ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 38



Blaze 38


BUG


BUG


BUG


Satu persatu lima pria itu dipukul oleh Blaze dengan tangannya. Umpatan keras dan kasar mewarnai pemukulan itu hingga lima pria yang duduk terikat di kursi itu tampak babak belur dengan luka yang cukup parah di wajah mereka.


Blaze menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke arah pria yang menjadi ketua dari geng tersebut.


"Ck ck ck ... Kau terlalu percaya diri dengan kemampuan kecilmu itu, Dude," ucap Blaze yang kemudian menyundutkan api rokoknya pada leher pria itu hingga membuat pria itu berteriak.


"Kau sangat beruntung karena aku tak menggunakan besi di tanganku dan tak sampai memotong tanganmu dengan pisau tajamku hari ini. Aku masih sangat baik pada kalian. Lain kali aku tak akan membiarkan kalian hidup. Jangan mencoba-coba mencari masalah denganku lagi. Jika kalian menyentuhnya seujung kuku pun, akan kupastikan kalian mati dengan cara yang paling mengenaskan karena aku akan menyiksa kalian perlahan hingga kalian lebih memilih mati daripada hidup tersiksa," ucap Blaze.


Blaze mengambil tongkat kayu dan memukul mereka kembali satu persatu.


"Blaze!! Stop!! Ini sudah cukup," kata Aron yang selalu menjadi rem bagi kebrutalan Blaze.


Blaze berhenti dan terdiam lalu melihat satu persatu pria itu.


"Wajah kalian tertanam lekat di otakku dan jangan sampai berani muncul di hadapanku," ucap Blaze dengan wajah dinginnya yang selalu menakutkan.


Blaze membuang tongkat kayu itu dan membuka kain yang menutupi buku jarinya agar tak ada luka lecet di sana ketika memukul musuhnya. Lalu setelah itu, Blaze berbalik pergi dari sana.


"Buang mereka di tengah hutan yang sangat jauh dari jalan besar. Aku harap mereka tak berhasil menemukan jalan pulang," ucap Blaze pada Aron dan temannya yang lain.


"Kami akan mengurusnya, Blaze. Kau jagalah Glow," ucap Aron ketika Blaze melangkah pergi.


*


*


Blaze kembali ke mansionnya dan membersihkan tubuhnya sebelum kembali ke rumah sakit. Ia kemudian bergegas mengganti bajunya dan langsung kembali ke rumah sakit di mana Glow dirawat.


Setibanya di sana, Blaze melihat pemandangan yang benar-benar tak ingin dilihatnya. Ares berada di kamar perawatan Glow sedangkan Glow masih terlihat tertidur nyenyak karena pengaruh obat.


Blaze tak bersuara dan langsung berdiri di samping Ares.


"Keluar," ucap Blaze pelan tapi matanya menatap tajam.


Ares menggelengkan kepalanya.


"Keluar atau kau akan menerima akibatnya," ucap Blaze lagi dengan sangat pelan.


"Aku tak takut padamu," jawab Ares berbisik.


"Kau mau tak bisa mengoperasi lagi karena tanganmu cacat?" ucap Blaze mengancam.


Ares dan Blaze saling menatap penuh kebencian seakan tak ada yang mau mengalah.


Blaze menoleh pada Glow dan melangkah cepat ke arahnya, begitu juga dengan Ares.


Blaze menoleh pada Ares kembali.


"Dia memanggilku, bukan kau!" kesal Blaze.


"Aku hanya ingin melihat keadaan temanku," sahut Ares.


"Aku baik-baik saja, Ares," jawab Glow yang mendengar hal itu.


"Aku akan memeriksamu kembali, Glow," ucap Ares.


"Dia sudah ditangani oleh Dokter terbaik di sini," ucap Blaze.


"Seharusnya kau membawanya ke rumah sakit kami karena di sana lebih bagus," kata Ares.


"Ares, aku yang menginginkan dirawat di sini," sahut Glow.


"Apakah aku perlu melemparnya ke luar, Honey?" tanya Blaze pada Glow.


"Tak perlu, Blaze," jawab Glow.


Lalu Blaze mengecup bibir Glow di depan Ares.


"Bagaimana kepalamu? Masih pusing?" tanya Blaze dengan suara yang langsung berubah mode menjadi sangat lembut.


"Masih sedikit pusing tapi aku baik-baik saja. Aku ingin pulang, Blaze," jawab Glow.


"Baiklah," sahut Blaze yang langsung menuruti keinginan Glow.


"Lebih baik kau dirawat di sini dulu satu hari, Glow," kata Ares.


Blaze melihat ke arah Ares.


"Kau siapa? Kau tak berhak ikut campur urusannya. Keluarlah atau aku memakai kekerasan!" bentak Blaze yang kesabarannya memang hanya setipis tisu.


"Blaze," ucap Glow mengusap tangan Blaze agar tak emosi.


"Ck, dia membuatku kesal," ucap Blaze.


"Blaze, katakan pada dokter bahwa aku ingin pulang sekarang," kata Glow.


"Oke," ucap Blaze dan ia melepaskan tangan Glow lalu menarik tangan Ares agar keluar dari kamar itu karena ia tak mau membiarkan Ares berdua saja di dalam kamar bersama Glow.


"Oh God," lirih Glow ketika melihat sikap Blaze pada Ares.


Glow hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu.