ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 22



Blaze 22


Ketika mengambil obat untuk Blaze di kamar, ponsel Glow berbunyi dan itu adalah dari rumah sakit.


"Halo," sahut Glow.


"Kau harus secepatnya ke rumah sakit, Dokter. Kami membutuhkanmu untuk operasi dua jam lagi," ucap suara dari seberang telepon.


"Baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi," jawab Glow dan langsung menuntup ponselnya.


Lalu Glow segera keluar dan memberikan obat untuk Blaze.


"Minumlah," perintah Glow sembari memberikan obat dan segelas air pada Blaze.


Blaze mengambil obat itu dan segera meminumnya.


"Good boy," ucap Glow tersenyum.


"Wuhuuuuuu ...," seru teman-teman Blaze.


"Bad boy become a good boy?" sahut Adam dan mereka kembali tertawa.


Glow biasa saja menghadapi banyak pria di sekitarnya karena ia sudah terbiasa dengan hal itu.


"Blaze, aku akan ke rumah sakit sebentar. Ada operasi yang membutuhkan tenagaku. Nanti aku akan langsung kemari jika sudah selesai," ucap Glow dengan nada bicara yang sedikit lembut agar Blaze mengizinkannya pergi.


"Ya, pergilah," jawab Blaze dengan tenang.


Glow tersenyum dan ia tenang jika meninggalkan Blaze yang kini tampak sudah tak emosi lagi.


Lalu Glow berbalik pergi dan menuju kamarnya untuk mengambil tas serta jas dokternya. Setelah itu, Glow keluar dari kamar dan menghampiri Blaze lagi.


"Kuharap kalian menemaninya di sini sampai aku pulang. Dan halangi dia jika berjalan ke mana-mana," ucap Glow pada teman-teman Blaze.


"Baik, Dokter," sahut Adam tersenyum.


"Thank you. Aku pergi dulu," sahut Glow.


Dan wanita itu pun keluar dari ruangan itu menuju ke halaman depan di mana supir Blaze yang akan mengantarnya ke rumah sakit karena sampai sekarang mobil Glow masih terparkir di rumah sakit.


*


*


"Kau terlihat betah di rumah, Blaze," ucap salah satu teman Blaze.


Blaze tak menjawab apa pun dan hanya tersenyum tipis seperti biasanya.


"Kau yakin dengannya, Blaze? Dia bukan dari keluarga sembarangan," ucap Aron.


"Justru karena itu. Dia pasti bukan wanita sembarangan," sahut Blaze.


Blaze hanya mengedikkan bahunya. Blaze mengakui dirinya sudah terpikat pesona Glow. Tapi Blaze berusaha membentengi dirinya agar tak sampai jatuh cinta pada Glow karena menurutnya cinta itu akan menyakitkan baginya.


*


*


Glow tiba di rumah sakit dan langsung ke ruangannya. Kedatangannya disambut oleh beberapa temannya dan ingin mendengar cerita Glow selama berada di mansion mewah milik Blaze.


"Hei, ayo ceritakanlah. Bagaimana kalian di sana? Apakah terlibat cinta lokasi?" tanya Buena ingin tahu.


Buena mengikuti Glow berjalan di sampingnya.


"Buena, tak ada hal-hal semacam itu di pekerjaan kita. Sudahlah, aku akan bersiap karena akan ada operasi besar sebentar lagi," jawab Glow.


"Kalian tidur bersama?" tanya Buena tak patah arang.


"Kau gila? Ck, pergilah," sahut Glow dan membuka pintu ruangannya.


"Oh ya dua dokter penggermarmu itu mencarimu selama kau tak ada di rumah sakit," kata Buena.


"Aku tak peduli hal itu, Buena," ucap Glow dan menutup pintunya.


Buena tertawa lirih dan pergi dari depan pintu.


*


*


Tiga jam kemudian, Glow sudah selesai mengoperasi dan kini sedang beristirahat di ruangannya. Dia akan pulang ke apartemennya terlebih dulu sebelum kembali ke mansion Blaze.


Tak lama kemudian, Glow ke luar dari rumah sakit menuju halaman parkir.


"Glow!!" panggil seorang pria ketika Glow membuka pintu mobilnya.


Glow berbalik dan melihat seorang pria muda yang dikenalnya.


"Ares? Kau di sini?" tanya Glow.


"Ya, aku baru pulang semalam dan aku kemari untuk mencarimu. Bisakah kita minum kopi bersama?" tanya pria bernama Ares itu.


"Maaf, aku sedikit sibuk," sahut Glow.


"Hanya sebentar saja. Kita bisa minum di cafe rumah sakit saja," jawab Ares.


"Baiklah, hanya sebentar saja, oke?" sahut Glow tersenyum.


Ares mengangguk dan kemudian mereka kembali masuk ke dalam rumah sakit.