ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 18



Blaze


Glow mengantar Blaze ke dalam kamar dan memberikan obat terlebih dulu pada pria itu sebelum dirinya keluar dari kamar.


"Aku tak mau minum obat. Beri aku wine saja," ucap Blaze.


Suasana damai tadi kembali berubah menjadi suasana tensi tinggi.


"Tidak boleh," jawab Glow sembari mengambil obat dari botol obat.


"Ini minumlah," ucap Glow memberikan dua butir obat pada Blaze dan juga air minumnya.


Blaze tak mengambilnya dan hanya melihat mata Glow yang sudah terlihat menahan kesal.


"Ini, minumlah. Jangan menguji kesabaranku, Blaze," kata Glow.


Blaze masih diam tak mengambil obat itu.


"Blaze, please!" ucap Glow lagi.


Blaze menggeleng dan hanya berwajah datar saja.


Lalu Glow memaksa Blaze membuka mulutnya dan memasukkan obat itu ke mulut Blaze tapi Blaze membuangnya ke luar jendela.


"Jangan memaksaku," ucap Blaze.


"Kau seperti anak kecil saja. Kau tak akan sembuh jika seperti ini," kata Glow.


"Ya, aku tak ingin sembuh agar kau tetap di sini," jawab Blaze.


Glow mengerutkan keningnya.


"Oke, jika kau sembuh aku akan masih selalu ke sini. Jadi cepatlah sembuh untuk membuatku bahagia," kata Glow.


Blaze tampak diam dan berpikir.


"Kau pikir aku anak kecil?" sahut Blaze.


"Uuuurrgghh ... Mengurusmu lebih sulit daripada mengurus anak kecil," kesal Glow yang sudah tak bisa menahan emosinya.


"Tanpa obat, aku juga bisa sembuh. Aku sering terluka sejak kecil dan aku jarang meminum obat, jadi aku tak butuh obat itu," ucap Blaze keras kepala.


Ingin rasa Glow memukul keras kepala Blaze agar otaknya kembali benar.


Lalu Glow mengambil jarum suntiknya dan menyuntikkannya ke lengan Blaze.


Blaze menahan tangan Glow ketika wanita itu akan berbalik pergi.


"Kau mau ke mana?" tanya Blaze.


"Tentu saja keluar dan kembali ke kamarku," jawab Glow.


"Kamarmu di sini dan kau tidur di sini. Menemaniku," ucap Blaze.


"Apa?? Apa-apaan kau ini. Aku hanya doktermu dan bukan pengasuhmu, Tuan," sahut Glow.


"Itu kesepakatan kita. Luka di perutku masih basah karena operasi dan kau tak boleh meninggalkanku sendirian," ucap Blaze.


"Ooohh God ... Mengapa kau benar-benar menyusahkan? Kau tak mau minum obat, tapi kau masih butuh aku di sampingmu," sahut Glow.


"Itu hak ku untuk memiilih. Aku lebih suka dirimu daripada obat," ucap Blaze.


"Kalau begitu kau harus mengikuti perintahku," kata Glow yang masih sanggup berdebat dengan pria menyebalkan itu.


"Tidak, meskipun aku menyukaimu, bukan berarti kau bisa mengaturku," ucap Blaze.


Glow menatap tajam ke arah mata coklat Blaze. Bisa-bisa dia terkena darah tinggi jika harus merawat Blaze terlalu lama.


"Aku bisa mati muda jika semua pasienku seperti dirimu," jawab Glow.


Blaze hanya mengedikkan bahunya dan masih memegang pergelangan tangan Glow.


"Oke, aku akan menemanimu tidur di sini.Tapi aku tidur di sofa saja," jawab Glow.


"Lepaskan tanganku sekarang," lanjut Glow.


Lalu Blaze melepaskan tangannya dan mengambil telepon kabelnya yang ada di atas meja nakas.


Blaze menelepon seorang pelayan dan menyuruhnya ke kamar. Selang beberapa menit, sang pelayan pun datang dan masuk ke kamar Blaze.


"Ada apa, Tuan?" tanya pria itu.


"Pindah sofa itu di sebelah ranjangku," ucap Blaze pada sang pelayan.


Glow yang sudah duduk di sofa akhirnya berdiri kembali dan hanya menggelengkan kepalanya saja ketika melihat apa yang diperintahkan Blaze pada pelayannya itu.


"Kau harus tidur di sampingku," kata Blaze pada Glow yang memandang heran pada pria tampan itu.