ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 40



Blaze memandangi wajah Glow sepanjang makan malam. Glow mengusap pipi Blaze.


"Habiskan makananmu," ucap Glow.


"Aku sudah kenyang melihatmu," jawab Blaze.


"Blaze, jangan sampai otakmu menjadi miring karena cinta," kata Glow.


Blaze tertawa pelan dan itu membuat Glow bisa membuat tawa itu kembali.


"Tawamu hanya untukku," ucap Glow yang tampaknya kini pintar menggombal.


Blaze tertawa kecil dan menekan pipi Glow yang chubby itu.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau milikku," sahut Blaze.


"Jika kita menikah, apa kau tak keberatan jika kita menunda memiliki anak?" tanya Glow.


Blaze tersenyum.


"Anak bukan prioritas sebuah pernikahan. Kau adalah prioritasku dan hanya kau yang menentukan kapan kau ingin memiliki anak," jawab Blaze.


Glow mencubit pipi Blaze karena terlalu gemas dengan pria itu.


"Kau tahu? Sebenarnya aku cukup sulit jatuh cinta karena aku selalu membandingkan pria yang mendekatiku dengan ayah dan kakakku. Ayah dan Kakakku adalah pria yang terbaik yang pernah kukenal dan kupikir aku tak akan menemukan pria se-sempurna mereka. Tapi ternyata aku salah karena aku menemukan dirimu yang tak kalah dari mereka," ucap Glow.


Blaze tersenyum dan mengecup bibir Glow.


"I love you," bisik Blaze.


"I love you too," sahut Glow dan mereka berciuman di meja makan itu.


"EHEM!!" Suara deheman itu terdengar dari arah sekat ruangan tengah.


Dan Blaze tampaknya tahu milik siapa suara itu. Blaze menghentikan ciumannya dan mengusap bibir Glow yang basah. Lalu Blaze dan Glow menoleh ke asal suara itu.


"Viggo?" sahut Blaze.


"Hai, kakak sepupu? Sepertinya kau tak kesepian lagi?" sahut pria muda bernama Viggo itu.


Viggo berjalan mendekati area meja makan dan duduk di samping Blaze lalu dengan santainya mengambil makanan di meja makan besar itu.


"Kau makan di sini sekarang? Tak makan di taman lagi?" tanya Viggo.


"Mereka sudah makan dan aku hanya menemani calon istriku saja," jawab Blaze.


"Dia sepupuku dari pihak ayahku," jawab Blaze.


"Hai, aku Viggo Marlon Ruiz. Kami seumur dan dia adalah teman berkelahiku," ucap Viggo yang tampaknya bersifat lebih supel daripada Blaze yang dingin.


"Kapan kau pulang? Mengapa kemari? Kau punya rumah sendiri, kan?" sahut Blaze seperti mengusir Viggo.


"Ck, kau tahu aku tak akur dengan ayahku dan istri barunya itu," jawab Viggo.


"Belilah rumah pribadi. Jangan menumpang di mansionku terus jika kau pulang kemari," sahut Blaze.


"Ck, jangan pelit padaku. Ingatlah bahwa aku yang mengelola perusahaan kita di Barcelona hingga menjadi sebesar sekarang," jawab Viggo.


"Bukan kau yang mengelolanya melainkan asistenmu," sahut Blaze.


"Jadi kau tak tinggal di Madrid?" tanya Glow.


"Ya, aku tinggal di Barcelona. Aron menceritakan tentangmu dan aku ikut senang mendengar bahwa Blaze sudah pensiun dari dunia hitamnya," celetuk Viggo.


Glow tertawa mendengar itu.


"Jangan dengarkan dia. Kau sudah selesai? Kita ke dalam jika sudah," ucap Blaze.


"Hmm, ayo," jawab Glow sembari mengangguk.


"Hei, kalian meninggalkanku makan sendirian?" protes Viggo.


"Bukankah kau selalu makan sendirian?" sahut Blaze.


"Ya Tuhan. Jahan sekali sindiranmu? Mentang-mentang kau tak sendirian lagi, begitu?" ucap Viggo dan berdecak.


"Kalau begitu carilah istri agar ada yang menemanimu, Viggo," sahut Glow.


"Aku tak ingin menikah dan akan membujang seumur hidupku," jawab Viggo.


Glow tertawa.


"Datanglah ke pernikahan kami di Amerika. Kau akan menemukan wanita-wanita cantik dari klan keluargaku," sahut Glow.


"Good idea. Aku suka wanita cantik," jawab Viggo tersenyum lebar.


"Jangan sampai kau bermain-main dengan wanita di sana atau kau akan pulang ke Spanyol hanya tinggal nama saja, Viggo," kata Blaze mengingatkan.


Glow hanya tertawa dan mereka berdua berjalan masuk ke dalam kamar. Lalu Blaze menggendong tubuh Glow karena kepala Glow masih lumayan pusing akibat insiden itu.