suasana hutan itu hanya sebentar, karena kini suasana ditepi jalan mulai berbeda. Dengan banyak nya orang yang berkendara dan pejalan kaki, ada juga Peri dan Elf yang terbang. Suasana seperti inilah yang biasa Alex dapatkan disekitar rumah bibinya. Meski yah, suasana dikota C bahkan jauh lebih ramai dibanding apa yang dipikirkan Alex.


"Alex, sepertinya kita akan segera sampai." Ucap Arga pada Alex.


"Apa boleh setelah kita mendaftar, kita bolos saja?" Sambung Arga.


Alex yang mendengar ide kakak sepupunya ini hanya mengumpat lirih.


"Dasar bodoh...." Bukannya marah Arga yang berada tepat disamping Alex, tertawa lepas atas ucapan Alex.


...**...


...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...


...**...


Pagi ini Andrew dan Nathan berangkat lebih pagi, karena Andrew yang ingin menyalin tugas Nathan. Tugas itu seharusnya sudah selesai jika Andrew mengerjakannya tadi malam, hanya saja dia lebih memilih tidur. Dia tidur tepat setelah kepulangan teman temannya.


Karena itu, Andrew yang tidak ingin ibunya tahu bahwa dia tidak mengerjakan tugas segera berangkat kuliah. Karena terlalu pagi, dikelas hanya ada Andrew dan Nathan. Meski Nathan mahasiswa baru, dia lebih cerdas dibanding Andrew. Karena itu Nathan dipandang sempurna oleh orang lain yang melihatnya.


Cukup lama Andrew menyalin tugas Nathan, akhirnya selesai. Kini, sudah banyak mahasiswa yang berada dikelas. Meski jam kuliah masih lama, banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu nya dikelas sebelum dosen memasuki kelas.


Andrew yang belum sempat sarapan, mengajak Nathan untuk pergi kekantin. Disana andrew memesan beberapa makanan untuknya dan Nathan. Saat Andrew dan Nathan sedang makan, Ella menghampiri mereka dan menyapa.


"Hai Drew, Nat tumben kalian makan pagi disini?" Tanya Ella sembari mendudukkan dirinya didepan Andrew.


"Kamu tahu jawabannya, kenapa harus bertanya sih?"


Ucap Andrew dengan nada kesal karna tidak menikmati sarapannya dengan tenang. Ella yang sudah tahu apa yang dikatakan andrew hanya bersikap acuh.


"Dimana Ivo dan Evo, La?" Tanya Nathan disamping Andrew yang sedari tadi diam mencari keberadaan sikembar yang biasanya berada dekat dengan Ella.


"Entah...." Jawab Ella dengan singkat.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya, karena jam masih pagi Ella mengajak Andrew dan Nathan menemaninya. Mereka duduk ditempat biasa di taman, dengan Ella yang sibuk membaca buku barunya yang baru dibelinya kemarin.


Buku itu menarik perhatiannya karena memuat begitu banyak sejarah didalamnya, meski buku itu bertema romansa tapi berbeda dengan buku buku milik Evo. Buku dengan banyaknya cerita pendek tentang cinta yang ditentukan takdir dan dipertemukan takdir tanpa memandang apa dan siapapun itu.


Karena itulah Ella yang seorang kutu buku tertarik dengan buku itu, yang bahkan tidak pernah ia baca dengan tema yang sama. Baru saja mereka duduk sebentar di taman, ponsel Ella berdering.


"Ella, kamu dimana?" tanya orang dari sebrang sana. Ella yang mendengar suara dari sebrang segera menjawab.


"Di taman, kemana aja sih kalian...." belum Selesai Ella bertanya, sambungan telepon sudah diputuskan sepihak. Andrew yang merasa itu lucu pun tertawa, ditemani tatapan tajam dari Ella.


Saat mereka sedang menunggu Ivo dan Evo, tiba tiba perut Nathan merasa tidak enak. Mungkin karena pagi ini, Nathan belum sempat meminum susu Strawberry nya. Segera Nathan pamit dan pergi ke toilet.


Ditengah jalan, Nathan melihat dua sosok tampan pergi kearah berlawanan dari arah yang akan dituju Alex. Saat mereka berpapasan dengan nathan, salah satu dari mereka menatap tepat dimata Nathan.


Saat mata itu menatap Nathan, ada rasa yang tiba tiba datang dan membuat Nathan diam sesaat. Saat Nathan sadar, dia berbalik dan mencari dua sosok itu namun mereka sudah pergi dari pandangannya. Karena mereka sudah tidak terlihat oleh pandangan Nathan, segera Nathan melanjutkan tujuannya, yaitu toilet.


...~¤~...


.


.


.


..."Benang merah akan selalu terikat dijari kelingking mereka yang ditakdirkan oleh langit."...