ME? OBSESSED WITH YOU?

ME? OBSESSED WITH YOU?
Bab 26



OBS


Tak terasa satu minggu terlewati sudah, dan luka di perut Blaze pun sudah mulai membaik dan mengering.


Glow masih tinggal di mansion Blaze, tapi wanita itu tiap hari sudah diizinkan ke rumah sakit oleh Blaze untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.


Glow memeriksa Blazs di saat pagi dan malam hari saja dan Blaze tak keberatan dengan hal itu.


Glow masih dengan sikapnya yang membatasi kedekatannya dengan Blaze. Sedangkan Blaze melancarkan semua caranya untuk mengambil hati Glow.


Glow menilai, Blaze adalah pria yang cukup temperamental. Apalagi jika ada sangkut pautnya dengan sang ayah.


Tapi sikap temperamental Blaze sudah lumayan berkurang sejak kedatangan Glow di mansionnya. Dan itu dinilai oleh teman-teman Blaze yang sering datang ke mansionnya.


Blaze masih tak bekerja dan meskipun begitu ia mulai serius menangani perusahaan warisan ibunya itu dengan mengawasinya melalui sang asisten. Ia merasa bersalah dengan PHK yang dilakukan perusahaan karena itu membuat pegawai banyak kehilangan pekerjaannya.


Ya, semua itu tak luput dari peran Glow yang tampaknya selalu memberi pengaruh positif pada Blaze.


"Maukah kau menemaniku ke pesta pernikahan kerabatku, Glow?" tanya Blaze sembari menyesap wine nya.


"Kapan?" tanya Glow yanng berselonjor di sofa.


"Tiga minggu lagi," jawab Blaze.


"Aku tak bisa janji karena terkadang ada operasi yang harus kulakukan dengan mendadak," ucap Glow.


"Hmm, oke," sahut Blaze dan ia yakin bisa mengaturnya agar Glow bisa menemaninya nanti.


Blaze melihat fokus mata Glow tertuju pada ponselnya dengan kening berkerut. Lalu Glow melihat ke arah Blaze.


"Ada apa? Ada masalah?" tanya Blaze.


"Kau pernah mendapat telepon dari orang tuaku?" tanya Glow.


"Tidak, ada apa?" sahut Blaze.


"Ini cukup aneh karena mereka tak memata-mataiku sejak aku tinggal di sini. Aku pikir kau memberitahu ayahku," jawab Glow.


"Menurutmu begitu? Kak Arvie bahkan tak meneleponku karena biasanya dia selalu tahu di mana aku berada dan mustahil baginya jika ia tak tahu bahwa aku tinggal di mansionmu," jawab Glow.


"Mungkin mereka mempercayaiku bahwa aku bisa menjagamu dengan baik karena sebelumnya keluargamu sudah memeriksa latar belakangku," sahut Blaze.


Glow beranjak duduk setelah cukup lama bermalas-malasan di sofa.


"Ya, mungkin saja," jawab Glow.


Glow beranjak berdiri dari sofa dan menuju ke kamar.


"Kau mau ke mana?" tanya Blaze seraya menaruh gelas wine nya di atas meja.


"Aku belum mandi sejak pagi, Blaze. Aku akan mandi sebentar. Aku ingin berendam dan jangan menggangguku karena ini hari liburku," jawab Glow sembari terus berjalan ke arah kamar.


*


Blaze masih ada di ruang tengah dan menyalakan laptopnya.


Tak lama kemudian ponsel Glow berbunyi di atas meja. Glow tak membawa ponseknya ke dalam kamar.


Blaze melihat nama Ares di layar ponsel Glow. Lalu Blaze mengangkat ponsel itu.


"Ya, ada apa?" tanya Blaze dengan suara dinginnya.


"Di mana Glow?" tanya Ares dan Blaze tahu bahwa Ares menyukai Glow bahkan dari bangku kuliah.


"Dia mandi. Ada pesan?" ucap Blaze.


Ares terdiam sebentar.


"Aku akan meneleponnya nanti," kata Ares.


Lalu tanpa basa basi, Blaze menutup sambungan telepon itu. Blaze kemudian menghapus riwayat panggilan di ponsel Glow.


Blaze juga mematikan ponsel Glow agar tak asa yang meneleponnya di waktu liburnya itu.