
.
Matahari sudah terbenam untuk kedua kalinya, sejak mereka menginap disini. Leo dan yang lainnya bahkan rela tidak masuk kekampus untuk menunggu Zevan keluar dari kamarnya.
Menurut salah satu pelayan, dia melihat Zevan pergi kedalam kamarnya dengan Alex dan sama sekali belum keluar dari dalam kamar.
Pikiran Leo benar benar tidak bisa menetralisir ini semua, menganggap bahwa Zevan bersenang senang didalam sana.
Siapa yang tahu bahwa keberadaan Zevan dan Alex bukan lah didalam kamar itu melainkan di tempat lain.
Pagi itu Alex membawa Zevan kedalam kamar dan menguncinya. Dia mengulurkan tangannya kepada Zevan dan menghilang dari sana.
Dalam sekejap mereka tidak lagi berada dalam kamar, melainkan didalam sebuah gelembung tepat ditengah laut.
"Dimana ini, bagaimana bisa kita disini?"
"Diamlah, kita akan pergi kekerajaan mermaid bagian barat untuk mencari keberadaan buku itu"
Empat jam kemudian......
"Hmmm.....Zevan?"
"Apa? " Zevan mengalihkan pandangannya pada Alex.
"Apa kau tahu arah dimana tempat yang kita tuju?"
Zevan terkejut, pantas saja sudah berjam jam mereka dilaut namun belum sekalipun melihat keberadaan para mermaid.
"Bagaimana aku tahu, kau yang menyuruhku untuk ikut denganmu untuk apa aku repot repot mencari tempatnya. Bukankah seharusnya kau tahu dari awal?"
Alex terdiam:"...."
Saat mereka tersesat didalam lautan, ada seekor gurita yang terlihat ganas menuju kearah mereka. Gurita itu menyerang gelembung mereka dan berusaha menghancurkannya. Alex menggunakan kekuatannya untuk membuat perisai didalam gelembung.
Tidak ada cara lain untuk mereka kabur dari cengramam gurita selain mereka keluar dari gelembung itu dan pergi. Alex terpaksa keluar dan merubah dirinya menjadi seekor mermaid.
Dia memiliki ekor berwarna putih perak yang sangat menarik mata hewan laut lainnya yang lewat. Gurita yang tadinya berusaha sekuat tenaganya untuk membunuh mereka kini berangsut mundur.
"Ka-kau tidak mungkin seekor merman kan?"
Zevan terkejut dengan apa yang dilihat oleh matanya. Dia pikir seharusnya identitas Alex bukan sekedar merman. Apakah masih banyak yang tidak diketahuinya tentang dunia imortal ini?
"Apa kau ingin membunuhku lagi?" Gurita itu menggelengkan kepalanya dengan keras dan memasang wajah ketakutan.
"A-apa tuan akan mengunjungi kerajaan mermaid bagian barat?" Ucap seekor kuda laut yang menghampiri mereka.
"Mmm"
"Baiklah Digo bukalah gerbangnya. Bukankah tidak sopan membuat dermawan kita menunggu" Kuda laut itu berbicara pada gurita besar dengan santai dan memanggil namanya.
Perlahan gerbang besar muncul didepan mereka. "Maafkan temanku tuan, dia bahkan masih terluka karena diserang oleh dua vampire jahat....."
Sekarang mereka paham, kenapa seekor gurita penjaga gerbang begitu ganas. Dan kenapa makhluk makhluk lain yang melihat mereka berusaha mengabaikannya dan pergi.
"Kalian pergilah kedalam sana, sekitar satu jam kalian akan barada dipusat kota. Pusat kota tidak jauh dari istana, hanya saja penjagaan disekitar istana benar benar ketat setelah apa yang terjadi kemarin" Alex menghampiri gelembung Zevan dan masuk kembali kedalam sana.
"Terimakasih....." Dalam sekejap mereka berdua pergi dari hadapan kuda laut dan gurita itu. Sebelum Alex dan Zevan pergi, Alex menggunakan sedikit sihirnya pada mereka.
Gurita yang tadinya masih terluka disembuhkan oleh Alex, dan kuda laut itu, dia berikan sebuah kalung yang dia buat dari kekuatannya.
_____
Mereka tiba ditempat yang ramai dengan para mermaid yang berenang kesana kemari disekitar mereka. Ternyata mereka berada tepat dipusat kota, dengan keadaan yamg masih dalam gelembung membuat orang orang disekeliling mereka menatap kearah mereka.
Mereka perlahan menjauhi keberadaan Alex dan Zevan, yang membuat keduanya terlihat mencolok dipusat kota. Pengawal yang sedang berjaga dipusat kota pun menghubungi teman temannya untuk menangkap kedua nya.
Para pengawal itu mengira bahwa keduanya adalah penyusup lain yang datang untuk menyerang mereka kembali. Melihat kekacauan ini tidak membuat Alex maupun Zevan takut, keduanya masih dengan kharisma yang khas tenang dan berwibawa.
"Dengarkan kami terlebih dahulu, apa kalian benar benar mengira kami adalah penyusup?"
Alex dengan tegas bertanya pada pengawal pengawal yang sekarang telah mengelilinginya dan Zevan. Mermaid lain yang melihat itu menyingkir menjauh dan bersembunyi ditempat masing masing.
"Bawa mereka....." panglima mermaid itu tidak mau mendengarkan Alex dan menyuruh pasukannya untuk dibawa kedalam kerajaan.
"Tu-tunggu" Sosok mermaid cantik menggendong seekor mermaid kecil menghampiri mereka.
"Hahahah.....atas hak apa kau melarang kami hah? Kau hanya mermaid yang beruntung menikah dengan pangeran mahkota" ejek seorang pengawal disamping panglima.
"Diam!!!" panglima marah dengan ucapan seorang bawahannya. Meski Ariel bukanlah seekor mermaid yang terlahir sebagai seorang putri tetaplah dia adalah istri dari pangeran mahkota mereka.
"Maaf putri, meski mereka adalah teman putri tidak pantas bagi mereka memasuki wilayah kerajaan ini sesuka hati mereka. Kami akan membawa mereka bersama kami untuk diintrogasi, sebaiknya kau dan pangeran kecil kembalilah".
Alex dan Zevan bersyukur untunglah kesalahpahaman ini cepat terselesaikan jika tidak, mungkin akan sulit bagi mereka mencari buku itu. Alex mengalihkan pandangannya pada sosok itu terkejut dan memanggil namanya.
"A-ariel....?"
Nyatanya sosok yang menolongnya adalah orang yang dia cintai dulu. Kini kehidupan Ariel sepertinya lebih buruk karena tidak ada pengawal yang menghormatinya.
Ariel sudah menikah karena desakan dari orang tuanya yang mengajukan lamaran Ariel pada seorang pangeran. Siapa yang tahu, bahwa pangeran yang dinikahi Ariel adalah pangeran mahkota dari kerajaan ini.
....
Tibanya didalam istana, raja yang mendengar ada kerusuhan segera menghampiri mereka diaula pertemuan. Para mermaid yang sudah berada diwilayah mereka, ekor mereka akan berubah menjadi kaki.
Begitu pula Zevan dan Alex yang tidak lagi memerlukan gelembung itu, memecahkannya. Mereka dipaksa berlutut dihadapan raja. Namun, mereka merasa terlalu tidak pantas berlutut dihadapan seorang raja pun hanya menundukan kepalanya.
Raja Xin, adalah raja mermaid dikerajaan ini. Dia mempunyai dua orang anak dari istrinya. Pertama adalah pangeran Xiregar, putra mahkota mereka yang sudah menikah dengan Ariel. Terakhir adalah putri Xera, dia adalah seorang putri cantik namun mengalami ketidak sempurnaan secara fisik.
Dia mempunyai kebutaan sejak dia dilahirkan. Yang membuatnya selalu diejek oleh temannya. Karena alasan itulah kedua orang tuanya tidak mengijinkannya lagi untuk bersekolah didaratan dan memilih untuk tetap didalam istana.
Raja Xin, kagum dengan kedua orang dihadapannya. Meski sosok mereka asing tetapi pesona mereka benar benar luar biasa. Dia yang tidak suka dengan perlakuan para pengawal yang kasar pun menyuruh mereka untuk pergi.
Dan mempersilahkan Alex dan Zevan duduk dikursi yang disediakan.
Keduanya tidak pernah berpikir, bahwa raja Xin adalah orang yang ramah. Lalu bagaimana dengan para pengawal yang begitu kasar? Benar benar merusak mood keduanya.
"Apa ada yang bisa aku bantu untuk kalian......"
"Aku rasa hanya memberi kami kebebasan untuk berkeliling saja sudah cukup" Zevan jengah dengan semua ini pun ingin segera mengakhiri semuanya.
"Tapi, seperti yang kalian ketahui, kerajaan ini baru saja mendapat serangan, tidak mudah bagi kita untuk percaya dan membiarkan orang asing pergi sesuka hati mereka disini" Nada bicara yang serius tidak membuat raja Xin kehilangan senyumnya.
"Kakek......."
Sesosok anak kecil berusia empat tahun muncul dari arah belakang Raja Xin. Anak kecil berjenis kelemin perempuan itupun berlari menghampiri Alex dan memeluknya.
"Ma-maaf siapa yang kau panggil kakek nak?"
Alex canggung dengan panggilan yang diberikan gadis itu padanya. Pasalnya dia sama sekali belum pernah menikah ataupun mempunyai seorang kakak yang sudah menikah.
Bagaimana bisa dia mempunyai seorang cucu? Ah sepertinya Alex benar benar melupakan sesuatu, bagaimana dengan Zevan? Bukankah dia sudah mempunyai cucu?.
Zevan yang berada disampingnya tidak bisa menahan tawanya, walaupun hanya sekedar tawa kecil. Alex tertegun melihat tawa Zevan, entah kenapa dia tidak ingin Zevan terlalu terlarut dalam kesedihannya.
Dia lebih suka melihat Zevan yang sekarang. Zevan yang menyadari dirinya diperhatikan, segera menghentikan tawanya.
"Ae apa yang kau lakukan nak? Cepat lepaskan...."
Seorang anak kecil lainnya yang berusia sekitar delapan tahun menghampiri mereka dan terlihat marah pada gadis kecil dipelukan Alex. Gadis kecil yang dipanggil Ae, menoleh sembari memajukan bibirnya dengan kesal.
"Ada apa dengan kaka, ini kakek.....untuk apa aku melepaskannya....bahkan Ae pernah bertemu kakek dulu......"
"Bagaimana kamu tahu jika ini kakek yang kamu maksud Ae?" anak laki laki itu menarik adiknya menjauh dari Alex.
"Tu-tunggu....dimana kita bertemu?" ucap Alex heran, pasalnya dia tidak ingat pernah bertemu dengan gadis kecil ini.
Gadis itu menoleh dan menatap alex dengan kesal. "Jadi kakek tidak pernah.....mengingatku.....huee......ibu.....hue...." gadis kecil itu menangis dihadapan Alex dan Zevan. Zevan menoleh kearah Alex dan menatapnya dengan serius.
"Apa kau tidak ingat pernah mempunyai anak hm...., bagaimana bisa kau tidak bertanggung jawab seperti ini?"
"Hei!!Apa yang kau katakan, aku tidak pernah menikah apa lagi mempunyai seorang anak. Bukankah aku seharusnya bertanya pada mu hah....? Sudah berapa kali kau menikah?"
"Aku...? Bukankah hanya satu kali, dan itu denganmu?" Zevan tersenyum menang.
Alex menatap nanar Zevan: "........"
(Apa apaan ini hue....image ku sebagai seorang pria ternodai)