Mistakes

Mistakes
Mantan Alex



***


Disisi lain, tepat setelah bertemu dengan George, Arga pergi menenangkan dirinya ditepi sungai. Semua akan segera berakhir ditangannya, tapi entah kenapa dia merasa tidak ingin berpisah dengan orang orang disekitarnya.


Setelah ini, mungkin semua orang tidak akan lagi bersamanya. Saat matahari sudah berada tepat diatas kepalanya, dia memutuskan pergi dari sana. Dia pergi untuk bertemu dengan orang yang  akan membantunya.


Dia mengambil handponenya yang berada disaku celanaya dan mencari nama seseorang yang akan dihubunginya. Arga memutuskan untuk bertemu dengan orang itu ditaman.


Tidak lama setelah itu, sosok yang dihubungi Arga berdiri didepannya. Mega, gadis yang sempat dia temui sebelum membawa Zevan pulang bersamanya.


"Sebenarnya apa yang kau mau? "


"Apa kau sudah memutuskan keputusanmu? Jadi dimana tempat tujuh air mata mermaid itu berada? "


"I-iya, aku tidak pernah tahu pasti dimana letaknya.....Aku hanya ditugaskan untuk menjaga jurang penyiksa dan hanya ada satu dilautan. Menurut ibuku penjaga jurang sebelumnya, bahwa tempat yang kau tuju haruslah melewati jurang penyiksa. Tidak ada yang selamat jika memasuki jurang itu. Bagaimana mungkin kau akan terus memaksaku membawamu kesana?"


"Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan walaupun kita menginginkannya. Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku lagi."


Arga menghela napas kasar dan memandang Mega dengan tatapan tajam. "Tugasmu hanya membawaku kesana, apa susahnya bagimu hah?!! Jika kau tidak mau terimalah konsekuensi nya nanti" Arga bangun  dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Mega.


Sebelum Arga pergi jauh, Mega berlari menghampirinya. "Ba-baik aku akan membawamu ketempat itu, lalu apa yang harus aku lakukan lagi?"


Arga tersenyum mendengarnya, akhirnya ada satu orang lagi yang akan membantunya. "Bawa Alex dan Zevan ketempat itu, jangan biarkan orang lain tahu apa yang akan aku lakukan disana".


"A-apa yang kau katakan....Kau tidak bermakaud membunuh mereka kan?"Arga berbalik dan menghadap Mega.


"Apa yang aku lakukan selanjutnya, tidak ada hubungannya denganmu. Jadi cepat bawa aku kejurang itu"


"Ti-tidak....a-akan"


"Apa yang kau katakan!!"


"A-aku tidak....akan membawamu....kesana.....ti-tidak a-akan....."


"Cepat Mega!!! Jika kau menolak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Andrew ditanganku....hahahaa..." Arga mengancam Mega dan membuatnya hampir menangis. Tidak ada pilihan lain selain menyetujui permintaan Arga padanya.


____


Setelah perdebatan kecil diantara mereka, Ariel muncul dari belakang mereka.


"Jadi kau sudah menemukan orang yang kau percayai Alex, selamat yah......Semoga kau selalu bahagia bersamanya"


"U-untuk apa kau memberi selamat pada ku? Bukankah aku yang seharusnya memberimu selamat karena telah menemukan orang yang pantas bersamamu?"


Kemunculan Ariel membuat Zevan bingung, sebenarnya siapa Ariel. Kenapa disaat Ariel muncul, Alex seperti tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Siapa kamu?" ucap Zevan pada Ariel.


"Aku....? Sahabatnya mungkin...bukan begitu Alex?" Ariel tersenyum sembari menghampiri orang yang disebut sahabatnya.


Semua orang yang mendengarnya paham bahwa hubungan mereka  bukan hanya sekedar sahabat dimasa lalu.


Xiregar yang entah sejak kapan memperhatikan mereka muncul menghentikan langkah Ariel. Dia menatap dalam mata istrinya sembari memberi kode dengan menggelengkan kepalanya.


Dia sudah mengetahui sejak awal sebelum pernikahan nya dengan Ariel, bahwa ada orang lain yang dicintai Ariel. Tapi dia tetap menerima Ariel apa adanya walau dirinya sama sekali tidak dicintainya.


Saat Ariel pulang ke istana setelah berjalan jalan, Xiregar merasa bahwa tatapan Ariel berubah. Ariel tampak bahagia tidak seperti biasanya. Saat Ariel pergi dari kamar untuk membaringkan anak mereka dia melangkah pergi dari sana.


Karena pangeran Xiregar penasaran dengan apa yang terjadi, dia mengikuti Ariel hingga Ariel berhenti disudut aula pertemuan.


Meski aneh, Xiregar tidak bisa langsung menghentikannya sebelum mengetahui semua kebenaran.


Ariel tidak sadar telah diikuti suaminya hanya memperhatikan dalam diam orang yang dicintainya. Tapi semua berubah saat orang disamping Alex mengatakan bahwa Alex dan dia sudah menikah.


Ariel benar benar tidak menyangka bahwa perasaannya yang sudah dia buang harus kembali dan menyakitinya.


"Kakek.....Apa kau tidak mengingatku? Anak yang kakek bantu? Saat itu aku kira kakek hanya seseorang yang baik. Tapi kemarin malam, saat ibu pingsan ada seorang kakak yang menemui ku dimimpi. Aku tidak mengenalnya dan tidak pernah bertemu dengannya, tapi dia mengenal kakek dan berbicara padaku bahwa orang yang menolongku saat itu akan menjadi kakek ku..."


Ae tidak mempedulikan suasana canggung disekitarnya berbicara dengan polos. Semua orang yang mendengarnya mengalihkan pandangan mereka pada Alex. Zevan sadar sekarang siapa dua anak kecil dihadapannya ini.


"Kemarilah peluk kakekmu yang asli, dia hanya pengantin dari kakekmu ini......" ucap Zevan sembari merentangkan kedua tangannya.


"Ti-tidak mau.........kakek menyeramkan....."


Ae kabur dan bersembungi dipelukan Alex, dan membuat Alex tertawa. Dia tidak pernah berpikir bahwa Zevan memang tidak mempunyai toleransi yang baik terhadap anak kecil.


"A-apa?" Zevan tidak percaya ini, bagaimana bisa cucunya lebih memilih orang asing dibanding dengan dirinya.


"Ja....ja..jadi sebenarnya si-siapa kalian dan untuk apa kalian datang kesini"


Raja Xin berusaha tenang dengan apa yang terjadi didepannya. Mulai dari kebenaran tentang kedua orang asing ini, hubungan menantunya dan Alex, dan terakhir adalah sosok yang tampak lebih arogan menyebut dirinya kakek dari Ae. Lalu sebenarnya siapa mereka?


***


Suasana kembali tenang, kebenaran satu persatu terungkap. Ariel dibawa masuk kedalam kamarnya oleh suaminya, pangeran Xiregar. Kedua anak kecil itupun pergi untuk memberi ruang pada kakek kakek mereka.


Saat ini keduanya berada didalam sebuah kamar mewah dengan seorang putri terbaring lemah disana. Hanya ada empat orang berada disana, satu orang terbaring lemah diranjang.


Setelah mengetahui identitas dari mereka bahwa mereka adalah kakek dari Avin menantunya, raja Xin mengendurkan kewaspadaannya. Raja Xin membawa mereka masuk kedalam kamar milik putrinya, princes Xera.


Sejak kedatangan Devon dan Agnes ke kerajaan ini, suasana disini benar benar kacau. Princes Xera diserang oleh mereka hingga pingsan dan mereka membawa suaminya pergi bersamanya. Bukan hanya itu, bangunan istana pun tampak sedikit rusak dari luar.


"Kenapa dia sampai terluka parah, siapa yang melukainya? "


"Me-mereka adalah orang yang sama yang membawa Avin"


"Sial....sebenarnya apa mau mereka sih, jika bukan karena mereka mungkin aku tidak akan terlibat...." ucap kesal Alex.


"Jika kau tidak mau terlibat, kenapa kau tidak pergi sekarang hah!!! Pergilah.....tidak perlu lagi membantuku...."


Perasaan kesal tiba tiba datang dari hati Zevan membuatnya marah dan pergi dari sana. Alex menghela napas kasar, mungkin kali ini dia salah bicara yang membuat mood seorang kaisar hancur.


Alex tidak pergi seperti perintah Zevan, dia memilih mengakhiri apa yang dia mulai. Dia akan memulainya dengan menyembuhkan putri Xera terlebih dulu. Alex menyuruh raja Xin yang masih berada diruangan yang sama dengannya untuk keluar.


Didalam kamar, cahaya berwarna hijau keluar dari tangan Alex dan perlahan mengelilingi seluruh tubuhnya.


'Aku tidak pernah menggunakan kekuatanku yang ini, semoga kau tidak terluka olehku nantinya'


Ucap alex pada princes Xera, dari dalam lingkaran sihir berwarna hijau. Tubuh Alex perlahan melayang dan.


*Duaaar*


Lingkaran sihir berwarna hijau itu meledak keseluruh kerajaan ini. Semua orang yang berada didalam istana maupun diluar terlihat bingung dengan fenomena yang mereka lihat.


Cahaya indah itu perlahan menghidupkan kembali kerajaan mereka yang tadinya terlihat sedikit kacau. Zevan yang tadi terlihat marah dan menghindari Alex kini mencarinya. Entahlah dia takut ada yang terjadi pada Alex.