
Blaze 21
Glow bangun di keesokan paginya dan kemudian melihat Blaze masih tertidur di ranjangnya. Tangannya masih memegang tangan Glow dan sepertinya Blaze tak melepaskannya semalaman.
Glow membuka genggaman tangannya dari Blaze dengan sangat pelan agar Blaze tak terbangun. Blaze membutuhkan istirahat yang banyak dan tidur akan membuatnya akan selalu tetap di ranjang. Jadi, itu akan membuatnya tak terlalu banyak bergerak.
Glow kemudian memeriksa suhu tubuh Blaze untuk memastikan pria itu tak terkena infeksi di luka tembaknya. Setelah memastikan Blaze tak demam, Glow keluar dari kamar untuk mandi di kamar sebelah. Ia akan melakukannya dengan cepat sebelum Blaze bangun dari tidurnya.
Setengah jam kemudian, Glow keluar dari kamarnya. Ia segera menuju ke kamar Blaze dan pintu kamar Blaze terbuka. Glow melangkah lebar karena ia mendengar keributan dari dalam kamar Blaze.
Glow tiba di depan pintu dan melihat ke dalam kamar. Blaze tampak menahan leher ayahnya sendiri ke dinding berwarna abu-abu itu.
"BLAZE!!" teriak Glow dan berusaha memisahkan Blaze dari ayahnya.
Glow melingkarkan tangannya ke perut Blaze dari belakang dan menariknya sekuat tenaga karena Blaze terlalu kuat untuk ditarik.
"Blaze, please. Kau bisa membunuhnya!" bentak Glow.
Lalu Blaze melepaskan tangannya dari leher Alonso. Glow mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berusaha menarik tubuh Blaze.
Alonso memegang lehernya yang memerah dan merasa sesak itu. Glow menyuruh Alonso pergi karena kehadirannya akan membuat Blaze semakin tak bisa mengontrol emosinya.
Lalu Alonso pergi dari sana dengan wajahnya yang masam serta ketakutan. Glow masih memeluk Blaze dari belakang dan mengusap dadanya untuk menenangkannya.
"Sudah lebih baik?" tanya Glow dari belakang.
Blaze memegang tangan Glow lalu mengecupnya. Kemudian Blaze berbalik dan menundukkan wajahnya hingga melihat ke arah wajah cantik yang menenangkannya.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Blaze yang membuat Glow mengerutkan keningnya.
"Aku tak mengerti maksudmu, Blaze," ucap Glow.
"Ya, karena aku doktermu jadi kau akan bergantung padaku sampai kau sembuh. Ayo, kita makan pagi sekarang," ucap Glow dan melepaskan tangan Blaze lalu mengambil kursi roda di pojok kamar.
Blaze menatap mata Glow.
"Blaze," ucap Glow agar Blaze segera duduk di kursi rodanya.
Lalu Blaze pun duduk di kursi roda dan Glow mendorongnya ke luar kamar. Semua pelayan Blaze sudah menunggunya di taman belakang di mana semua makanan sudah disiapkan.
Lalu Glow duduk di sebelah Blaze dan kemudian mereka pun makan pagi bersama-sama para pelayan lainnya seperti biasa. Glow bahkan menyuruh beberapa pelayan bergabung di meja mereka yang hanya terisi dua orang saja.
Glow tampak beramah tamah dengan beberapa pelayan yang sepertinya sudah dikenalnya. Blaze hanya melihat interaksi itu dengan matanya yang selalu memandang tajam.
Setelah makan pagi selesai, Glow dan Blaze kembali ke kamar karena Glow akan memberikan obat pada Blaze. Ketika berjalan ke arah kamar, Glow melihat segerombolan pria masuk ke area ruang tengah dan mereka adalah teman-teman Blaze.
"Morning, Blaze," ucap Aron dan Blaze menoleh pada teman-temannya itu.
Lalu Blaze meminta Glow untuk mendorong kursi rodanya ke sofa ruang tengah. Blaze tak mau kembali ke kamar karena ia akan mengobrol dengan teman-temannya.
Lalu Blaze berdiri dan duduk di sofa.
"Aku akan mengambil obatmu dulu," ucap Glow.
"Hmm," sahut Blaze singkat lalu Glow pun pergi ke dalam kamar untuk mengambil obat. Blaze sudah mau mengikuti perintah Glow untuk minum obat.
"Dia sangat cantik. Apakah aku bisa menjadikannya dokter keluargaku juga?" tanya salah satu teman Blaze.
"Kau dan keluargamu tak akan selamat jika mengambilnya dariku," jawab Blaze dan disambut tawa dengan teman-temannya.
Dan mereka mengerti bahwa itu artinya Glow adalah milik Blaze yang tak boleh diganggu oleh siapapun.