
Seminggu berlalu dan luka di kepala Glow sudah sembuh. Glow kembali beraktivitas kembali di rumah sakit seperti biasanya. Dan Blaze semakin rajin ke perusahaan serta semakin giat mempelajari apa pun untuk membuat perusahaannya tetap dalam masa kejayaannya.
Blaze sudah mengungsikan semua kerabat sang ibu yang bekerja di perusahaan itu ke perusahaan cabang di kota kecil. Pada awalnya itu membuat banyak protes dari para pejabat perusahaan yang ada di pihak mereka. Tapi pada akhirnya Blaze lah yang memiliki kekuasaan tertinggi di perusahaan itu dan ia lah yang menentukan siapa yang berhak bekerja di sana.
Blaze tak pernah lagi absen bekerja dan membuat para pegawai semua tampak awas karena setiap hari Blaze mengawasi kinerja pegawainya. Perubahan sikap Blaze di dengan oleh sang ayah -- Alonso Ruiz.
Alonso tentu senang mendengar hal itu karena ia tak khawatir lagi dengan penyokong politiknya yang akan membuat karirnya semakin bersinar. Bukan karena Blaze mendukungnya, tapi setidaknya nama Blaze bisa diperhitungkan sebagai putranya yang memiliki kekuatan yang cukup besar ketika ia menghadapi lawan politiknya.
"Kita akan makan malam dengan Blaze nanti malam," ucap Alonso pada Luisa -- sang istri.
"Dia tak pernah mau makan malam dengan kita, bukan? Dan sebaiknya tak perlu daripada ada keributan nantinya," jawab Luisa.
"Sudahlah, kau tinggal menurut saja," kata Alonso.
"Aku tak terlalu siap dengan kata-kata pedasnya dan aku sudah pernah merasakan hal itu dulu. Dia tak akan pernah suka pada kita sampai kapan pun," ucap Luisa sambil menyuapi putrinya yang masih berumur lima tahun yang secara teknis adalah adik kandung Blaze karena memiliki benih yang sama dari sang ayah.
"Dia akan menikah dan wanita itu adalah anak dari konglomerat terpandang. Jadi aku akan bersikap baik pada wanita itu agar Blaze melunak padaku," ucap Alonso dan Luisa tampak terlihat tak senang dengan hal itu.
Ya, Luisa sebenarnya menyukai Blaze dulu karena ia adalah sekretaris Blaze. Tapi ternyata Alonso tertarik pada Luisa ketika pria itu mengunjungi Blaze ke perusahaan dan menawarkan segala bentuk kemewahan padanya. Luisa tak menunggu Blaze lagi karena Blaze sangat susah untuk didekati. Luisa sudah mengenal Blaze sejak kuliah.
Blaze bahkan tak pernah menganggapap anak Luisa sebagai adiknya karena Blaze merasa jijik melihat hubungan ayahnya dan Luisa yang memiliki jarak umur tiga puluh tahun.
Luisa merasa sangat penasaran dengan sosok calon istri Blaze yang bisa dengan mudahnya mengambil hati Blaze dan membuat Blaze ingin menikah karena sebelumnya Blaze sangat anti dengan sebuah pernikahan.
*
*
"Tuan Alonso mengajak makan malam di mansionnya nanti malam, Tuan," ucap Adolf -- asisten Blaze yang ketiga.
"Tolak saja," jawab Blaze.
"Tuan Alonso sudah mendengar hubungan anda dengan Nona Glow dan dia juga mengundang Nona Glow ke sana, Tuan," ucap Adolf.
Blaze menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Adolf lalu mengumpat keras. Ia tak suka jika ayahnya ikut campur dalam kehidupan asmaranya bersama Glow dan Blaze bisa menebak bahwa sang ayah akan memanfaatkan status sosial tinggi Glow untuk kepentingannya sendiri.