ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 42



Blaze 42


Blaze menjemput Glow malam itu di rumah sakit dan ia ternyata tak mendapati Glow di sana. Teman Glow mengatakan bahwa Glow sudah pulang dan dijemput oleh supir. Dan Blaze tahu siapa yang menjemput Glow serta ke mana Glow pergi.


Blaze langsung melajukan mobil dan menuju ke arah masion ayahnya. Sejak tadi Blaze tak bisa menelepon Glow dan tampaknya ponsel Glow mati hingga ia tak bisa menghubunginya.


Sepanjang jalan Blaze selalu mengumpat kasar karena ia tak suka dengan tindakan ayahnya.


*


*


Glow tiba di sebuah mansion yang cukup megah dan kini di depannya ada ayah Blaze dan seorang wanita muda yang sepertinya seumur dengan Blaze.


"Halo, Nona Wilson," sapa Alonso dengan sangat ramah.


"Maaf, aku pikir tadi adalah supir Blaze. Apakah anda sengaja melakukan ini, Tuan Ruiz?" sahut Glow.


Ya, supir tadi mengatakan pada Glow bahwa ia disuruh Blaze untuk menjemput Glow. Tapi ia tak menyangka bahwa ini adalah ulah ayah Blaze agar bisa bertemu dengannya.


"Ya, maafkan aku melakukan hal itu padamu, Nona. Bisakah kita bersikap biasa saja dan tak terlalu formal?" kata Alonso.


"Maaf, aku harus pulang karena Blaze pasti mencariku," jawab Glow.


"Tidak perlu karena Blaze akan kemari juga," ucap Alonso.


Luisa melihat ke arah Glow dan memandangnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Glow sangat menyadari hal itu. Dari wajah Luisa, wanita itu terlihat tak suka dengan Glow.


"Oh ya, ini istriku. Namanya Luisa," kata Alonso mengenalkan Glow pada Luisa.


BRAK!!


Pintu depan terbuka keras dan membuat semuanya melihat ke arah pintu. Glow melihat kedatangan Blaze yang terlihat sangat marah. Glow lansung berbalik dan menghampiri Blaze lalu memeluknya untuk meredakan amarahnya.


"Tak perlu marah. Ayo kita pergi dari sini," bisik Glow sambil memeluk Blaze karena ia tahu betapa buruknya hubungan Blaze dan Alonso.


Glow mengusap-usap lembut punggung Blaze dan kemudian berjinjit lalu mengecup dagunya.


"Kita pergi, hmm?" ucap Glow lagi dengan suara lirih.


Blaze menunduk dan menatap mata biru Glow yang meneduhkan baginya.


"Ya, kita pulang," jawab Blaze akhirnya dan berusaha menahan amarahnya pada sang ayah.


"Kau akan menikah dan kau tak akan mengundang orang tuamu, Son? Apa kata mereka nanti jika calon menantunya tak menghormati ayahnya?" tanya Alonso.


Blaze memandang tajam ke arah Alonso dan Glow mengusap lengan Blaze agar pria itu tak terpancing kemarahannya.


"Kita pergi," bisik Glow dan melepas pelukannya dan menarik tangan Blaze.


Saat ini bukan waktunya untuk menjadi penengah di antara perselisihan Blaze dan ayahnya. Glow lebih memillih membawa Blaze pergi dari sana karena ia tahu emosi Blaze akan meledak juga jika terlalu lama di sana bersama ayahnya.


Glow sudah mulai paham karakter Blaze dan ia tahu bagaimana cara menangani emosi Blaze. Glow mengambil cara dengan mencegah emosi Blaze agar tak keluar lebih besar lagi daripada mengatasi kemarahan Blaze yang mungkin akan lebih susah diredakan.


Blaze kemudian mengikuti langkah Glow di sampingnya ketika wanita itu menarik lengan Blaze dengan lembut. Alonso sebenarnya sangat menyayangi Blaze dan bahkan bisa menukar nyawanya sendiri untuk kehidupan Blaze. Hanya saja cara yang dilakukannya salah dan terlalu sering bertentangan dengan Blaze yang justru membuat Blaze tak bahagia sejak kecil.


Hingga dendam itu mengendap lama di dalam hati Blaze dan menorehkan luka yang terlalu dalam bagi Blaze.