
BlazeGlow
Pukul dua dini hari, Glow terbangun karena tubuhnya berkeringat. Itu karena pengaruh obat yang diminumnya tadi.
Blaze yang memang belum tidur, memegang kening Glow yang berkeringat itu.
"Kau sudah dingin," ucap Blaze pada Glow yang baru membuka matanya.
"Hmm, obatnya bekerja," lirih Glow.
Glow beranjak duduk dan kemudian bergerak ke arah pinggir ranjang.
"Kau mau ke mana?" tanya Blaze.
"Bajuku basah, Blaze. Aku akan ganti baju," jawab Glow dan beranjak berdiri.
Tubuh lunglainya hampir saja terjatuh jika Blaze tak menangkapnya dari belakang lalu menggendongnya.
"Aku bisa berjalan sendiri. Menggendongku akan membuat perutmu sakit," ucap Glow.
Blaze tak menjawab dan membawa Glow ke kamar mandi.
"Aku akan mengambilkan baju bersih," ucap Blaze ketika sudah menurunkan Glow.
"Hmm," jawab Glow dan menyandar di meja wastafel marmer.
Tak lama kemudian, Blaze membawakan kemeja putihnya pada Glow.
"Blaze, ini bukan bajuku," ucap Glow.
"Pakai itu saja untuk sementara karena kopermu ada di kamarmu," jawab Blaze.
"Oke, thank you," sahut Glow dan menutup pintu kamar mandi setelah Blaze memberikan bajunya.
Glow masih melihat bayangan Blaze di depan kamar mandi.
"Blaze, pergilah," ucap Glow.
"Tidak, aku akan menunggumu di sini. Aku takut kau akan pingsan lagi," jawab Blaze.
Glow hanya tersenyum dan menurutnya sikap Blaze sangatlah manis. Glow tak asing dengan perlakuan seperti itu karena sang kakak dan ayahnya melakukan hal seperti padanya, tapi berbeda dengan Blaze yang sepertinya tak pernah semanis ini pada seseorang.
*
*
Beberapa menit kemudian, Glow keluar dari kamar mandi dan Blaze masih ada di depan pintu. Blaze menggandeng tangan Glow dan kembali membawanya ke atas ranjang.
"Aku sudah mengganti selimutnya," ucap Blaze dan Glow melihat ke arah ranjang.
Meskipun selimut itu tak tertata cukup rapi, tapi Glow tahu bahwa Blaze sudah melakukannya dengan cukup baik.
Glow tertawa pelan dan berjalan ke arah ranjang.
"Hei, jangan menertawaknku," ucap Blaze.
"Tidak, kau menatanya dengan cukup baik, Tuan Blaze. Tapi aku tidur di sofa saja," sahut Glow.
"Tidak, kau diranjang saja. Aku akan tidur di sofa," jawab Blaze.
"Blaze," sahut Glow sambil menoleh ke arah Blaze.
"Glow," jawab Blaze.
"Kau terlalu manis. Ini membuat cukup berat meninggalkanmu," ucap Glow.
"Kau akan menjadi penguntitku?" tanya Glow sembari duduk di tepi ranjang.
"Ya, terserah apa katamu," jawab Blaze tersenyum dan duduk di sofa lalu berhadapan dengan Glow.
Pria itu memegang tangan Glow dan kemudian mengecup punggung tangannya.
"Apakah kau tak percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu?" tanya Blaze.
Glow menatap mata coklat itu.
"Apakah aku perlu membuktikannya?" tanya Blaze lagi.
"Tak perlu, karena aku sedikit geli dengan pembuktian sebuah cinta. Mendengarnya saja aku sudah geli," jawab Glow mengedikkan bahunya.
Blaze tertawa mendengar itu dan kembali menatapi wajah cantik Glow.
"Terima aku. Setidaknya aku bisa menjadi kekasihmu yang baik dan manis sebelum kau memutuskan untuk menikah denganku," ucap Blaze.
"Kau pria yang baik, Blaze. Pasti banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkanmu. Jadi jangan terlalu keras mengejarku," jawab Glow.
"Tidak, aku hanya baik padamu saja," sahut Blaze.
Glow kembali tertawa pelan.
"Aku tak ingin menjanjikanmu apa pun, Blaze. Aku masih fokus dengan karir dokterku dan aku masih tak ingin menikah," ucap Glow.
"Aku akan menunggumu. Setahun? Dua tahun? Sepuluh tahun? Tak masalah. Aku akan menunggumu," sahut Blaze.
"Kau tak akan kuat menungguku," jawab Glow.
"Aku tak pernah mengingkari ucapanku. Aku benar-benar akan menunggumu," ucap Blaze.
Glow menatap lekat wajah yang tampak serius itu.
"Good night, Mr Zeppelin Blaze Ruiz," kata Glow dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Lalu Blaze pun merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu memiringkan tubuhnya hingga bisa melihat Glow yang tidur di atas ranjangnya.
"Tutup matamu, Blaze," ucap Glow yang melihat ke arah ponselnya.
"Mataku memiliki hak untuk melihatmu," jawab Blaze.
Glow hanya tersenyum tipis dan masih melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya karena seharian tadi ia tak melihat ponselnya sama sekali.
"Besok aku harus ke perusahaan meskipun aku tak suka bekerja di sana. Bagaimana menurutmu?" tanya Blaze.
"Gunakan privilege yang kau miliki dengan baik. Banyak yang menginginkan menjadi sepertimu," jawab Glow dengan mata yang masih mengarah ke ponselnya.
"Kau memiliki segalanya yang tak semua orang miliki. Perusahaan yang kau warisi dari keluargamu, bukan hanya sebuah perusahaan yang menghasilkan keuntungan bagimu saja. Tapi banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaanmu. Jika perusahaanmu bangkrut, mungkin kau memiliki sumber kekayaan lain, berbeda dengan pegawaimu yang bisa saja mereka kehilangan penghasilan satu-satunya bagi mereka. Pernahkah kau memikirkan hal itu sebelumnya? Kau adalah tonggak perusahaanmu. Jika kau malas, itu akan banyak merugikan banyak orang bahkan di tingkat terbawah," lanjut Glow dan menoleh ke arah Blaze.
Blaze menatap wajah Glow yang terlihat serius itu. Sebenarnya banyak yang menghujatnya karena ia dianggap tak bisa memimpin perusahaan dan diremehkan oleh beberap kerabatnya dan berharap Blaze mundur dari jabatannya sebagai penguasa tertinggi di perusahaan.
Selama ini Blaze hanya berpikir bahwa ia melakukan itu hanya untuk membuat kesal kerabat sang ibu yang selalu meremehkannya dan bahkan membencinya. Tapi ia tak pernah berpikir bahwa hal itu justru membuat masalah bagi perusahaannya jika ia sengaja merusak sistem perusahaan akibat rasa kesalnya itu.
Blaze mengambil tangan Glow dan memegangnya kembali. Glow hanya menatap mata Blaze tanpa bicara. Meskipun hanya diam, Blaze seolah tahu apa arti tatapan mata dari Glow.
"You're much better than what you think," lirih Glow dan membalikkan tubuhnya menghadap Blaze. (Kamu jauh lebih baik daripada yang kamu rasa)
Ia tahu bahwa Blaze hanya membutuhkan sedikit motivasi untuk penyemangat hidupnya yang ia pikir berada di titik terbawah.
"Cintailah dirimu sendiri terlebih dulu, Blaze. Mencintai diri sendiri bukanlah sebuah keegoisan, tetapi sebuah kewarasan. Setelah itu, jadilah pelangi di awan orang lain," lanjut Glow.