
Blaze
Blaze mengantar Glow ke rumah sakit terdekat dan menunggunya sampai wanita itu selesai ditangani oleh Dokter. Blaze bersyukur Glow tak sampai terluka parah dan hanya terkena luka luar saja. Tapi meskipun begitu, bagian kepalanya harus dijahit karena terkena kaca mobil cukup keras hingga lumayan merobek kulit kepala bagian kanan.
Sampai akhirnya, Glow dipindahkan ke ruang perawatan VVIP dan Blaze masih setia menjaganya.
"Aku baik-baik saja. Pergilah, kau pasti punya urusan untuk dilakukan," ucap Glow.
"Hanya kau prioritasku," jawab Blaze.
"Ck ck ck ... Kau terlalu mencintaiku rupanya. Itu membuatku tak akan bisa meninggalkanmu dengan mudah sepertinya," ucap Glow.
"Hmm, kau tak akan mudah kabur dariku, Honey," jawab Blaze dan mengecup bibir Glow.
"Mata ku berat. Aku akan tidur," ucap Glow lirih.
"Tidurlah, aku akan selalu menjagamu di sini," kata Blaze.
Lalu Glow menutup matanya yang sudah sangat berat. Setelah melihat Glow nyenyak tidur, Blaze keluar dari kamar perawatan dan menelepon seseorang.
"Kau benar-benar tak becus menjaga adikku, Blaze!!" bentak Arvy dari seberang telepon.
Sejak tadi teleponnya ditolak oleh Blaze karena Blaze masih sibuk menjaga Glow.
"Aku tahu dan aku lengah," jawab Blaze yang mengakui hal itu.
"Aku akan mempertimbangkan lagi tentang lamaranmu pada Glow," sahut Arvy.
"Tidak, kau tak bisa mencabutnya karena aku sudah mengatakan hal ini pada Uncle Aiden, Arvy," jawab Blaze tersenyum miring.
"Ck, kau pasti bermulut manis pada Daddy. Lalu apa yang akan kau lakukan pada penyerang Glow? Kutebak pasti Glow menyuruhmu tak membalas mereka, ya kan?" sahut Arvy.
"Ya, kau tahu adikmu seperti apa. Dan aku tak akan tinggal diam dengan hal ini. Polisi hanya akan memenjarakan mereka. Sedangkan aku? Aku akan langsung menghancurkan mereka," jawab Blaze.
"Nooo ... Aku tak selemah itu sampai harus meminta bantuan padamu, Arvy," jawab Blaze.
"Ingat, Blaze, lain kali kau tak boleh lengah menjaga Glow atau aku akan membawa Glow kembali," ucap Arvy.
"Kau tak bisa mengancamku karena aku tak akan membiarkanmu membawa Glow dari tanganku. Aku bisa saja memblokirmu dari negara ini agar kau tak bisa masuk kemari. Itu sangat mudah kulakukan dan kau tahu itu," jawab Blaze.
"Kau pikir keluarga kami selemah itu? Lihat saja jika kau sampai membuat adikku celaka lagi, dan kau akan tahu kekuatan keluarga kami, Blaze," ucap Arvy.
"Oke, aku masih sangat sibuk. Bye, Kakak Ipar," jawab Blaze dan menutup sambungan teleponnya secara sepihak.
Lalu Blaze memasukkan ponselnya lagi ke kantong celananya lalu menuju ke meja perawat. Dia ingin ada satu perawat yang menjaga Glow di kamarnya karena ia ingin pergi sebentar.
*
*
Blaze menemui Aron dan teman-temannya di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Mereka tampaknya sudah meringkus semua orang yang terlibat dalam penyerangan Glow tadi pagi dan Blaze ingin membalasnya karena mereka berani melukai Glow.
"Blaze, kendalikan dirimu dan jangan sampai membunuh mereka," ucap Aron yang menemui Blaze di depan gerbang gudang.
"Kita lihat saja nanti. Di mana mereka?" tanya Blaze sambil menyalakan rokoknya.
Aron menahan tangan Blaze dan membuat langkah Blaze berhenti.
"Blaze, aku serius. Kita tak membunuh orang," ucap Aron.
"Pikirkan Glow karena dia pasti tak ingin kau melakukan ini, bukan?" lanjut Aron ketika Blaze tak menjawab apa pun.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan," jawab Blaze dan melepaskan tangan Aron.
Blaze berjalan masuk ke dalam gudang untuk menemui orang-orang yang sudah menyerang Glow tadi.