
Glow menarik tangan Blaze dan membawanya keluar dari mansion Alonso. Ia tak ingin ada keributan di sini karena itu akan mempengaruhi emosi Balze yang sampai saat ini masih susah dikendalikannya.
Hanya Glow lah yang bisa menahan emosi Blaze saat ini. Glow tak melihat ini sebuah beban untuknya karena ia melihat ketulusan Blaze padanya.
Lagi pula Glow tak ingin membuat semuanya menjadi rumit dan berliku. Glow adalah orang dengan pemikiran simple dan ia tak suka dengan kerumitan jadi ia ingin membuat hubungannya dengan Blaze berjalan mulus dan tanpa drama.
Mereka berdua cukup dewasa untuk bisa membuat hubungan mereka berjalan lancar dan saling mengerti satu sama lain.
Glow memeluk Blaze ketika mereka sudah ada di luar mansion. Glow masih menenangkan Blaze yang masih penuh emosi dengan perbuatan ayahnya itu.
“Maaf, aku tak tahu bahwa tadi adalah supir ayahmu,” ucap Glow.
“Ini bukan salahmu. Pria brengsek itu yang …”
“Sssst … Kita bisa membicarakannya nanti. Kita pulang sekarang,” potong Glow dan kini menangkup rahang Blaze.
Blaze hanya mengangguk dan kemudian menuruti perintah Glow untuk pergi dari sana tanpa membahas Alonso lagi.
*
*
Glow dan Blaze memutuskan untuk makan malam di restoran. Mereka kembali bersikap biasa dan Glow mengalihkan perhatian Blaze dengan bercerita tentang kegiatannya di rumah sakit seharian.
Itu lah yang disukai Blaze dari Glow. Wanita itu memiliki sikap dewasa dan pemikiran yang bijaksana jadi membuat hidup Blaze selalu tenang tanpa ada tensi tinggi sama sekali.
Sejak mengenal Glow, hidup Blaze tak lagi gelap dan menemukan cahaya dalam hidupnya. Ya, ia tak sabar menjadikan Glow istrinya karena ia tak ingin kehilangan sosok wanita sempurna itu dari hidupnya.
Setelah selesai makan malam, Blaze dan Glow kembali ke mansion. Blaze masih tak mengizinkan Glow pergi dari mansion dan harus tinggal bersamanya sampai mereka menikah.
Ketika sampai di mansion, Glow melihat sosok pria yang begitu dikenalnya. Dan itu membuat Blaze mengerutkan keningnya ketika melihat pria tampan yang menunggu di ruang tamunya.
“Kakak??” ucap Glow kaget melihat kedatangan sang kakak yang tiba-tiba dan sama sekali tak mengabarinya.
Arvy melangkah mendekat pada sang adik dan memeluknya.
“Dia tak melakukan hal mesum padamu, kan?” tanya Arvy sembari melihat ke arah Blaze yang selalu saja menjadi teman berdebatnya.
“Dia baik padaku dan aku sudah siapkan suntik bius jika dia macam-macam padaku,” sahut Glow sembari tertawa.
“Kau sudah diberitahu pria tengil itu jika dia memajukan tanggal pernikahannya?” tanya Arvy dan melepas pelukannya.
“Ya, apakah itu yang membuat kakak datang kemari? Kami akan pergi ke Amerika Serikat dua hari lagi jadi seharusnya kakak tak perlu kemari,” jawab Glow.
“Kakak hanya ingin memastikan kau tak diancam olehnya untuk menikahinya,” sahut Arvy.
“Kau akan tidur di sini? Lebih baik kau tidur di hotel saja,” kata Blaze yang kemudian menggandeng kembali tangan Glow.
“Blaze, biarkan kakakku tidur di sini malam ini,” ucap Glow.
“Oke, demi dirimu, meskipun sebenarnya aku tak suka melihat wajah menyebalkannya itu,” sahut Blaze.
“Kau tak punya kaca besar di mansionnu, Blaze? Kau lebih menyebalkan dari pada aku,” jawab Arvy di samping Glow.
“Ck, sudahlah, kepalaku pusing mendengar kalian berdebat,” ucap Glow.