Mistakes

Mistakes
Cucu lain kaisar



Arga membawa Alex keluar dan mengambil napas dengan kasar. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap dalam tepat dimata Alex.


"Apa yang akan kau lakukan? itu tidak semudah apa yang kau pikirkan Lex, percayalah...."


Alex menatap balik Arga yang berada didepannya. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan tidak aku lakukan. Tidak perlu untuk kau bertanya lagi, jadi apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"


Lagi lagi Arga harus membuang napasnya dengan kasar, dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


Leo yang mengikuti mereka memilih untuk bersembunyi dibalik semak cukup jauh dari keberadaan mereka. Dia masih mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh mereka dan tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


Baru kali ini dia melihat keseriusan Arga yang benar benar berbeda dari sebelumnnya yang dia lihat. Kali ini Arga benar benar seperti begitu khawatir tetapi juga tidak berdaya dengan keputusan Alex.


Tanpa disadari Leo, sebenarnnya keberadaannya sudah diketahui oleh mereka sejak Leo mengikuti mereka keluar. Hanya saja mereka merasa bahwa keberadaan Leo mungkin, tidak akan mengganggu mereka.


"Keluarlah...."


Arga perlahan melangkah menghampiri tempat persembunyian Leo dibalik semak. Entah perasaan Leo atau bukan, nada bicara Arga tidak seperti biasanya.


Leo yang tidak pernah mendengar nada bicara Arga yang seperti itu tertegun, dan tanpa sadar keluar dari balik semak.


Saat Arga tiba didepan leo, tidak ada angin ataupun hujan Leo melihat Arga tersenyum padanya, setelah beberapa hari mengabaikan dirinya.Arga meraba lehernya dan mengambil sebuah kalung.


"Ambilah....Jaga baik baik kalung ini untukku...." Dia melepaskan kalung miliknya dan menyerahkannya pada Leo sembari memperlihatkan senyum tulusnya.


"Apa yang kau lakukan Ga? cepat pakai" Alex yang melihat itu tertegun dan menegur Arga. Belum sempat Leo bereaksi Arga sudah membalikan tubuhnya dan kembali kesisi Alex.


"Kau ingin menyelamatkan nya kan? Pergilah kekerajaan duyung bagian barat, dan ingat jaga diri mu dengan baik...." Arga menghela napas panjang dan pergi meninggalkan keduanya.


Orang orang didalam rumah yang merasa ada sesuatu yang aneh diluar rumah pergi menghampirinya. Saat mereka baru saja membuka pintu, mereka melihat Leo yang tertegun. Selain Leo ada juga Arga dan Alex yang sedang bicara.


Mereka melihat Arga yang pergi meninggalkan keduanya, dan disaat itu mereka baru sadar bahwa Arga terlihat lebih menawan dari biasa. Mereka memperhatikan Arga dari dia mengambil mobilnya hingga pergi pandangan mereka.


.....


Arga yang sudah pergi dari mansion Nathan pun memilih pergi kesekolah dan memarkirkan mobilnya disana. Dia membuka handponenya dan menelepon seseorang.


Tidak lama setelah itu, ada sosok yang menghampiri Arga. Dia adalah George rektor kampus yang pernah dia temui dihari pertamanya dikampus. dia adalah salah satu orang Arga.


"Tu-tuan.."


"Dimana kalung milikmu tuan?"


"Jaga dia untukku...." George menghela napas kasar dan bertanya pada Arga.


"Tapi tuan....Sebaiknya jangan lakukan itu, bukankah kau menyayanginya? Bagaimana reaksinya jika dia tahu kau melakukan itu semua?"


"Maka jangan beritahu dia, biarkan aku yang memberitahu langsung padanya".


Tatapan Arga berubah tajam dan menyeramkan, tatapan yang tidak pernah dia tunjukan pada siapapun kecuali orang orangnya. Bahkan tatapan tajam yang dia tunjukan pada Leo tidak ada apa apanya dengan tatapan yang sekarang ini.


George tidak bisa berbuat apapun sekarang, karena jika Arga sudah mengucapkan dan memberitahunya dia akan maju. Arga akan serius dengan apa yang diucapkannya tidak peduli apa konsekuensinya.


"George, katakan padanya aku akan menyelesaikan semuanya, dendam, cinta dan penghiatan didalam kehidupannya. Sampaikan itu untuk menghiburnya sebelum semuanya terlambat. Karena janjiku dan janjinya adalah sumpah kesetiaan yang tidak akan bisa menghindari karmanya".


Setelah Arga mengucapkan semua itu dia menyerahkan kunci mobilnya dan sebuah cincin pada George dan meninggalkannya. Dalam sekejap mata Arga sudah tidak ada lagi dari pandangan George.


_______


Setelah kepergian Arga, Zevan dan yang lainnya kembali masuk kedalam mansionnya begitu juga Leo yang sudah sadar dengan apa yang terjadi. Semua itu berlangsung didepannya, bagaimana bisa saat itu dia hanya tertegun tidak bertanya sama sekali apa maksud Arga.


Leo benar benar kesal dengan dirinya sendiri, diapun menyimpan kalung yang diberikan Arga padanya disaku miliknya. Saat itu dia benar benar tidak mengenal sosok didepannya, seperti bukan Arga yang dia kenal.


Entah kenapa perasaan aneh tiba tiba muncul dihatinya. Banyak pertanyaan dihati Leo sebenarnya tentang siapa Arga. Tapi, saat dirinya melihat wajah Arga yang terlihat menawan didepannya membuat dirinya kehilangan kesadarannya dan tenggelam dalam pikirannya.


***


"A-apa yang terjadi ?"


Alex melangkah menghampiri Zevan dan berdiri didepannya. Melihat itu, Kevin melepaskan pelukan Zevan dan menatap Alex dengan memohon.


"To-tolong aku kakek....., a-aku....benar benar tidak tau harus bagaimana lagi. Satu persatu orang yang kusayangi pergiđź’˘.....Semua pergi....Bagaimana denganku !! Kenapa aku juga tidak pergi bersama mereka !! Kenapa ?!"


Leo dan yang lainnya tidak mengerti apa yang dimaksud Kevin mengalihkan pandangan mereka pada Alex. Zevan yang melihat itu, menatap aneh pada Alex didepannya


Alex tidak menghiraukan tatapan Zevan, memilih menghampiri Kevin dan memeluknya. Dia menggunakan kekuatannya untuk menenangkan Kevin yang berada dalam pelukannya.


"Jika kau pergi bersama mereka, lalu apa yang mereka dapatkan hm ?"


Hanya butuh beberapa menit, kevin yang berada dalam pelukan Alex merasa tenang dan melepaskan pelukannya. Dia mengatakan pada semua orang bahwa tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.


*****


Sudah cukup lama mereka berada dalam mansion Zevan karena ingin mengetahui kebenarannya. Mereka semua memutuskan untuk tidak berangkat hari ini, dan menginap disini.


Zevan tidak keberatan dengan itu dan membiarkan mereka semua berada didalam mansionnya. Bagaimanapun juga mansion ini dulunya adalah sebuah istana megah miliknya, yang memiliki banyak kamar. Tidak akan kekurangan tempat hanya untuk mereka.


Ella yang akan pergi kekamar sikembar berpapasan dengan Alex yang berjalan berlawanan arah dengannya. Alex menghentikan langkahnya dan bertanya pada Ella dimana keberadaan Zevan saat ini.


"Dimana Zevan ?"


"Di-ditaman belakang"


Ella gugup berada didepan Alex, karena menurutnya Alex itu menyeramkan. Jika sikembar melihat ini, mereka akan bertanya tanya padanya


'Bagaimana bisa kamu menganggap dia menyeramkan? Tapi saat Zevan memberitahu identitasnya kau malah terlihat biasa..... Aneh memang'


Alex mengangguk dan pergi meninggalkan Ella untuk menuju tempat dimana Zevan berada. Sedangkan Ella memilih pergi ketujuan awalnya. Dia tidak akan tidur pagi ini, karena ingin bermain bersama mereka, setelah melihat dan melalui hari yang melelahkan.


Ditaman belakang, Zevan yang masih mengenakan baju pernikahannya duduk tenang disana. Alex menghampiri dan duduk disampingnya.


"Ikutlah denganku" ucap Alex dengan serius.


"Apa yang terjadi? Itu tidak seperti yang kupikirkan kan?"


"Semua itu adalah kebenaran untuk apa kau menghindarinya. Bukankah kau adalah pemimpin dulu, jika kau tidak menghadapinya kau tidak akan tahu kebenaran dibalik semuanya".


Zevan mengalihkan pandangannya pada orang disampingnya. "Lalu, Apa semua itu akan berakhir? Dulu aku mengalah karena mengira bahwa setelah ini semua itu akan berakhir tapi apa sekarang ?"


"Seseorang mengorbankan nyawa mereka untuk orang yang mereka percayai, bukankah kau harus membalasnya? Lalu ceritakan semuanya"


Alex meyakinkan Zevan untuk menceritakan kebenarannya. Mereka tidak terlalu akrab untuk membagikan kisah kehidupan mereka, tapi mereka sudah terikat sumpah yang mengharuskan mereka menghadapi semua didepan mereka bersama sama.


Selama ini yang Alex baru ketahui hanya lah secuil kehidupan Zevan. Kevin sebagai cucu dari Zevan yang terlahir dari anak satu satunya dari kakak Zevan. Tapi saat acara pernikahan dia sempat mengobrol dengan Kevin dan kebenaran lain terungkap.


Bahwa Kevin bukanlah satu satunya anak dari Malvin, ada satu kakaknya yang hidup dilaut bersama para mermaid. Kakaknya adalah seekor merman sama seperti ibu mereka. Sedangkan Kevin memiliki darah ayahnya yang dominan, menjadi seorang vampire.


Malvin memisahkan mereka agar mereka mengerti betapa bahayanya mereka jika terus bersama. Buku terlarang yang dibawa Malvin diserahkannya pada anak sulungnya, Avin.


Sebelum kepergiannya dia memasang sihir di dalam diri mereka, agar saat salah satu diantara mereka pergi yang lain merasakannya dan akan terus maju.


"Baiklah.....tapi sebelum itu siapa yang pergi kali ini?" Alex menatap kosong kedepan, dia tahu mungkin ucapannya nanti malah membuat keadaan Zevan semakin memburuk.


"Avin anak sulung dari Malvin"


Ditaman itu, Zevan menceritakan semua yang dilihatnya hari itu sebelum dia mati. Setelah Alex mendengar semuanya, Alex pikir keputusannya untuk membantu Zevan adalah benar. Karena itu dia mengajak Zevan untuk pergi kedalam kamar mereka.