MIDNIGHT

MIDNIGHT
Pasrah



Dalam rangkulan Jo aku berjalan sambil menutup mata ku , karena diriku tidak mampu untuk melihat apa yang ada di hadapan ku .


" Alin , kamu harus melihatnya , jika kamu ada pertanyaan kamu bisa tanyakan kepada ku ..."


Jo membuat ku harus membuka mata ku , karena apa yang dikatakan oleh Jo membuat ku ingin mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di dalam hati ku . Perlahan lahan aku pun membuka mata ku dan terlihat jelas tubuh seorang lelaki yang berhari hari kutunggu kedatangannya , yang berhari hari aku sangat merindukan dirinya .


" MARCOO.....!!!! banguuung MARCOOO.... banguun...!!!


aku pun tidak sanggup menahan lagi emosi ku , aku pun histeris ketika aku melihat tubuh Marco yang sudah terbujur kaku di tempat tidur yang terbuat dari meja baja yang dingin dan dengan wajah yang sudah membengkak . Ku peluk tubuh Marco dan ku menangis di dadanya .


Ini bukanlah mimpi ku , ini bukanlah keinginan ku , walaupun ini sudah terjadi tetapi ini bukan lah pengharapan ku .


Jo memeluk ku... dia tidak membiarkan diriku berlama lama menangis memeluk tubuh Marco .


" Alin... sudah cukup , tolong kembali ke perjanjian kita , jangan sampai orang orang disini curiga , karena akan menjadi masalah buat kita berdua ..."


Bisikan suara Jo , mengendalikan emosiku , aku harus menjaga sikap dan kepedihan yang harus ku tahan di hati ini . Aku pun mengusap air mata ku dan kini ku usahakan aku tidak menangis di hadapan Marco walau sejujurnya jiwa ini rasanya tidak bisa untuk bernapas leher ini terasa tercekik dan aku ingin mati bersama Marco , aku tidak mau di tinggal oleh Marco .


" Alin , ayoo ... sudah cukup lama kita berada disini , kita harus kembali ."


Jo merangkul diriku dan mengajak ku keluar dari kamar mayat ini , sungguh berat diri ini untuk meninggalkan Marco disini , walaupun langkah kaki ini berjalan meninggalkan tubuh Marco yang terbujur kaku , kepala dan mata ini tetap menatap tubuh itu hingga aku sudah tidak bisa melihat nya lagi .


Mata ku pun gelap dan tubuh ini merasa sudah tidak dapat melangkah lagi . Aku Pun terjatuh dalam pelukan Jo . Jo mengetahui aku berjalan sudah sempoyongan dengan sigap dia menopang dan menggendong tubuh ku lalu dia membawa ku kedalam mobil nya dan dia memberikan ku sebotol air mineral .


" Alin , minum lah ini , aku tau kamu merasa sedih , dan itu bukan hanya kamu saja yang merasakannya ..."


" PLAK ... !!"


Dengan kekuatan yang tersisa , aku pun segera bangun dari dalam mobil dan aku memberikan tamparan kekesalan ku ke pada Jo . Tamparan ku ini bukan untuk yang pertama kali ku berikan kepada Jo .


" ******* kamu Jo...!!! kenapa kamu tidak bilang bahwa MARCO SUDAH MATIII .... !!!!


Bukan hanya teriakan yang ku berikan kepada Jo , aku pun menendangnya dan seperti biasa dengan penuh emosi aku menendang nya memukulnya dan meninju mukanya .


" Aaacchhkk....!! teriak Jo .


kali ini Jo benar benar kesakitan , kulihat di hidung nya menetes darah segar hasil tinju ku dengan segenap emosi dan kebencian ku , aku melakukannya khusus kepadanya . Seperti biasa juga Jo hanya diam , dan Ia tidak membalas atau marah kepadaku . Jo hanya menatap ku dengan tatapan yang penuh rasa bersalah , dia mengakui kesalahannya karena menyimpannya semua ini dariku , sedangkan diriku sudah berkali kali bertanya kepadanya .


" Kenapa kamu diaam...!! kenapaa kamu diam sajaa JOOO..... !!"


Aku masih memarahinya dan belum puas rasa hati ini untuk menyakiti dirinya .


Aku terus memukulinya dan menjambak jambak rambutnya hingga akhirnya aku pun melemah dalam kepuasan amarah ku yang telah kuluapkan kepada Jo .


Dengan darah yang terus menetes di hidung nya dan juga baju nya yang sudah terkoyak koyak menutupi tubuh nya yang robek robek oleh kuku kuku ku yang tajam .


Jo menghampiri ku yang bersimpuh sambil menangis karena aku merasa sudah tidak sanggup untuk menjalani hidup ini tanpa Marco .


" Alin ... jika itu membuat mu bahagia , lakukanlah , lakukan sepuas hati mu , asal berjanjilah , kamu harus bahagia ."


Jo memeluk ku sambil berkata kepada ku , di dekapnya kepalaku , erat didalam dadanya . Aku hanya bisa menangis dan hanya bisa menangis mulut ini sudah tidak sanggup untuk berteriak memanggil nama Marco karena sesak itu sudah menggerogoti jiwa ku .


Akupun terkulai lemas dan pasrah merasakan Jo menggendong ku kembali dan membawaku kedalam mobil nya .


Aku hanya bisa menangis dan terus menangis , walau mata ini melihat Jo sesekali mengusap darah dari hidungnya dan meringis kesakitan karena tangan nya penuh dengan cakaran hasil kuku ku , dia tetap berusaha membawa mobil ini tenang , dia tidak mau membuat ku merasakan ketakutan , padahal dia bisa membawa mobil ini kedalam emosi nya .


Jo , setidaknya membuat ku merasakan nyaman untuk saat ini .


dengan nada yang masih sangat marah kepada Jo , aku meminta Jo mengantar ku ke Rumah Sakit ."


Jo , melihat ku dia bingung dengan permintaan ku .


" Alin , kamu sakit ? apa yang kamu rasakan , sakit dimana ?"


Dengan wajah gusar dan khawatir , Jo bertanya kepada ku , dia melupakan hidungnya yang masih mengucurkan darah , tangan kanan yang menutupi hidungnya langsung memegang kening ku dan leher ku , karena dia mengira aku memang benar benar sakit sehingga aku harus kerumah sakit .


" Itu...berhenti di situ , aku lihat ada klinik di depan ."


aku langsung menyuruh Jo menghentikan mobilnya tepat didepan Klinik kecil yang ada di pinggir jalan ini .


" Kenapa disini ? aman kita kerumah sakit saja ? biar jelas periksa sakit kamu semuanya ..."


Jo tidak mau berhenti di klinik kecil pinggir jalan ini , entah apa yang dia pikirkan sehingga dia todak mau untuk berhenti disini .


" Sudahlah ... jangan cerewet ! berhenti sekarang atau aku akan melompat dari mobil ini ! ancam ku .


" Iya ... iya... aku akan berhenti , jangan bertindak gila


aku mohon..."


Wajah Jo , semakin khawatir melihat ku mengancam dirinya . Sesungguhnya Jo bukanlah lelaki yang lemah karena dia adalah seorang Polisi , dia sigap dan diapun harus cepat dalam bertindak , namun dia saat ini dimataku sudah seperti kerbau yang menurut kepadaku .


Mobil pun berhenti tepat di depan klinik yang ku maksud , aku pun segera turun dari mobil begitu juga dengan Jo , dia menyusul ku dengan cepat , karena dia terlalu khawatir kepada ku .


Tidak usah ditanya , setiap mata yang memandang ke arah Jo pasti mereka semua akan berfikir bahwa Jo lah yang mau di periksa bukan diri ku .


" Maaf tuan silah kan isi data datanya dulu ... "


seorang perawat langsung menghadang diriku dan Jo .


Aku pun segera duduk di meja informasi untuk mengisi data data yang di perlukan , dan Jo tanpa disuruh dia duduk di sebelah ku .


" Maaf Nyonya tolong diisi dulu data datanya ..."


Mendengar perkataan perawat yang ada di hadapan ku mataku langsung melotot karena dia memanggil ku Nyonya , sedangkan Jo malah tertawa kecil bahagia .


" Maaf mba , saya Nona , saya mau antar laki laki ini berobat karena saya merasa bertanggung jawab untuk memgobatinya ...!"


aku berkata dengan sedikit senyum sinis kepada perawat yang memanggil ku Nyonya lalu menatap tajam ke arah Jo yang kaget setelah mendengar alasan ku datang ke klinik ini .


" Alin ... ternyata kamu ..."


" Sudahlah jangan banyak kata kata , isi itu data datanya !"


Kusodor kan kepada Jo , kertas formulir yang harus di isi oleh pasien , karena dia adalah pasiennya jadi harus Jo lah yang mengisinya .


" Cepat laaah...!! karena aku masih banyak urusan dengan mu , aku tidak mau setiap waktu melihat tetesan darah yang keluar dari hidung mu , membuat ku jijik melihat nya !"


Dengan nada yang ketus aku berkata kepada Jo .


karena aku tidak mengharapkan wajah kagum nya untuk ku . Dimata ku , dia tetap tidak berubah , karena bagiku dia adalah laki laki pelampiasan nafsuku .


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\= >>>>>