
.
.
.
.
.
Dikamar tamu, Zevan membaringkan Alex yang kehabisan tenaga diranjang. Raut wajah khawatir tertera jelas diwajahnya. Dia begitu khawatir dengan keadaan Alex dan melupakan rasa kesalnya.
Mata yang tadinya tertutup perlahan terbuka dan memperlihatkan mata merah yang indah. Zevan yang menyadari itu segera mendekat pada Alex dan menggenggam tangan Alex.
"A-ada apa denganmu...." ucap Alex dengan suara lirih.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan hah?....."
Zevan tidak menghiraukan pertanyaan Alex, dia memilih kembali bertanya pada Alex, apa yang terjadi sebelumnya.
"Bu-bukan kah ini yang kau inginkan....masalah satu persatu terselesaikan bukan? Aku hanya membantu menantumu untuk bangun....."
"Bodoh...."
"A-apa..."
"Kau bodoh...."
"Hei, ada apa denganmu..."
"Bodoh"
"F*ck"
"F*ck"
"Heh, apa yang katakan....katakan lagi!"
"Bu-bukan apa apa"
Saat mereka sibuk dengan perdebatan mereka, ada satu sosok yang diam dan terus memperhatikan mereka. Sampai akhirnya dia masuk dan mengalihkan perhatian mereka.
"Maaf mengganggu kalian, bisakah aku berbicara dengan kalian berdua?"
"Apa yang ingin kau bicarakan"
Tanya Alex sembari memperhatikan penampilan Mega saat ini. Bukannya menjawab Mega malah diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Jadi, apa yang kau inginkan...."
"A-aku....Bi-bisakah kalian ikut denganku kesuatu tempat ada yang ingin bertemu dengan kalian..."
"Siapa? "
Zevan merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Tapi, apapun itu dia harus menghadapinya dan tidak akan lari darinya.
Alex yang merasa bahwa ada hal yang dirasakan Zevan segera bangkit dari ranjang. Alex yang hendak berdiri dicegah oleh tangan Zevan. Ekor milik Alex perlahan hilang digantikan dengan kaki putihnya.
"Bisakah kau tidak ikut bersamaku? Istirahatlah disini"
"Lepas...."
Alex menghempaskan tangan Zevan yang menggenggam tangannya dengan kasar. Dia merasa akhir akhir ini Zevan sedikit berbeda dari biasanya meski dia tidak begitu mengenalnya.
Entah perasaannya atau bukan, dia merasa sesuatu terjadi pada Arga. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengannya, setelah Arga pergi meninggalkannya bersama dengan Leo kemarin. Jika sesuatu terjadi pada Arga sifat Alex akan tidak stabil seperti sekarang ini.
"Bisakah kita pulang saja?"
"Memangnya kenapa?"
"Entah aku merasa..... Ada sesuatu terjadi pada Arga, sebaiknya kita pulang"
"Ja-jangan!" ucapan Mega yang mengagetkan keduanya.
"Tidak bisakah kalian ikut denganku sekali saja.....Jika kalian tidak ikut, kalian tidak akan mengerti semuanya"
Alex dan Zevan saling memandang hingga Alex memutuskan untuk ikut bersama Mega. Diikuti Zevan yang terpaksa karena tidak ingin terjadi apa apa pada Alex.
....***....
Disisi lain, Leo duduk termenung disebuah balkon dimansionnya, setelah memutuskan untuk pergi dari rumah mewah Zevan. Dia benar benar kesal dengan orang itu, bagaimana bisa dia bersenang senang sebagai pengantin baru disaat hal buruk terjadi pada keluarganya.
Saat Leo tenggelam dalam pikirannya, ayah Leo sang alpha berdiri dibelakangnya dan menyadarkan Leo dari pikirannya. Dia menghampiri anaknya bersama dengan sosok asing berdiri disampingnya.
"Leo..."
Merasa terpanggil Leo menoleh pada ayahnya dan melihat sosok asing yang dikenalnya berada disamping ayahnya.
"Mr.George?"
Panggil Leo pada sosok itu. Ya sosok yang berdiri disamping ayahnya adalah George rektor dikampusnya. Entah dengan tujuan apa dia datang menemui Leo, yang pasti itu tidak akan menjadi kabar baik bukan?
George tersenyum pada Leo dan menatap matanya dalam dalam. 'Pantas saja tuan tidak ingin semuanya berlalu dengan cepat, ternyata anak ini memang pantas untuknya. Tapi, entahlah semuanya tidak akan mudah baginya. Mungkin karena itulah tuan memilih jalan itu' pikir George dalam hatinya.
"Ehem..." suara batuk ayah Leo menyadarkan George dan dia segera mengalihkan perhatiannya dari Leo.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" ucap Leo pada George.
"Bisakah kau berikan kalung yang berada dilehermu padaku Leo?"
Leo memandang kalung yang berada dilehernya dan mengingat Arga. Arga, orang itu begitu misterius dan berhasil mengalihkan perhatian Leo dari Mega.
"Ti-tidak akan"
George tersenyum sembari memandang kalung yang dia bicarakan. "Lalu, jagalah kalung itu dengan baik. Selama kau tidak menghilangkannya kau akan selalu aman dari jangkauannya..Dan......jika kau mendengar kabar buruk nanti, ja-jangan melakukan hal bodoh pada dirimu. Karena itu semua percuma dan tidak bisa membalikannya seperti semula"
Leo sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan George padanya. Saat Leo hendak bertanya, George membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Leo bersama ayahnya.
"A-ayah, apa yang dia bicarakan?"
.....***......
Didalam ruang yang gelap dengan sedikit cahaya, Agnes duduk sendirian disana sembari menggenggam sebuah cincin miliknya. Dia tenggelam dalam pikirannya sebelum Devon datang mengagetkannya.
"Sedang apa kau disini sayang"
Devon datang dari arah belakang Agnes dan memeluknya dari belakang sembari menyenderkan dagunya pada bahu Agnes.
Agnes menghela napas kasar dan berbalik menghadap Devon.
"Bisakah kita segera selesaikan tujuan kita honey.... "
"Tidak semudah itu, bukan kah aku sudah bicara sebelumnya bahwa jangan pernah mengotori tangan indahmu dengan darah lagi bukan?.............Sudah saatnya penghianat mati! "
Tiba tiba pandangan Devon pada Agnes berubah menjadi tajam. Tangan Devon mencengkeram kerah baju Agnes dan perlahan mencekiknya. Semakin tajam tatapan Devon semakin kencang cengkraman pada leher Agnes.
"Jangan pernah mencoba mengkhianatiku"
Ucap Devon sebelum melemparkan sebuah sihir pada tubuh Agnes dan membuatnya tak bernyawa.
"Hahaahahaha"
Tawa mengerikan yang berasal dari Devon benar benar membuat makhluk hidup disekitarnya merasa takut. Devon memandang tubuh Agnes dengan benci dan perlahan berjongkok mendekati tubuh Agnes. Dia mengambil sebuah cincin yang berada digenggaman Agnes dan tersenyum puas.
...***...
.
.
.
Didekat jurang penyiksa, Arga berdiri diam disana sembari menatap tajam kedalam jurang itu. Hanya kegelapan yang terus dilihat Arga, sampai akhirnya Mega datang menghampirinya bersama mereka.
Setelah menyetujui permintaan Mega, Alex dan Zevan dibawa oleh Mega ke tempat jurang penyiksa berada dan bertemu dengan Arga disana.
Alex yang heran dengan keberadaan Arga perlahan mendekatinya. Namun, belum sempat Alex menyentuh Arga sebuah sihir datang entah dari mana mengarah pada Alex.
Saat sihir itu hampir mengenai Alex, Arga datang entah sejak kapan berdiri didepan Alex. Sihir itu menghilang dalam sekejap sebelum mengenai tubuh Arga.
Seseorang jubah mewahnya tertawa puas didepan sana, menampilkan gigi taringnya yang tajam. Wajah yang begitu familiar bagi Zevan. Karena, wajah yang berada didepan sana adalah wajah kakaknya, Devon.
Tidak ada yang mengerti perasaan Zevan sekarang ini, benci, marah, rindu, sedih semua perasaan itu menyatu menjadi satu dalam diri Zevan. Alex yang masih terkejut, hanya diam menatap punggung Arga didepannya.
"A-arga, bagaimana kau bisa berada disini?"
"Hahahahah, kau bertanya pada iblis itu hah? Tidak kah kau menyadari bahwa anak itu adalah iblis sebenarnya?"
Jawaban itu berasal dari mulut Devon yang berada disebrang sana. Alex sama sekali tidak menghiraukan ucapan Devon, dan kembali bertanya pada kakak seppunya.
"Bisa kau jelaskan semua ini Arga!" Ucap Alex dengan nada tinggi pada Arga.
Arga perlahan berbalik menghadap Alex dan menatapnya. Alex merasa waktu berhenti saat itu. mata yang dulu penuh dengan tawa berubah menjadi penuh dengan emosi yang tidak bisa dijelaskan.
Tatapan Arga yang biasanya tulus, berubah menjadi tajam. Mata indah Arga yang menghangatkan bagi siapa saja yang menatapnya, berubah menjadi merah darah yang menyeramkan. Tidak ada sedikitpum senyum diwajahnya saat ini.
"Apa yang dikatakannya memang benar tidak ada yang salah dengan hal itu. Jadi, mulai sekarang kau bisa membenciku semaumu dan sesukamu. Tidak ada lagi seorang kakak yang menghibur mu, tidak ada lagi tawa yang akan keluar dari mulutku mulai sekarang. Karena takdir yang berada digenggamanku akan segera berakhir...."
"Tidak akan semudah itu iblis licik......" (Sihir hitam pekat terbang dengan sangat cepat mengarah ke Arga)
Arga sama sekali tidak bergerak pada tempatnya. Dia hanya terus menatap Alex yang sekarang menatap sedih pada dirinya.
"Iblis, kau menyebut aku adalah iblis. Lalu, harus aku sebut apa kamu orang serakah, rakus, dan tidak peduli sekelilingnya hah?!...., apa aku salah mendengarnya hahahahaahahah" ucap Arga dari belakang Devon.
Entah sejak kapan Arga berada dibelakangnya, yang pasti dia sama sekali tidak melihat gerakan yang dilakukan Arga. Sihir yang dilemparkannya pada Arga sama sekali tidak mengenai Arga, melainkan seorang mermaid yang berada jauh disebrang sana.
Saat Arga melihat sihir itu semakin mendekatinya, dia segera mendorong Alex kearah Zevan dan berpindah tempat ke sisi belakang Devon dalam sekejap mata. Tapi, ada hal yang dilupakan Arga saat itu. Dia melupakan Mega yang berada tepat didepan jurang penyiksa.
Karena itulah sihir berwarna hitam pekat itu, mengenai Mega dan membuatnya perlahan kehilangan keseimbangannya. Mermaid penjaga itu, perlahan jatuh kedalam jurang dan tenggelam dalam kegelapan.
Arga yang dikejutkan dengan jatuhnya Mega kedalam jurang, berubah menjadi lebih menyeramkan. Aura asing yang menyeramkan perlahan berkumpul disekeliling Arga dan membuatnya tampak seperti sosok asing yang tidak dikenal Alex.
Sosok asing yang menyerupai Arga itu bertindak membabi buta. Dia menyerang Devon dengan cara yang tidak pernah dilihat Alex maupun Zevan. Meski Zevan adalah sosok yang menyeramkan dimasa lalu dia tidak pernah melihat seseorang bertindak membabi buta seperti ini.
Tubuh Devon yang benar benar menawan berubah menjadi monster yang penuh dengan luka. Tulang yang tidak lagi utuh dan wajah yang tidak lagi dikenali oleh Zevan.
"Kau yang salah telah menggunakan sihir terlarang dengan banyak kesalahan. Tidak ada yang akan hidup jika seseorang mengusik ketenanganku" ucap Arga dengan aura menyeramkan.
*Bugh
*Bugh
*Kyaaa
*Bughh
"Arghhhhh kurang ajar.... Arghhh tunggu pembalasan tuanku arghhh"
"TUAN? Ck tunggu hidupmu selanjutnya"
*BUGH
Tubuh tak berbentuk itu Arga lemparkan kedalam jurang penyiksa dengan benci, tidak ada belas kasihan sedikitpun didalam diri Arga saat ini. Setelah melemparkan tubuh Devon kedalam jurang, dia berbalik dan menatap mereka yang juga menatapnya dengan terkejut.
Meski Alex begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya, dia tidak bisa berbuat apa apa karena telah menggunakan seluruh tenaganya untuk membangunkan putri Xera. Sedangkan Zevan berdiri kaku didalam gelembung sembari memegang Alex disampingnya.
Zevan ingin marah pada Arga yang telah menghabisi Devon orang yang dia sayangi dan orang yang menghianatinya selama ini. Tapi, disisi lain Zevan merasa senang karena tidak menggunakan tangannya sendiri untuk menghabisi kakak yang dulu dia hormati.
"Lihatlah, aku adalah iblis sebenarnya yang harus kalian benci. Iblis yang seharusnya berada diranah bawah bersama mereka yang penuh dengan kebencian. Dan satu hal lagi, yang mulia kaisar tidak kah tidak perlu menangisi penghianat yang sudah lebih dari dua kali mencoba membunuhmu?
Hal baiknya adalah penghianat itu, bukanlah orang yang kau hormati sebelumnya. Karena mereka adalah dua sosok yang sangat berbeda hahahahah......."
Ucap terakhir Arga sebelum menjatuhkan dirinya sendiri kedalam jurang penyiksa menyusul Mega yang tidak bersalah dan tubuh tak berbentuk itu.
"ARGAA..../ARGA... " teriak Alex dan Zevan histeris.
.........