
Blaze
"Kau tak mengundang keluargamu sama sekali dalam pernikahan kita?" tanya Glow.
"Tidak, hanya Aron dan teman-temanku saja yang kuundang. Tak masalah, bukan?" sahut Blaze.
Blaze dan Glow sedang membahas rencana pernikahan mereka yang akan diadakan seminggu lagi di Amerika. Blaze memilih Amerika karena keluarga besar Glow banyak yang menetap di sana.
"Apa yang membuatmu begitu membenci ayahmu hingga kau ingin sekali membunuhnya setiap emosimu meledak?" tanya Glow memberanikan dirinya menanyakan hal itu karena ia ingin tahu masalah yang dihadapi Blaze dengan keluarganya.
Blaze tak langsung menjawab dan masih diam. Lalu pria itu memegang tangan Glow dan mencium punggung tangannya.
"Terlalu sakit untuk kubicarakan. Kau tak keberatan jika aku tak ingin menceritakannya? Aku tak ingin mengorek hal itu karena itu masa lalu terburukku," jawab Blaze dengan wajah sendunya.
Glow menangkup pipi Blaze dan mengusap pipinya.
"Apakah sesakit itu?" tanya Glow.
Blaze hanya mengangguk. Glow kemudian memeluk Blaze dan memberikan rasa nyaman dan tenang di hati pria itu.
"I love you," bisik Glow dan itu adalah hal langka yang jarang diucapkan oleh Glow.
"Katakan sekali lagi," sahut Blaze seraya memeluk Glow.
"I love you," ucap Glow lagi.
"Bisakah mengucapkannya lebih puitis lagi?" sahut Blaze.
Glow tertawa lirih dan melepaskan pelukannya lalu menatap mata tajam itu.
"Loving you never was an option. It was a necessity," ucap Glow tersenyum lalu mengecup bibir Blaze.
(Mencintaimu tidak pernah menjadi sebuah pilihan. Itu adalah suatu keharusan)
"Itu kata-kata yang indah. Sangat sangat indah," jawab Blaze dan kemudian memagut bibir Glow.
Lalu pria itu mengangkat tubuh Glow ke atas pangkuannya dan mereka kembali berciuman mesra dalam waktu yang cukup lama.
Tautan bibir Blaze dan Glow akhirnya terlepas karena kehadiran Arvy yang mengganggu adegan romantis mereka.
"See? Dia benar-benar pengganggu, Honey," ucap Blaze sembari mengusap bibir Glow yang basah.
Arvy duduk di kursi yang ada di samping Blaze.
"Di mana sarapanku?" tanya Arvy yang tak memakai bajunya dan hanya memakai celana pendeknya saja.
Glow turun dari pangkuan Blaze dan duduk kembali ke tempat duduknya tadi.
"Mungkin sepuluh menit lagi," jawab Glow.
"Kita makan pagi di sini?" tanya Arvy ketika melihat beberapa pelayang sudah menyiapkan makan pagi yang cukup banyak di beberapa meja yang ada di halaman belakang.
"Ya, Blaze selalu makan pagi bersama para pegawainya di sini, Kak," jawab Glow.
Arvy melihat ke arah Blaze.
"Kau cukup manis juga ternyata," ucap Arvy.
"Jika aku tak manis, adikmu tak akan terjerat dalam pesonaku. Kusarankan bersikaplah manis pada wanita agar kau cepat mendapat jodoh," sahut Blaze menyindir pada status Arvy yang masih single.
Arvy tertawa mendengar itu.
"Aku tak perlu bersikap manis karena banyak wanita yang mengantri untuk naik ke ranjangku," sahut Arvy.
"Para wanita itu pasti wanita murahan," jawab Blaze pedas seperti biasanya.
Glow hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa lirih mendengar perdebatan khas dari kakak dan calon suaminya itu.
"Aku tak mengerti mengapa adikku menyukai pria menyebalkan seperti dirimu," ucap Arvy.
"Karena dia sudah terlatih sejak dini menghadapi pria menyebalkan seperti kakaknya," jawab Blaze tak kalah pedas.
"Sudahi perdebatan kalian. Ayo makan," ucap Glow menengahi perdebatan lucu itu.