ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 39



Blaze menarik Ares ke dalam sebuah ruangan tangga darurat dan memegang lehernya.


"Kau sudah kuperingatkan, Ares. Jangan mendekatinya atau kau akan berhadapan denganku," geram Blaze.


"Aku tahu dia terluka karenamu, Blaze. Bukankah kau memiliki banyak musuh di kota ini? Dan kini mereka mengincar Glow. Kau hanya seorang penjahat yang kebetulan lahir dari keluarga konglomerat, Blaze. Jika kau hanya rakyat jelata dan miskin, kau pikir Glow akan menyukaimu? Sama sekali tidak karena kau tak memiliki kelebihan apa pun selain membuat keributan. Reputasimu terkenal buruk dan banyak yang tahu hal itu," sahut Ares dengan berani.


"Kau berani juga rupanya. Kau ingin ayahmu kudepak dari jabatan tertinggi di rumah sakit yang dananya berasal dari perusahaanku, Dokter Sombong?" balas Blaze.


"Kau pikir kami takut dengan hal itu? Kami bisa mencari rumah sakit lain," jawab Ares.


Blaze tertawa mendengar hal itu.


"Apa perlu kubongkar semua kecurangan ayahmu selama bertahun-tahun menguasai rumah sakit itu?" sahut Blaze.


Ares terdiam seribu bahasa seolah tak bisa mengatakan apa pun karena ia tahu kelemahan sang ayah.


"Aku sangat bisa menghancurkan semua karir dokter di keluargamu, Ares. Hanya dengan menjentikkan jariku saja, kau dan keluargamu bisa hancur dalam sekejap," kata Blaze.


Lalu Blaze melepaskan Ares dan berbalik pergi dari sana. Blaze kemudian menemui dokter yang menangani Glow dan meminta agar mengizinkan Glow pulang hari ini juga. Dokter pun menyetujuinya karena Blaze bilang bahwa Glow akan dirawat oleh Dokter keluarga kerajaan yang juga merupakan dokter pribadi keluarga besarnya.


Hari itu juga Blaze membawa Glow pulang sesuai keinginan Glow. Ia begitu menjaga Glow dengan baik hingga tak membiarkannya berjalan sama sekali ketika turun dari mobil.


Blaze membawa Glow ke kamar pribadinya karena ia tak akan membiarkan Glow tidur sendirian di saat Glow terluka seperti ini. Dan Blaze tak akan melakukan apa pun pada Glow karena ia sangat menjaga Glow sesuai amanah dari Ayah dan kakak Glow.


"Blaze, aku bosan tidur. Kita ke taman saja," ucap Glow ketika Blaze akan masuk ke dalam kamar.


"Oke," jawab Blaze dan mengikuti keinginan Glow.


"Tunggu, ke kamarku dulu," ucap Glow.


Lalu Blaze menuju kamar Glow dan membuka pintunya.


"Hmm, tak jadi, nanti saja. Kita ke taman saja," kata Glow.


"Oke," jawab Blaze.


"Blaze, aku ingin membawa camilan dari kulkas," ucap Glow.


"Oke," kata Blaze dan membawa Glow ke dapur.


Glow menahan tawanya.


"Hmm, tak jadi. Nanti suruh pelayan saja yang ambil," kata Glow ketika sudah sampai di dapur.


Blaze berhenti melangkah dan melihat Glow yang tampak menahan tawanya.


"Kau mengerjaiku, Baby?" tanya Blaze.


Glow tak bisa menahan tawanya lagi dan akhirnya tertawa lepas melihat kepatuhan Blaze padanya.


"Oke oke, tertawalah. Aku suka melihatmu tertawa," ucap Blaze dan berjalan kembali ke luar.


"Aku ingin menikah denganmu jika kau semanis ini," kata Glow spontan sembari masih tertawa kecil.


Blaze menghentikan langkahnya dan menatap mata Glow.


"Kau tak bisa menarik ucapanmu, Sayang. Kau sudah mengatakan hal itu dan aku tak menganggapnya bercanda," kata Blaze.


Glow menghentikan tawanya dan melihat mata Blaze.


"Aku memang tak sedang bercanda. Aku ingin menikah denganmu," ucap Glow mengusap pipi Blaze dengan jari lentiknya.


Blaze terpaku dan tampak mengerjapkan matanya untuk menahan air matanya keluar. Ia menganggap ini adalah ucapan terindah yang pernah didengarnya seumur hidupnya hingga membuatnya emosinya campur aduk dan sentimental.


"I love you," ucap Blaze dengan suara sedikit tertahan.


"I promise to love you until my last breath," lanjut Blaze dan memagut bibir Glow.


(Aku berjanji akan mencintaimu sampai nafas terakhirku)