Mistakes

Mistakes
Sekolah Baru



Alex pada akhirnya berpikir, sepertinya ucapan terakhir bibi ada benarnya. "Baiklah bibi, siapkan surat pindah sekolahku ya. Setelah aku pikirkan, sepertinya saran bibi ada benarnya... " Ucap Alex pada bibi di dapur.


"Apa kau yakin Lex?" Ucap bibi pada Alex. Yang ditanyakan hanya mengangguk kecil dan melangkah pergi.


"Kalau kau tidak yakin lebih baik jangan melangkah lebih jauh Lex? Kalau kau membantunya hanya karna ramalan, bukan karena ingin mencari keadilan, lebih baik kau diam." Ucap tegas bibi pada Alex sebelum dia melangkah lebih jauh.


Alex yang mendengarnya segera berbalik dan dengan tegas membantahnya. "Kalau aku tidak yakin, mana mungkin ayah menitipkan ku pada bibi. Mana mungkin ayah membiarkan ku membaca buku itu. Kalau bukan karena saat aku kecil akulah yang meminta ayah, bahwa aku ingin membantunya bibi...aku..yang menyakinkan ayah."


Setelah mendengar ucapan keponakannya, bibi diam diam tersenyum dan bersyukur. Bukan hanya Alex ditakdirkan dengan keajaiban. Namun, juga dengan mengambil jalan yang baik.


Alex mungkin anak yang dingin, namun jika ia menemukan orang yang ia percayai dia akan selalu menjaga orang itu.


"Pergilah kemeja makan, panggil paman dan kakakmu." Ucap bibi.


"Tidak usah memanggilku ibu" Ucap sosok tampan dibelakang Alex. Dia adalah sepupu Alex anak dari bibinya ini, Arga.


Dari penampilan yang tinggi, tampan, dan senyum yang menawan sekilas akan begitu menggoda bagi orang yang melihatnya. Tapi tidak untuk orang yang mengenalnya.


"Siapa yang mau memanggilmu huh....." Ucap Alex berbalik menatap Arga.


"Heh adik sialan, bukankah ibu menyuruhmu memanggilku untuk makan hm..?" Ucap Arga tidak mau kalah.


"Kurasa tidak perlu memanggilmu kan, karena sebelum waktunya makan saja kau sudah kelaparan, duduk dimeja makan pertama. Ingat kau itu kucing gendut peliharaan ku kau tahu...."


Alex tersenyum miring dan pergi. "Eh apa yang kau katakan hah? Kakakmu ini tidak gendut Alex. Dan apa maksud dari kalimat terakhirmu itu hah? Kucing sialanmu dan aku benar benar berbeda sialđź’˘" Ucap Arga yang kesal pada Alex yang mengejeknya dan meninggalkannya pergi.


"Sudah sudah....Arga pergilah makan, jangan dengarkan adikmu." Ucap ibu Arga yang berusaha menahan tawanya karena ulah keponakannya sendiri.


"Apa? ibuuuu lihat dia, adik sialan Arghrrrrhhh...Kalau seperti itu bagaimana dia punya Pasangan nanti." Geram Arga karena kelakuan Alex pada nya.


Setiap kali mereka bersama pasti ada saja pertengkaran kecil seperti sekarang ini. Alex selalu mengejek kelakuan Arga dengan ucapan dinginnya.


Dan Arga yang tampak dewasa diluar jika didepan adiknya ini akan selalu bertingkah seperti benar benar bukan dirinya. Karena itu semenjak Alex pindah kerumah bibinya, dia terlihat hidup begitu juga rumah bibinya.


"Ck, Arga mengalah lah dasar anak mama yang nakal."


"Aaaa tidak adl."


"Kau mengkhawatirkan adikmu, lalu bagaimana denganmu hmm, tingkah mu yang seperti ini, apa ada yang menginginkanmu?"


"Aduh, ibu tidak usah bahas pasangan aku juga nanti bakal ketemu kok tenang aja."


"Terserahlah, pergi sana dan bergabung dengan ayah dan adikmu."


"Baik"


...**...


...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...


...**...


.


Pagi ini Andrew sudah bersiap untuk berangkat kuliah, ditemani juga Nathan yang akan mendaftar disana.


"Ibu aku berangkat dulu yahh dah ibu...ayo Nathan" Ucap andrew sembari melambaikan tangannya pada ibunya.


Saat Andrew menarik tangan Nathan, tiba tiba dihempaskan oleh Nathan entah karena apa.


"Maaf...." ucap Nathan setelah menghempaskan tangan Andrew.


Entah kenapa, tapi perasaan takut gelisah saat seseorang menyentuhnya tiba tiba muncul. Ibu Andrew yang melihat ketidaknyamanan Nathan segera menegur Andrew dan menyuruhnya segera berangkat.


"Andrew apa yang kau lakukan,cepatlah berangkat"


Andrew yang mendengar teguran ibunya segera menyalakan motornya dan berangkat bersama dengan Nathan. Andrew sering dibully karena Andrew masih menggunakan motor butut untuk berangkat, tapi ia tak peduli yang ia pedulikan adalah jerih payah ibunya.


Karena sesuatu akan berharga jika seseorang menghargai kehadirannya dan menjaganya.


Andrew sudah tahu itu, karena bagaimana mungkin orang sepertinya bisa menjadi pusat perhatian dalam sekejap selain karena saudaranya ini.


Penampilan Andrew dan Nathan tidak jauh berbeda mereka memakai pakaian yang hampir sama, yang membedakannya adalah pesona Nathan lebih dominan.


Ada pesona lain di diri Nathan yang membuat orang lain tertarik padanya, selain ketampanannya.


Andrew yang biasa biasa saja berjalan dengan sosok bak seorang dewa bagaimana mungkin Andrew tenang?


Melihat situasi yang tampak membuat Andrew tidak bisa bernapas karena banyak pasang mata yang menatap kearahnya, membuatnya jengah dan ingin segera pergi.


Dia hendak menyeret Nathan pergi, namun ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama saat dirumah tadi. Jadi, ia hanya mengajak Nathan untuk pergi agar tidak menjadi pusat perhatian lebih lama.


Nathan yang jengah karena mereka memperhatikannya hanya mengangguk dan pergi bersama dengan Andrew meninggalkan tempat itu.


Saat Andrew dan Nathan pergi, diam diam ada sosok lain yang memerhatikan mereka dari jauh. Sosok itu mengenakan jubah abu abu gelap, dan tatapan yang tajam tertuju pada Nathan. Setelah cukup lama memperhatikan mereka akhirnya ia memutuskan untuk pergi.


"Akhirnya aku menemukanmu yang mulia." Ucap sosok itu sebelum pergi sembari tersenyum.


Nathan yang mengetahui ada yang memperhatikannya hanya diam dan berpura pura tidak tahu apa-apa. Karena Nathan sadar ia tidak mengingat apapun tentang dirinya termasuk saudaranya ini.


Jadi bagaimana mungkin ia melibatkan dirinya pada musuh yang bahkan tidak diingatnya sama sekali. Entah dia musuh ataupun teman percuma dia tidak bisa mengenalinya.


Setelah mengurus surat surat penting untuk nathan mendaftar, akhirnya Andrew dan Nathan diperbolehkan mengikuti kelas dijam kedua. Andrew mengajak Nathan ke kelas dan duduk disampingnya.


Namun, sebelum Nathan duduk ia disuruh oleh seorang dosen untuk memperkenal dirinya didepan kelas.


Bukan perkenalan panjang yang biasa dilakukan oleh murid baru. Nathan hanya mengucapkan beberapa kata yang membuat Andrew seketika terlibat.


"Nathan, saudara Andrew." Hanya itu yang diucapkan Nathan sebelum ia duduk disamping Andrew.


Dosen yang mendengarnya sedikit terkejut dan menjelaskan bahwa yang ingin lebih mengenal Nathan bisa menanyakan nya pada Andrew. Dosen itu berkata sembari menunjuk pada Andrew disamping tempat duduk Nathan.


Andrew yang menyadari dirinya terlibat hanya menghela nafas panjang. Setelah itu mereka mengikuti pelajaran dengan biasa.


Saat waktunya istirahat Andrew berniat membawa Nathan bersamanya dan mengenalkannya pada teman temannya.


Tapi, saat mereka baru sampai didepan pintu, ada tiga sosok yang menghadang mereka. Yaitu, mahasiswi populer dikelas mereka. Salah satunya adalah Mega, putri duyung cantik dengan mata hijau nya.


Mega sudah memperhatikan Nathan sejak pagi tadi saat diparkiran bersama Andrew. Aroma yang begitu memikat dari Nathan membuat Mega begitu menginginkan Nathan.


Karena itu saat ini ia hanya ingin mengenal Nathan lebih jauh. Andrew yang mengetahui niat Mega berniat kabur bersama Nathan, agar saudaranya tidak diincar lagi oleh Mega.


"Ma...a...ma..maaf....permisi." Ucap Andrew sembari menerobos ketiga sosok itu diikuti Nathan dibelakangnya.


...**...


...\=\=\=•MISTAKES•\=\=\=...


...**...


"Ck, seperti nya kehidupan ku setelah ini akan berubah." keluh Alex pada Arga yang hanya tidur di kasurnya. Padahal hari ini Alex mulai mengemasi barang bawaannya. Tapi si kakak laknatnya ini hanya datang dan rebahan saja. sialan bukan?


"Hia Alex, kau akan membawa kucingmu?" Keluh Arga karena tidurnya terganggu oleh kucing gendut milik Alex.


"Diam lah. Tidak, kucingku terlalu berharga jika ku bawa."


"Lalu singkirkan!"


"Enak aja. Dibanding ribut karena kucing, lebih baik bantu aku berkemas kak."


"Dih males banget."


"Arga!" teriak ibunya dari luar kamar.


"Ah iya iya."