ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 29



Blaze


Glow akhirnya pulang dari rumah sakit lebih lambat dari perkiraannya. Hal itu membuat tubuhnya begitu lelah karena ia belum beristirahat sejak pagi. Ia bahkan meminta perawat untuk menyuntiknya agar tak sampai sakit.


Ketika akan menuju lobby dasar rumah sakit, Ares yang juga ikut dalam tim operasi tadi tampak menghampiri Glow.


"Glow, tunggu!!" panggil Ares.


Glow berbalik dan menoleh pada Ares lalu kembali berjalan pelan.


"Aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam," ucap Ares.


"Tak perlu, Blaze akan menjemputku, Ares," jawab Glow yang wajahnya terlihat letih.


"Kau terlihat pucat, Glow. Kau harus istirahat di apartemenmu sendiri. Lagi pula dia sudah sembuh, bukan?" sahut Ares.


Glow tak menjawab dan mereka masuk ke dalam lift bersama. Glow menyenderkan tubuhnya di dinding lift.


"Glow, kau benar-benar pucat," ucap Ares dan memegang kening Glow yang terasa panas.


"Kau demam," kata Ares.


"Ya, aku sudah minum obat tadi. Jadi aku hanya butuh istirahat," ucap Glow.


"Aku akan mengantarmu dan kau tak perlu pulang ke rumah pria itu. Aku memaksa, Glow. Kau harus memperhatikan kesehatanmu sendiri," kata Ares.


Sekali lagi Glow hanya diam dan memejamkan matanya sampai mereka tiba di lobby rumah sakit. Dan ketika akan melangkah keluar, tubuh Glow ambruk karena sudah terlalu lelah.


Ares menangkap tubuh Glow dan menggendongnya. Blaze yang ternyata sejak tadi menunggu di lobby melihat hal itu. Blaze langsung berlari dan merebut Glow dari Ares.


Pria itu dengan mudahnya mengangkat Glow dan membawanya ke ruangan emergency.


"Ada apa dengannya?" tanya Blaze.


"Dia kelelahan," sahut Ares meskipun ia begitu kesal pada Blaze.


"Blaze, kita pulang saja," kata Glow yang masih membuka matanya.


"Tidak, kau demam, Glow. Wajahmu terlalu pucat," jawab Blaze.


Blaze menghentikan langkahnya dan berbalik menuju mobilnya.


"Hei, kau harus membawanya ke ruangan emergency, Blaze!" bentak Ares.


Blaze tak mendengarkannya dan membuat Ares menahan tangan Blaze.


"Kau mau mati, ha?" sahut Blaze kesal.


"Dia sakit," jawab Ares.


"Ares, aku hanya butuh istirahat. Aku akan pulang bersama Blaze," ucap Glow.


"Lepaskan tanganmu," ucap Blaze pada Ares.


Lalu Ares pun melepaskan tangannya dan membiarkan Blaze pergi membawa Glow meskipun hatinya begitu cemburu melihatnya.


Ia tahu bahwa Glow biasanya tak semudah itu mengizinkan seorang pria menolongnya di saat ia sakit sekalipun. Glow adalah wanita paling mandiri yang pernah dikenalnya dan tak mau menyusahkan orang lain. Itu lah mengapa Ares begitu kagum dan menyukai Glow.


Ares bahkan ingin melamar Glow meskipun Glow hanya menganggapnya sebagai teman dekatnya saja. Ia tak masalah dengan hal itu, setidaknya ia bisa mendekati Glow dan mengubah perasaan wanita itu untuk bisa mencintainya suatu saat.


Dan itulah sebabnya Ares pindah mengikuti Glow ke Madrid. Dia ingin lebih dekat dengan Glow agar bisa mengambil hatinya. Tapi kedatangan Blaze tampaknya membuat jurang besar untuknya dan Glow.


*


*


Blaze tiba di mansionnya dan membawa Glow ke dalam kamarnya.


"Aku tidur di sofa saja, Blaze," ucap Glow lirih ketika Blaze merebahkannya di atas ranjangnya.


"Ssstt ... Tidurlah," sahut Blaze dan mengusap kening Glow yang mulai berkeringat.


"Thank you," bisik Glow dan menutup matanya lalu Blaze mengecup keningnya.


"Aku akan menjagamu," bisik Blaze di samping Glow.