Mistakes

Mistakes
Nathan



"Ibu, untuk apa peti mati disini?"


Suara pemuda yg muncul dari belakang sosok paruh baya yang disebut ibunya. Pemuda itu terus mengamati peti itu dan berusaha meraih peti itu. Namun, sebelum ia memegang peti itu, ia dicegah oleh sang ibu.


"Peti itu tak bisa sembarangan di buka Drew...." Kata sang ibu pada Andrew anaknya.


Andrew pemuda yang berdiri disamping ibunya itu, adalah sosok pemuda tampan dengan mata biru langitnya. Namun mata itu terhalang oleh kacamata yang di kenakannya. Andrew seorang mahasiswa biasa yang mempunyai sedikit teman.


Andrew adalah salah satu maha siswa di universitas terbaik di kota C. Kampus yang banyak dipilih oleh mermaid, werewolf, penyihir dan lainnya. Kampus dengan pendidikan yang paling berkualitas.


Meski Andrew adalah seorang mahasiswa di kampus terbaik. Dia tidak seperti mahasiswa lainnya yang terkenal dengan nama yang dikagum kagum kan.


Saat andrew mengetahui peti itu tidak bisa dibuka, ia langsung menengok kearah ibunya dan bertanya .


"Lalu bagaimana cara membuka peti ini bu?"


Baru saja Andrew bertanya seperti itu. Tiba tiba, seekor kelelawar entah dari mana mengganggunya dan membuatnya tersandung peti mati itu. Saat Andrew tersandung peti mati, tangannya tidak sengaja tergores oleh pecahan kayu disebelah peti mati.


Darah mengalir cukup deras, karena pecahan kayu itu menancap ditangan Andrew. Saat Andrew ingin bangkit, tidak sengaja tangan yang penuh dengan darahnya menyentuh peti mati.


Darah itu perlahan menetes ke lubang kecil tepat disebelah kiri tempat jantung biasa berada. Darah milik Andrew yang menetes itu menyerap ke jantung sosok yang terbaring didalam.


Perlahan mata sosok didalam itu perlahan terbuka, mata itu begitu tajam dan berwarna merah. Sosok yang haus darah itu bangkit karna takdir telah tiba. Peti mati itu perlahan bergoyang goyang dan secara tiba tiba sebuah cahaya yang begitu terang menyilaukan seluruh ruangan itu.


"I-ibu...u...dima...na mayatnya..bu..?" Ucap Andrew saat ia melihat kedalam peti mati itu.


Peti mati itu tiba tiba terbuka tepat setelah cahaya itu menghilang, dan mayat yang seharusnya ada didalamnya pergi entah kemana. Sang ibu hanya menunjukan sikap seperti setengah hormat, dengan kepala sedikit menunduk.


"Yang mulia." Ucap ibu Andrew masih dengan kepala menunduk.


Andrew yang benar benar bingung segera melihat kearah mana ibunya memberi hormat. Ibunya memberi hormat seperti kearah andrew lebih tepatnya dibelakangnya. Saat Andrew menengok kearah belakang nya, disana berdirilah sosok tampan dengan balutan jubah yang berwarna merah dipadukan hitam. Sosok itu begitu anggun juga terlihat begitu kejam.


...**...


...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...


...**...


Sosok tampan yang berdiri dibelakang Andrew dengan tatapan tajamnya, kini berubah menjadi tatapan kelelahan didepan Andrew dan ibunya. Sosok itu tiba tiba pingsan dan ibu Andrew segera menyuruh Andrew untuk membawanya kekamar Andrew.


Sosok itu kini terbaring dikamar Andrew dengan damai tampak dengan wajah polosnya. Andrew melihat sosok itu dari depan pintu kamarnya setelah ia mengobati luka ditangannya.


Ia masih benar benar terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sesosok Vampire yang begitu tampan mengenakan pakaian mewah yang tidak dikenalnya. Namun, begitu dihormati oleh ibunya.


Saat Andrew memperhatikan sosok vampire itu, ibunya datang dari belakang Andrew dan menyeret Andrew pergi. Mereka kini berada diruang tamu dirumah mereka.


"Bu sebenarnya siapa dia bu?" Tanya Andrew pada ibunya.


"Diamlah, panggil saja Hmm..saudaramu...Iya..Saudaramu." Suruh ibu Andrew padanya.


"A...apa? Saudara? Ck, Ibu...Bercanda kan..?".


Bantah Andrew, karena bagaimana bisa sesosok Vampire yang bangun dari peti mati tiba tiba menjadi saudara pikirnya.


"Andrew bantu ibu...ini....yang terbaik nak..." Ucap ibu Andrew seraya memohon pada Andrew untuk menerima sosok itu sebagai saudara.


Sosok vampire tampan itu perlahan membuka matanya.


"Hauss...hauss...hauss"


Ucap sosok itu, sembari tangannya mencari sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri. Benda benda yang ada didekat tempat tidur kini berantakan dan menimbul suara.


Andrew dan ibunya yang mendengar suara itu segera menghampiri dan melihat sosok itu yang sedang kacau. Andrew yang melihat itu segera duduk didekat sosok vampire itu dan berusaha menenangkan nya.


Sedangkan ibunya pergi dari kamar itu, dan kembali dengan membawa segelas yang entah air apa untuk sosok itu. Sosok vampire tampan itu segera meminum air yang diberikan ibu Andrew.


Setelah meminumnya sosok itu segera tenang dan tatapan matanya kembali normal, meski masih terlihat dingin.


"Apa kau baik baik saja?" Tanya Andrew yang melihat sosok itu perlahan tenang.


"Hmm...." Sembari mengangguk dan sedikit berpikir sebelum melanjutkan ucapannya.


"Siapa kalian...dan dimana ini?" Sembari melirik Andrew dan ibunya secara bergantian.


Sosok itu sepertinya kehilangan jati diri nya, tidak tahu siapa dirinya, dan apa tujuan hidupnya. Biasanya orang yang seperti itu akan terlihat lemah, tapi tidak untuk sosok ini.


Aura yang begitu dingin seperti berada dalam badai salju. Namun, juga begitu mencekam seperti didalam jurang yang gelap. Aura sang pemimpin yang seharusnya dimiliki sosok yang begitu kuat.


Andrew dan ibunya terlihat bingung didepan sosok itu. Sampai akhirnya ibu Andrew berbicara untuk menghilangkan keraguan sosok itu.


"I...ibu..iya..ibu aku ibumu dan dia adikmu apa kau tidak ingat nak?" Sembari menunjuk kearah dirinya dan Andrew.


Sosok itu yang mendengarnya hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, seperti memberi tahu bahwa dia tidak tahu apa apa.


"Ibu..., Adik..?" Ucap sosok itu sembari menatap tajam Andrew dan ibunya.


"I...iya..a Nathan..ahh..Nathan...kamu tidak ingat siapa kami?" Ucap ibu Andrew gugup karena tatapan dari sosok itu yang ia sebut sebagai Nathan.


Meski Nathan sedikit curiga, melihat ketulusan mereka perlahan ia menurunkan kewaspadaannya. Nathan tidak ingat siapa dirinya yang pasti, ia tahu dua orang didepannya adalah orang yang bisa dipercaya olehnya.


"I...iya..ibu...Nathan tidak ingat a..apapun...." Ucap nathan yang masih menatap mata orang yang ia panggil ibu.


...**...


...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...


...**...


Dimeja makan, kini terdapat tiga orang yang sedang duduk dan menikmati makan malamnya. Andrew, ibunya, juga Nathan. Mereka sekarang ini diam disana sebelum ucapan ibu Andrew memecahkan suasana sunyi itu.


"Andrew ibu rasa mulai besok saudaramu akan mendaftar di kampus tempat kamu belajar." Ucap ibu Andrew yang membuat kedua anaknya kini menatapnya.


"Serius ibu...Jadi setelah ini aku punya teman.."


Ucap andrew yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Karena selama ini temannya hanya sedikit, dan tidak bisa menemani Andrew setiap saat.


"He...eh tapi itu tergantung persetujuan saudaramu." Ucap bibi sembari menatap Nathan.


Nathan hanya menjawabnya dengan mengangguk. Suasana dirumah Andrew kini tampak berbeda karena kehadiran Nathan disana.


Keadaan Nathan Kini mulai membaik setelah meminum darah Andrew. Andrew hanya akan memberikan darahnya ketika saudaranya benar benar haus.


Meski ibu Andrew juga mencampurkan darahnya digelas Nathan untuk sedikit menenangkan Nathan dan membuatnya cukup terbiasa.


Karena ibu Andrew mengetahui dari seseorang yang dia kenal bahwa perlahan lahan ingatan milik Nathan akan kembali dan darah yang dibutuhkan untuk memulihkan kekuatan Nathan semakin sedikit.


.


...**...


...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...


...**...


"Alex, apa kau sudah menemukannya?" Ucap sosok dari belakang Alex, sosok itu adalah bibi Alex atau adik dari sang ayah.


Semenjak ayah nya pergi, bibinya selalu menjaganya dan membantunya. Seperti sekarang ini, Alex yang sedang membaca sebuah buku dikagetkan oleh kedatangan bibinya. Buku yang diberikan ayahnya, adalah buku yang berisi beberapa ramalan yang tidak banyak diketahui.


"Apa aku bisa menemukan orang ini?Apakah bibi percaya padaku?" Bibi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan keponakannya ini.


"Bukankah langit percaya padamu? Bagaimana bibi tidak percaya pada kemampuanmu hm....?" Ucap tegas bibi pada keponakannya.


Alex memperlihatkan selembar halaman dari buku itu pada bibinya. "Bibi lihat ya ampun..bagaimana....ini..bibi..." Ucap Alex sedikit teriak setelah memperlihat halaman itu. padahal, meski Alex menunjukan halaman itu pun, bibi tidak akan melihat apa apa haduh.


"Alex percayalah pada langit nak, mungkin itu terbaik." Ucap bibi menasehati Alex.


"Apa bibi baru saja mengatakan bahwa aku mempunyai takdir yang sudah ditakdirkan?"


"Sudah bertahun tahun kamu mencarinya di kota ini, tapi tidak ada hasilnya kan?" tanya bibi.


"Bisa saja dia belum bangkit bibi, dan mungkin tidak akan bangkit." Protes Alex yang mendengar ucapan bibinya.


"Mungkin benar, tapi kenapa tidak kau cari saja di kota lain mungkin dia ada disana. Contohnya di kota C, tempat kekaisaran vampir dulu." Ucap terakhir bibi sebelum meninggalkan Alex sendirian.


Lagian, Alex diberi misi mencari kaisar vampir eh nyarinya di kota Z. Ya sampai kapan pun, tidak akan ketemu lah.


Entahlah, kebetulan atau tidak ini adalah langkah awal Alex sebagai sosok pembawa takdir.