
Blaze
Glow menemui Blaze ke area lobby. Tampak dari kejauhan, Blaze melihat ke arahnya. Tak ada senyum di wajahnya seperti biasanya dan pria itu menatapnya dengan mata tajamnya yang selalu membuat jantung setiap wanita berdebar melihatnya.
"Blaze, bukankah sudah kubilang__"
Ucapan Glow terpotong karena Blaze langsung menggandeng tangannya.
"Blaze," panggil Glow.
Blaze memegang bibir Glow dengan jarinya untuk mengisyaratkan bahwa Glow harus berhenti bicara. Hanya sentuhan kecil, tapi itu membuat darah Glow berdesir cepat.
Mereka melangkah bersama menuju ke luar rumah sakit. Blaze membawa Glow ke sebuah restoran yang jaraknya hanya 100 meter dari sana. Mereka pun berjalan ke arah restoran yang pengunjungnya rata-rata adalah pegawai rumah sakit.
Kedatangan Blaze dan Glow sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi mereka karena mereka berpikir Glow sedang menjalin kasih dengan Blaze. Bagaimana tidak? Blaze mengantar jemput Glow meskipun perutnya belum sembuh seratus persen. Dan mereka makan siang bersama sejak Glow aktif kembali di rumah sakit.
*
Blaze melihat ke arah Ares yang tampak menyapa Glow. Ares bersama teman dokternya yang lain. Ares sudah pindah secara penuh ke rumah sakit itu dan Blaze sangat mengawasi pergerakan Ares yang sangat terang-terangan mendekati Glow.
Blaze menatap pria itu dengan tajam lalu membawa Glow duduk di meja terjauh dari Ares. Lalu Blaze kembali fokus pada Glow ketika wanita itu memilih menu makanan yang akan dipesannya.
"Kau pesan apa?" tanya Glow.
"Sama denganmu," jawab Blaze.
"Oke," sahut Glow dan ia pun memesan apa yang ingin dipesannya.
*
Glow melihat Blaze memegang perutnya.
"Apakah perutmu sakit?" tanya Glow.
"Tidak, lukanya mengering dan itu cukup menggangguku karena sangat gatal sekali," sahut Blaze dengan wajahnya yang sedikit kesal.
Glow tertawa pelan dan Blaze selalu terpesona dengan tawa itu hingga seakan dunianya hanya berputar di sekitar Glow saja.
"Apakah menurutmu ini lucu?" tanya Blaze tersenyum tipis.
"Hmm, kau tak merasa kesakitan ketika peluru itu menembus perutmu tapi kau terlihat kesal hanya karena rasa gatal di bekas lukamu," jawab Glow.
"Aku sudah berusaha tak menggerutu," ucap Blaze.
Glow tertawa kembali dan Blaze tiba-tiba menangkup pipinya.
Glow langsung menghentikan tawanya.
"Untuk apa? Karena aku merawatmu? Itu sudah tugasku," jawab Glow.
"Untuk semuanya. Kau sudah menerima lamaranku?" tanya Blaze.
"Kita masih membahas ini?" tanya Glow.
"Ya, aku akan selalu membahasnya sampai kau menerimaku," jawab Blaze.
Glow hanya tersenyum saja lalu makanan pesanan mereka datang. Blaze mengerutkan keningnya ketika melihat makanan yang ada di depannya .
"Kau memesan ini saja?" tanya Blaze.
"Ya, bukankah kau bilang bahwa kau memesan makanan yang sama denganku?" sahut Glow yang mulai memakan salad salmonnya.
"Ini sangat tak mengenyangkan bagiku," jawab Blaze yang di depannya hanya ada salad sayur dan salmon setengah matang saja.
"Kau bisa memesannya lagi, Boy," ucap Glow.
"I'm not a boy, Baby," sahut Blaze karena Glow senang sekali memanggilnya seperti itu.
Glow tersenyum dan mengunyah makanannya. Lalu Blaze mau tak mau memakan makanan itu meskipun porsinya sangat sedikit.
Tak sampai beberapa menit, Blaze sudah selesai menghabiskan makanannya dan ia menunggu Glow sampai makanan wanita itu habis.
Blaze hanya memandangi wajah cantik Glow yang tak pernah membosankan baginya.
"Kau pulang jam berapa nanti sore?" tanya Blaze.
"Aku akan ada operasi malam ini jadi nanti aku akan pulang bersama temanku saja," jawab Glow.
"Ares maksudmu? Tak akan kubiarkan," sahut Blaze.
Glow melihat Blaze.
"Akan aku jemput nanti, semalam apa pun," lanjut Blaze.