
12
Setelah itu, Glow berbicara di luar ruangan bersama sang Direktur yang juga merupakan Professor senior di sana dan Glow sangat menghormati pria itu.
"Apa? Mengapa aku harus menemaninya? Aku Dokter bedah dan bukan perawat. Itu bukan tugasku, Prof," ucap Glow yang keberatan ketika Professor menyuruhnya untuk merawatnya di mansion.
"Ini permintaannya dan dia tak mau dirawat jika bukan kau yang merawatnya. Dia orang penting, Dokter Glow. Ayahnya pejabat penting di negara ini dan keluarga ibunya adalah keluarga kerajaan Spanyol. Rumah sakit kita disorot karena penembakan itu sudah masuk media dan itu artinya kau juga disorot karena wajahmu terpampang di banyak media sosial sebagai penyelamat sang Tuan muda Ruiz," ucap Professor.
"Dia keturunan Raja Spanyol?" tanya Glow yang baru tahu hal itu.
"Ya dari pihak neneknya. Jadi otomatis kau harus menjaganya selama dia dalam penyembuhan. Semua tugasmu di sini akan digantikan dengan Dokter dari kota lain untuk sementara. Tapi kau tetap akan memanggilmu jika kau diperlukan di sini hanya untuk operasi saja," jawab Profesor.
"Oh God ... Seharusnya aku membiarkan Dokter lain yang mengoperasinya. Aku malas berurusan dengan dia, Prof. Dia menyebalkan," sahut Glow.
"Gajimu akan dikembalikan lagi seperti semula dan bahkan akan dinaikkan oleh mereka," jawab Professor.
"Aku tak butuh gaji besar jika harus berurusan dengan pria itu," ucap Glow yang masih keberatan.
"Itu artinya kau akan dipindahkan dari rumah sakit ini atau bahkan dari negara ini. Dan namamu akan tercoreng karena hal ini, Dokter Glow," sahut Professor.
Glow memegang kepalanya yang kini benar-benar pusing karena ulah Blaze itu. Dan Glow sadar bahwa ia tak punya pilihan selain menerima hal ini. Dia tak mau pindah dari Spanyol karena ia sudah betah di negara itu serta pengalamannya di sana baru berjalan sebentar.
Glow bisa saja meminta bantuan kedua orang tuanya untuk membangunkan sebuah rumah sakit di Inggris, tapi Glow merasa dirinya belum cukup mampu mengelola sebuah rumah sakit di saat pengalamannya masih terlalu sedikit menurutnya.
*
*
Blaze memegang kepala Glow ketika kepalanya hampir mengenai besi peralatan medis di sampingnya. Glow pada akhirnya menerima keputusan sang Professor karena ia tak memiliki pilihan lain.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah mansion megah milik Blaze di mana semua pelayannya sudah menunggunya di depan. Pintu ambulance terbuka sedikit keras dan membuat Glow langsung terbangun ketika mendengar suara keras itu.
Glow mengusap matanya dan melihat ke arah Blaze. Glow memeriksa kening Blaze dan merasakan suhu sedikit panas di sana.
"Kau demam," ucap Glow dan kemudian menyuruh petugas medis memindahkan Blaze segera ke dalam karena Glow akan menyuntikkan obat di selang infusnya.
Blaze memiliki banyak pelayan di mansionnya dan ia memang lebih suka jika mansion besarnya itu ramai. Itulah mengapa ia membuat mansionnya menjadi tempat berkumpulnya geng mereka.
Tak lama kemudian, beberapa teman Blaze juga datang ke mansion untuk melihat keadaan Blaze. Setelah Blaze tiba di kamar, Glow langsung melakukan tugasnya sebagai Dokter pribadinya yang harus selalu stand by di sampingnya.
Beberapa menit kemudian, Glow meminta izin untuk beristirahat sebentar pada Blaze.
"Aku ingin tidur sebentar. Bisakah aku pulang sebentar saja?" tanya Glow.
"Tidurlah di sini karena itu kesepakatan kita," ucap Blaze.