
Saat Arga baru saja selesai berganti baju, ketukan pintu terdengar olehnya dan Alex. Dia memanggil Alex lebih dulu untuk membukakan pintu.
"Alex...siapa yang berkunjung....buka pintunya!" Teriak Arga yang masih malas didalam kamarnya.
Alex yang mendengar teriakan kakak sepupunya itu tidak menghiraukannya dan melanjutkan tidurnya. Karena Alex menggunakan kekuatannya untuk membuat pelindung didalam rumah sehingga teriakan Arga tidak akan terdengar sampai keluar.
Karena itu, orang yang berada diluar tidak akan mendengar suara itu. Hanya orang yang berada didalam rumah saja yang mendengarnya. Arga yang tahu jika Alex sengaja diam, karena malas segera membuka pintu untuk tamu.
Rumah mereka yang cukup jauh membuat mereka tidak pernah menerima tamu siapapun. Dan entah siapa yang berkunjung kerumah mereka sekarang ini.
Arga yang belum sempat mengeringkan rambutnya tampak, seksi dan terlihat lebih tampan. Dia membuka pintu dan mendapati dua orang yang berdiri disana. Salah satunya adalah sosok yang ia temui siang tadi.
Dia adalah Leo yang ternyata teman sekelasnya yang diperhatikan olehnya sejak siang ini. Dan disamping Leo ada Nathan yang terlihat goresan didahinya. Arga yang bertemu Leo kembali tampak berdiri kaku sebelum Leo membangunkannya.
"A...arga..." Ucap Leo yang terkejut, Nathan disamping Leo tampak kebingungan dengan tingkah keduanya. Perasaan aneh tiba tiba muncul saat Leo melihat wajah Arga, ditambah dengan penampilannya yang sekarang ini.
Arga yang sadar segera membawa masuk mereka dan membawakan obat luka untuk Nathan. Didalam kamar, Alex yang mencium bau wangi segera bangun dan keluar. Diruang tengah terdapat Arga dan dua sosok lainnya.
"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Alex yang menghampiri Nathan dan menggantikan Arga untuk mengobatinya.
Sedangkan Arga yang sadar bahwa bukan hanya Nathan yang terluka, ingin mengobati tangan Leo. Tapi, saat Arga hendak menyentuh tangan Leo, dia menariknya dan mengambil obat yang dipegang Arga. Nathan yang menyadari keberadaan sosok yang pagi ini terus menatapnya hanya diam tidak menjawabnya.
"Sepertinya identitasmu lebih dari yang aku bayangkan...." Ucap Leo disamping Nathan sembari memalingkan mukanya.
Meski dia telah membantu Nathan dari sosok jahat itu, tetap saja dia masih membencinya. Karena Nathan berhasil membuat orang dicintainya mengejar Nathan.
Alex yang mendengar ucapan Leo segera menjawab: "Entahlah, aku tidak ingat siapa diriku."
Leo yang mendengarnya langsung bertanya tentang saudara yang disebut Nathan. "Bukankah Andrew saudaramu? Kenapa kau tidak bertanya dengannya?" Ucap Leo.
"Andrew bukanlah saudaraku, aku tahu mereka berbohong tentang identitasku karena mereka orang yang baik." Ucap Nathan yang membuat Leo tidak habis pikir dengannya.
"Orang baik macam apa yang berbohong hah?" Kesal Leo pada Nathan.
Dia kesal karena dia melihat dua sosok jahat itu berusaha membunuh Nathan, sedangkan Nathan sendiri tidak mengingat mereka.
Leo tidak habis pikir dengan Nathan yang mempunyai musuh begitu kuat, dosa apa yang dilakukannya sebenarnya? Sampai sampai ada yang ingin membunuhnya. Nathan hanya melirik Leo tidak menjawab lebih jauh.
"Mereka memang orang baik, mereka menyembunyikan identitas dia karna belum saatnya dia mengetahuinya."
Jawab Alex yang jengah dengan Leo yang terus mengeluh. Arga yang dari tadi diam, sadar bahwa Nathan memanglah dia yang dicari oleh Alex selama ini.
Karena Arga dan Alex hanya tinggal berdua, rumah mereka hanya memiliki dua kamar tidur. Karena itu Arga menyarankan Leo dan Nathan yang sudah diobati Alex untuk segera kembali.
"Mungkin kalian bisa saja selamat tapi tidak untuk orang lain."
Ucap Arga pada mereka dengan penuh misteri. Nathan yang akhirnya ingat pada Andrew dan ibunya menyetujui saran Arga untuk kembali kerumah.
Setelah kepergian mereka berdua, Alex menatap pada kakak sepupunya. "Apa kau tidak bisa mencegahnya?" Alex mulai bertanya pada Arga.
"Aku bukanlah pangeran dari lembah mimpi Lex, aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tapi, aku hanya mendengar bisikan dari seorang wanita paruh baya......" Ucap Arga berusaha menutupi kegelisahan hatinya.
"Apa itu?" Alex menghampiri Arga yang menundukkan kepalanya. "Cinta bisa pergi dan kembali, tapi takdir tidak bisa diubah apapun yang terjadi."
Ucap Arga sembari menatap Alex, dan pergi ke kamarnya. Arga tenggelam dalam pikirannya sendiri, Menurut orang diluar sana, terlahir sebagai Arga adalah keberuntungan. Tapi, menurutnya itu bukanlah keberuntungan melainkan penderitaan secara tidak langsung.
Merasakan apa yang dirasakan orang lain, berusaha tidak peduli, tapi nyatanya hati setiap orang itu ada dasarnya lemah. Alex yang masih duduk ditempatnya menghela napas panjang, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Arga.
Berusaha kuat seperti air tapi nyatanya dia hanya lah sebuah batu yang perlahan hancur oleh air.
...**...
...**...
.
Disisi lain, dua sosok yang mengejar andrew dan Nathan, marah karena tidak bisa menangkap mereka. Mereka terus mencari dan mencium bau samar yang mirip dengan aroma Nathan di sebuah rumah.
Saat mereka tiba dirumah itu ada sosok wanita paruh baya yang mengenakan jubah mewah milik kaisar Zevan dulu. Wanita itulah yang menggunakan sihir terlarang yang berhasil mengundang mereka kesini.
Tiba tiba, tubuh wanita itu meledak penuh dengan sihir yang membuat dua sosok yang tadi melihatnya terluka. Kini dirumah itu hanya ada dua sosok yang terluka parah dan jubah mewah yang jatuh kelantai.
Tepat disaat tubuh wanita itu meledak ada orang lain yang melihatnya.
"Ibuuuuu." Teriakan tiba tiba dari belakang dua sosok jahat itu.
Teriakan itu berasal dari Andrew yang sadar dari pingsannya, dan meminta Clara dan Dion mengantarkannya kerumahnya. Entah kenapa saat itu Andrew terus memikirkan ibunya yang masih berada dirumah sendirian.
Clara dan Dion yang paham dengan keadaan Andrew mengantarkannya kembali kerumah. Saat Andrew kembali kerumahnya dia melihat ada dua sosok jahat yang ia temui berada didalam rumahnya.
Karena itu, Andrew, Clara dan Dion hanya melihat mereka melalui jendela. Andrew memandang kearah yang dilihat dua sosok jahat itu. Didepan sana ada ibu Andrew yang mengenakan jubah mewah milik Nathan dulu dan tubuh ibunya tiba tiba meledak.
"Ibuuuu....... "
Leo yang masih membawa Nathan bersamanya, bingung harus membawanya kemana. Karena dia masih ragu dengan Andrew dan ibunya yang sepertinya menyembunyikan kebenaran dari Nathan.
Bukan berarti dia khawatir padanya, hanya saja dia tidak ingin repot menolongnya untuk kedua kalinya.
"Kemana aku harus membawamu?" Ucap Leo saat dirinya berhenti disamping jalan yang sepi.
"Kerumah ku dan Andrew." Singkat nathan padanya, Leo hendak bertanya tapi dipotong oleh Nathan.
"Mereka yang menolongku, bukan yang membunuhku Leo. Untuk apa aku waspada?" Nathan menyakinkan Leo sembari menatap tepat dimatanya.
Leo yang hanya lewat untuk menolong Nathan tidak punya pilihan lain selain mengantarkannya dengan selamat. Tidak peduli apa yang akan terjadi dengannya selanjutnya itu bukanlah urusannya.
Tibanya dirumah, mereka melihat Andrew yang menangis memanggil ibunya. Andrew terus menangis sembari memegang jubah mewah ditangannya. Nathan terus memperhatikan Andrew didepan sana, tanpa peduli dua orang lainnya yang entah sejak kapan berlutut.
Leo yang mengantar Nathan kebingungan dengan suasana kacau saat ini. Dia melihat dua sosok jahat yang terluka parah dilantai, dia memilih menghampiri mereka. Saat Leo sudah dekat didepan mereka dan hendak membuka tudung jubah itu, tiba tiba mereka berubah menjadi kelelawar dan kabur.
Dia terkejut ternyata dua sosok jahat yang mengejar Nathan adalah vampire kelas atas. Ternyata identitas Nathan benar benar diluar dugaannya.
Nathan yang cukup lama memperhatikan Andrew didepan sana, tiba tiba merasa sakit dibagian kepalanya. Darah keluar dari hidungnya, perlahan rasa sakit itu semakin besar yang membuat Nathan berteriak kesakitan.
Leo yang melihat itu segera membantu nathan untuk duduk. Clara dan Dion yang melihatnya juga panik dan menghampiri Nathan.
"Yang mulia." Ucap mereka yang didengar Nathan sebelum kesadarannya menghilang.
Andrew yang masih sedih juga menghampiri mereka dan menyarankan untuk membaringkan nathan dikamar. Leo yang merasa kehadirannya sudah tidak dibutuhkan segera pamit pada mereka. Dia memilih untuk langsung pulang kerumah nya dan meninggalkan mobilnya yang masih berada di kampus.
Setidaknya dia tahu bahwa Nathan sudah ditangan yang tepat, dia hanya berjaga jika benar identitas Nathan benar benar hebat dia tidak akan membuat keluarganya menderita.
Meski dirinya seorang alpha dari keturunan kerajaan yang kuat masih banyak diluar sana yang bisa menghancurkannya kapan saja.
Dia cukup tahu diri untuk itu, karena dirinya pernah mendengar cerita tentang konflik kekaisaran vampire. Dimana seseorang yang begitu kuat bisa hancur dalam istananya sendiri. Dia hanya mendengar tidak pernah melihat secara langsung vampir keturunan kekaisaran itu.
Di Kampus sore tadi, teman teman Leo yang melihat Leo pergi memilih membiarkannya. Saat Leo mengikuti sosok berjubah abu abu, Mark dan Pure ditemani Vino baru saja kembali dari ruang dosen. Setelah menerima hukuman, mereka segera kembali dan mendapati Leo yang pergi diam diam.
Dia pergi berlari dengan kemampuan Alpha nya dari satu pohon ke pohon lainnya, seperti sedang mengintai seseorang. Karena mereka pikir itu bukanlah urusan mereka, dan mereka memilih menunggu Leo diparkiran.
Namun sampai malam tiba, Leo belum juga kembali ke kampus yang membuat mereka kesal. Mereka memilih pulang dan beristirahat dan melupakan Leo yang bahkan tidak peduli pada teman temannya.