
_
____
Didalam kelas, Leo masih tenggelam dalam pikirannya. Bahkan hingga jam kelas dimulai dan dosen mulai mengajar dia sama sekali tidak pernah fokus.
Leo berpikir, jika dia bertemu dengan matenya, apa yang ia katakan padanya. Apa ia akan mengatakan.
'Kau harus pergi, Karena aku mencintai orang lain.' Tidak mungkin dia berkata seperti itu kan?
Jam kelas pertama selesai dan dilanjut jam selanjut, sampai waktu istirahat tiba dan dosen yang selesai mengajar pergi dari kelas. Disusul satu persatu murid, termasuk kedua teman Leo. Mereka mengajak Leo untuk meninggalkan kelas dan berkumpul bersama mereka ditempat biasa.
"Leo, ayo pergi." Ucap Pure pada Leo sembari melangkah kedepan pintu, disusul juga Mark dibelakangnya.
Leo masih diam dan melamun di kursinya. Dia menolak ajakan teman temannya dengan menggelengkan kepalanya dan menyuruh kedua temannya pergi.
Mereka yang mendapati bahwa Leo masih enggan pergi dengan mereka memilih membiarkannya.
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi ingat, jangan berbuat macam macam pangeran....." Ucap Pure sedikit dramatis.
Bagaimana juga apa yang dikatakan Pure adalah kebenaran. Dia takut Leo akan melukai dirinya sendiri atau berbuat tanpa berpikir seperti yang biasa dia lakukan jika sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
Sebagai teman yang menemani Leo sejak kecil, Pure adalah teman yang begitu mengenalinya. Tidak seperti Mark dan Vino yang bertemu dengan mereka sejak berada di kampus.
Karena itu, jika ada hal buruk yang terjadi pada Leo, dia juga akan dimarahi oleh ayah Leo. Jika tidak dimarahi oleh ayah Leo, dia akan dimarahi oleh ayahnya sendiri yang begitu menyayangi Leo.
Bahkan dia pernah berpikir 'Sebenarnya anak ayah itu aku atau Leo sih.'
Mark yang berada disamping Pure setuju dengan ucapannya. Bagaimana juga tidak ingin terjadi hal buruk pada teman temannya.
"Baiklah.....Baik, aku tidak akan macam macam. Kalian bisa pergi dengan tenang, silahkan." Usir Leo pada mereka.
Biasanya mereka akan membalas ucapan Leo dengan candaan tapi melihat suasana yang tidak memungkinkan membuat mereka segera pergi dari kelas.
Leo dengan wajah kusutnya, memilih pergi ketaman belakang. Disana ada beberapa mahasiswa lain yang duduk menyendiri. Leo memilih duduk dibangku didekat gudang disamping taman.
Dengan tampilannya yang menawan, membuat orang lain yang berada disana melirik keberadaan leo. Namun, Leo tidak menghiraukannya, memilih menyenderkan kepalanya dibangku dan menutup matanya.
Saat Leo sedang diposisi santainya, tiba tiba ada satu sosok yang ikut duduk disampingnya. Leo yang menyadari itu, membuka matanya dan memerhatikan sosok yang duduk disampingnya. Sosok itu tampak asing dengan setelan berwarna hitam yang sederhana.
Meski sederhana tampilannya itu tidak bisa menyembunyikan ketampanan yang dimilikinya. "Apa kau sendirian?" Tanya sosok itu pada leo yang masih menatapnya.
"Bukankah sudah jelas?" Jawab Leo sembari mengalihkan perhatiannya kedepan.
"Kau tahu? Membenci takdir hanya akan membuatmu menjadi sosok yang berbeda."
Leo yang mendengar ucapan sosok disampingnya terkejut, apa begitu jelas ekspresinya yang membenci takdir ini? Saat Leo menengok kearah tempat sosok itu duduk, sosok itu sudah pergi.
Leo mencari keberadaan sosok itu disekitarnya dan mendapati sosok yang sama sedang duduk dengan orang lain jauh didepan sana. Sosok itu tersenyum sesaat sembari menatap Leo sebelum mengalihkan perhatiannya pada orang disampingnya.
Sosok itu adalah Arga kakak sepupu Alex. Dengan sosoknya itu, dia tampak berpikiran dewasa dan menenangkan. Namun siapa sangka jika dia tinggal berdua bersama Alex, sikapnya akan jauh berbeda.
Arga menghampiri Leo, karena dia mendengar suara seseorang.
Karena itu dia mendekati Leo dan sedikit menenangkan nya. Meski dirinya tidak kenal siapa orang pamer ini yang ia ajak bicara.
Sosok yang dengan bangga membuka kancing kemejanya dan memamerkan dadanya yang berotot membuatnya tampak menawan dan panas. Tapi sebenarnya Arga sama sekali tidak menyukai orang yang seperti dia, tapi melihat raut kesal Leo membuat hatinya tersentuh.
Leo yang mendapati Arga yang sudah disisi Alex, sedikit bingung. Namun, saat dirinya mendapatkan senyum dari sosok yang tidak dikenalnya membuat dia sedikit penasaran dengan Arga.
Entah kenapa senyum yang diberikan Arga menenangkannya dan membuatkan tidak lagi tertekan. Meski dirinya masih memikirkan matenya, dia tidak tertekan seperti sebelumnya. Karena itu dia memilih pergi menemui teman temannya dan meninggalkan tempat itu.
...**...
...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...
...**...
.
Setelah jam istirahat selesai, Arga memutuskan pergi ke kelasnya sekarang. Setelah mengantarkan Alex kekelasnya. Kelas yang didapat adik sepupunya tidak jauh dari taman belakang, karena itulah mudah bagi mereka mencarinya.
Namun Arga masih belum menemukan kelas yang dia cari. Saat dia sibuk mencari, dia berpapasan dengan seorang dosen perempuan dan bertanya padanya. Kebetulan dosen yang dia temui adalah dosen yang akan mengajar dikelasnya.
Karena itu dosen itu menyuruhnya untuk ikut dibelakangnya dan sekalian memperkenalkannya dikelas. Ternyata kelas yang didapatnya berlawanan arah, pantas saja dia tidak menemukannya.
Tibanya dikelas, dia memperkenalkan dirinya didepan pada teman temannya. Saat dia memperkenalkan dirinya, pandangannya jatuh pada tiga sosok di kursi belakang yang terlihat mengabaikan kedatangannya.
Arga menatap salah satu dari mereka, dan secara tidak sengaja sosok yang dipandang mengalihkan perhatiannya dan kembali menatap Arga. Saat pandangan sosok itu bertemu dengan mata Arga, sosok itu tampak terkejut dan dipandang aneh oleh dua teman lainnya yang melihatnya terkejut.
Arga merasa itu lucu diam diam tertawa dalam hati nya. Siapa sangka bahwa sosok yang dia temui di taman belakang tadi akan berada dikelas yang sama bersamanya.
Sosok itu adalah Leo dengan penampilan menawannya yang dibenci Arga. Tapi bagaimanapun Arga bersyukur tentang suasana hati Leo yang membaik.
Setelah kelas selesai, dosen yang didepan kelas yang baru saja mengajar memanggilnya untuk pergi ke ruangannya. Arga tidak ada alasan lain untuk menolak pun mengikuti dosen itu kekantor.
Dosen itu menuntun Arga kedepan sebuah ruangan yang diketahuinya adalah ruang pribadi Rektor di kampusnya.
"Silahkan masuk tuan...."
Dosen wanita itu mempersilahkan Arga masuk kedalam ruangan itu dengan nada sopan. Arga hanya mengangguk dan memberi kode pada dosen wanita itu untuk pergi.
Didalam ruang itu hanya ada satu sosok pria paruh baya yang sedang sibuk dengan bukunya. Saat pria itu sadar orang yang ditunggunya sudah datang pun mengalihkan perhatiannya.
"Duduklah...." Pria itu mempersilahkan Arga untuk duduk dihadapannya.
"Apa yang sebenarnya ingin di ketahui tuan?"
"Yang ingin ku ketahui adalah......."
Setelah Arga menyampaikan keinginannya, ia segera beranjak pergi dari sana untuk kembali ke kelasnya. Sebelum Arga membuka pintu, dia membalikan tubuhnya dan menatap pria itu.
"Terimakasih.....dan jangan beritahu siapapun." Pria itu tersenyum mendapat ucapan Arga.
"Baik tuan, apapun yang anda inginkan. Jika kau membutuhkan sesuatu saya akan mencarinya untuk tuan." Arga mengangguk dan pergi dari ruang itu.