ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 25



Setelah selesai mengobati luka di perut Blaze, Glow mengganti bajunya di kamar sebelah.


Lima belas menit kemudian, Glow kembali ke kamar Blaze dan pria itu belum tertidur karena memang menunggu Glow.


“Oh ya, Blaze. Aku sudah memberitahu pada psikiater untuk mencoba memeriksa kondisimu,” ucap Glow.


“Tak perlu. Dengan adanya dirimu, sudah cukup bagiku. Tinggallah di sini meskipun aku sudah sembuh nantinya,” kata Blaze.


“Kau pemaksa rupanya. Kita hanya Dokter dan pasien, Blaze,” jawab Glow lalu duduk di sofa.


“Tidurlah di ranjang. Tubuhmu akan sakit jika setiap malam tidur di sana,” kata Blaze.


Glow melihat mata Blaze yang begitu tulus mengatakan hal itu. Ini adalah sosok lain dari Blaze di mana sebenarnya hati Blaze begitu lembut tak seperti penampakannya dari luar yang terkesan kasar.


“Terima kasih, tapi sofamu ini sangat empuk dan nyaman bagiku,” jawab Glow tersenyum dan mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Blaze memiringkan tubuhnya agar bisa menatap wajah cantik Glow.


“Blaze, tidurlah. Jangan memandangiku,” ucap Glow.


Lalu Blaze mengulurkan tangannya dan Glow melihat tangan Blaze. Glow tahu apa artinya itu. Wanita itu kemudian memegang dan menggenggam tangan Blaze.


Blaze menggenggamnya semakin erat lalu mengecup punggung tangannya.


“Menikahkah denganku,” ucap Blaze lirih dan tatapannya sangat serius.


Lalu Glow memegang kening Blaze dengan tangan satunya lagi.


“Kau tidak demam,” ucap Glow.


“Aku serius,” jawab Blaze.


Glow menatap lekat netra coklat itu.


“Kau hanya terobsesi padaku, Blaze. Dan rasa itu akan hilang seiring waktu setelah kita tak bertemu lagi jika kau sudah sembuh,” ucap Glow.


“Apakah ini dalihmu saja karena kau tak menyukaiku?” tanya Blaze.


“Blaze, perkenalan kita baru dua hari sejak aku tinggal di sini. Jadi ini hanya perasaan tiba-tiba yang hanya berlangsung sesaat saja,” jawab Glow memberi pengertian pada Blaze.


“Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Dan sikap kasarku padamu karena aku berusaha menepis perasaan itu dan aku membencinya,” ucap Blaze.


“Kau tak menyukaiku?” tanya Blaze.


“Aku menyukaimu, tapi bukan perasaan yang spesial. Aku menyukaimu karena aku menganggapmu seperti temanku yang lain,” jawab Glow.


Blaze terdiam dan baru kali ini dirinya ditolak oleh seorang wanita karena biasanya para wanita yang mendekatinya terlebih dulu.


Lalu Blaze melepas tangan Glow dan memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan.


“Hei, kau marah padaku?” ucap Glow.


“Ya,” jawab Blaze.


Glow tertawa lirih karena Blaze benar-benar bertingkah seperti anak kecil yang merajuk karena tak dibelikan mainan kesukaannya.


“Good night, Boy,” ucap Glow.


Blaze kembali membalikkan tubuhnya melihat ke arah Glow. Pria itu kemudian duduk dan menarik sofa panjang yang ditiduri oleh Glow agar benar-benar menempel dengan ranjangnya.


“I’m not a boy,” bisik Blaze yang mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Glow.


Glow meneguk salivanya dan dadanya mulai berdebar. Glow memundurkan tubuhnya tapi Blaze menarik tangannya.


“Kau takut padaku? Atau kau takut jika aku mendengar debaran jantungmu, My Beautiful Doctor,” kata Blaze dengan senyuman miringnya yang menawan.


“Sama sekali tidak,” sahut Glow lirih hingga nafasnya terasa di wajah Blaze karena jarak wajah yang sangat dekat.


Mata Blaze masih menatap lekat netra biru Glow hingga tanpa sadar bibir mereka hampir bersentuhan. Hal itu membuat dada Glow semakin berdebar tak karuan.


“Good night,” bisik Blaze yang kemudian merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjangnya.


Glow langsung membalikkan tubuhnya mengalihkan pandangannya dari mata tajam Blaze. Wajahnya telah memerah dan ia tak menyangka akan salah tingkah seperti ini dengan apa yang dilakukan Blaze tadi padanya.


*


*


JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARU AUTHOR YG BARU TAYANG HARI INI