
23
Ares adalah anak dari direktur rumah sakit di mana Glow bekerja saat ini. Mereka adalah teman kuliah dan Ares lah yang merekomendasikan rumah sakit itu pada Glow, Meskipun begitu, Glow tetap masuk dengan proses seleksi ketat karena rumah sakit itu termasuk rumah sakit yang terbaik di Spanyol.
"Aku dengar kau menjadi dokter pribadi Keluarga Ruiz," ucap Ares.
"Ya," jawab Glow.
"Berhati-hatilah. Mereka bukan keluarga sembarangan. Apalagi yang kau tangani sudah terkenal kebrutalannya," ucap Ares.
"Ya, aku bisa menanganinya. Dia tak sebrutlal itu," jawab Glow.
"Daddy yang memaksamu, bukan? Aku bisa bicara dengannya jika kau keberatan menjadi Dokter di sana," ucap Ares.
"Tidak, Ares. Ini bukan masalah bagiku. Oh ya, bagaimana denganmu? Kau hanya sebentar di sini?" tanya Glow.
"Aku berencana ingin pindah kemari," jawab Ares.
"Wah, itu bagus. Aku menunggu aksi dokter hebat sepertimu di sini," sahut Glow tersenyum.
Ares tertawa lirih.
"Aku ingin lebih dekat denganmu. Aku dengar ada dua dokter yang mengejarmu di sini?" sahut Ares tersenyum.
"Hei, jangan membicarakan hal ini. Aku sedikit alergi dengan hal-hal semacam ini," jawab Glow.
"Apakah aku masih memiliki kesempatan? Berapa persen?" tanya Ares.
"Nol persen.," jawab Glow singkat dan jelas.
"Oh my ... Kau menyakiti hatiku, Glow," sahut Ares tersenyum.
Glow tertawa lirih.
"Aku harus pergi, Ares. Dia menungguku," ucap Glow.
"Pria itu?" tanya Ares.
"Namanya Blaze, Ares. Dia punya nama," sahut Glow dan beranjak dari kursinya.
"Aku tak bisa janji, Ares. Nanti akan kuhubungi jika aku bisa datang," jawab Glow dan kemudian berpamitan lalu pergi dari sana.
Glow berjalan ke area parkir dan melihat jam di arloji mewahnya pemberian dari sang ayah. Hari sudah sore dan ia berharap Blaze tak masalah dengan keterlambatannya ini.
Tadi Glow mengirim pesan pada Blaze bahwa dia akan ke apartemennya dulu untuk mengambil sesuatu, tapi sampai sekarang Blaze tak membalas pesannya itu.
*
*
Menjelang makan malam, Glow belum pulang ke mansion dan ia begitu kesal dengan hal itu. Obat yang disediakan oleh Glow tadi tak diminumnya sama sekali.
Semua teman Blaze sudah pulang karena Blaze yang menyuruhnya. Blaze kesal karena tadi anak buahnya mengirimkan sebuah foto di mana Glow sedang bercengkrama dengan seorang pria di cafe rumah sakit.
Blaze turun dari ranjangnya dan mengambil jaketnya yang ada di lemari. Lalu pria itu berjalan ke keluar menuju parkiran mobilnya yang ada di basement mansionnya.
Kekesalannya membuat ia ingin pergi ke club meskipun luka di perutnya masih basah.
Begitu tiba di club, Blaze memesan minuman meskipun temannya sudah mencegahnya untuk minum. Mereka tahu Blaze sedang kesal saat ini karena Glow. Dan itu artinya tak ada yang berani menyenggol Blaze di saat pria itu dalam mode upset.
Setengah jam kemudian, Glow masuk ke area club setelah Aron mengirimnya pesan bahwa Blaze sedang ada di club saat ini.
Glow yang melihat Blaze langsung menghampirinya dan mengambil gelas yang ada di tangan pria itu. Blaze menatap tajam ke arah Glow.
"Kau masih ingat padaku? Kupikir kau sudah tak peduli padaku. Apakah karena aku akan memecatmu jika kau tak disiplin dengan tugasmu merawatku?" ucap Blaze sinis.
"Maaf, aku terlambat. Ayo, kita pulang" kata Glow.
"Tidak, pulang lah sendiri," sahut Blaze.
Glow menarik tangan Blaze dan pria itu justru menarik tangan Glow hingga jatuh di atas pangkuan Blaze.
Mereka saling menatap lekat ketika jarak wajah mereka sangat dekat. Glow merasa dadanya berdebar ketika melihat mata coklat itu. Wanita itu meneguk salivanya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Sorry, oke?" ucap Glow lirih dan menatapnya tulus.
Glow sudah cukup mampu meredam emosi Blaze. Dan Glow sudah bisa menahan emosinya sendiri untuk tak mudah terpancing oleh tingkah Blaze.