ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 31



Blaze


"Morning," bisik Blaze ketika melihat Glow membuka matanya.


Glow tersenyum dan ia mengakui bahwa kini ia suka dengan pemandangan indah di depannya itu.


Glow melihat Blaze sudah sangat rapi dengan jas formalnya. Dan baru kali ini Glow melihat penampilan Blaze seperti itu.


"Kau akan bekerja?" tanya Glow.


"Hmm, ada yang harus kuurus pagi ini. Aku hanya sebentar saja di sana. Kau tak masuk bekerja, bukan? Kau harus istirahat seharian ini," ucap Blaze.


"Ya, aku tak masuk kerja hari ini. Direktur menyuruhku libur," jawab Glow yang kini beranjak duduk.


"Aku menunggumu di taman belakang. Kita akan makan pagi bersama," ucap Blaze.


Glow mengangguk dan tersenyum.


Blaze mendekat ke arah Glow dan tampaknya pria itu akan mencium bibir Glow. Tapi Glow menutup bibirnya sendiri dan memggeleng.


"Aku belum sikat gigi," ucap Glow.


Blaze tertawa pelan karena itu artinya Glow tak keberatan jika ia mencium bibir Glow.


Blaze membuka tangan Glow dan kemudian mengecup bibir Glow sekilas. Hal itu membuat wajah Glow langsung bersemu merah.


Dan ia bersyukur Blaze tak melihat hal itu karena pria itu langsung berbalik pergi.


Glow memegang pipinya dan menggigit bibirnya. Lalu ia memegang dadanya yang berdebar.


"Apa-apaan ini?" gumam Glow sembari menggelengkan kepalanya dan beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi.


*


*


Setelah makan pagi, Blaze berpamitan pada Glow untuk pergi ke perusahaan. Dan Blaze kembali mengecup bibirnya seolah menegaskan bahwa itu akan menjadi kebiasaan mereka mulai sekarang.


Meskipun belum ada kata-kata penegasan dari keduanya bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


*


*


"Kita cukup melobi para pemilik saham lain agar mendepak Blaze dari perusahaan ini. Karena jika tidak, perusahaan ini akan hancur di bawah kepemimpinannya," sahut Dawson -- Ayah Delon yang tak lain adalah paman Blaze.


CEKLEK


Pintu ruangan itu terbuka dan Dawson tampak kaget ketika melihat Blaze di pintu. Dawson langsung beranjak dari kursi kebesaran Blaze dan berjalan menghampiri pria itu.


"Kau sedang melalukan simulasi menjadi CEO, Paman?" tanya Blaze mengejek dengan menyunggingkan senyum miringnya.


Ya, jika Blaze tak datang ke perusahaan, Dawson sering mengambil alih tugas Blaze dan duduk di ruangan Blaze.


"Jika tak ada ayahku, kau akan menjadi gembel, Blaze," sahut Delon membela sang ayah.


Blaze tertawa mendengar hal itu.


"Kalian ingin kupecat? Katakan jika iya, karena aku akan langsung mengabulkan keinginan kalian," jawab Blaze lalu ia berjalan ke arah mejanya dan melewati Dawson serta Delon.


"Kau sama sekali tak memiliki sopan santun!" Kesal Delon karena merasa Blaze tak memiliki sopan santun pada sang ayah.


"Aku tak perlu bersikap sopan pada orang licik seperti kalian," jawab Blaze dan Tommy -- sang asisten -- sudah masuk juga ke dalam ruangan.


"Tommy, usir mereka jika tak ingin posisinya kuberikan pada orang lain," perintah Blaze.


Dua orang itu langsung pergi dari ruangan Blaze dengan wajah masam.


Lalu Tommy memberikan semua berkas yang harus ditanda tangani oleh Blaze.


"Apakah aku perlu membacanya dulu?" tanya Blaze.


"Itu akan lebih baik, Tuan," jawab Tommy.


"Oke," jawab Blaze dan ia mulai mempelajari dokumen yang akan ditanda tanganinya itu hingga ternyata memakan waktu yang cukup lama dan keluar dari perkiraannya.


Hingga akhirnya ia mengirim pesan pada Glow bahwa ia akan pulang sedikit telat dan tak bisa menemaninya seharian di mansion.


Glow tak masalah dengan hal itu dan bahkan ia menyemangati Blaze agar bekerja dengan lebih baik.


Tentu saja itu membuat Blaze semakin semangat dan pria itu tampak tersenyum sepanjang hari meskipun pekerjaannya tampak menggunung.


Tommy yang melihat perubahan Blaze, ikut senang melihatnya. Dampak Glow pada Blaze sangatlah besar dan membuat Blaze menjadi lebih baik serta semangat dalam menjalani hidupnya.