
Blaze menatap mata Glow yang membuatnya teduh dan kemudian ia melepaskan tangan Glow dan Glow pun berdiri.
Lalu Blaze pun ikut beranjak berdiri dan kembali menggandeng tangan Glow.
“Aku pergi dulu,” ucap Blaze pada teman-temannya yang tampak takjub karena Glow dengan mudah menjinakkan singa galak itu.
Lalu Blaze dan Glow pun pergi dari sana. Mereka mengendarai mobil Glow sedangkan mobil Blaze akan diantar oleh temannya nanti.
*
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Dan Glow mulai mengeluarkan omelannya.
“Bisakah kau tak berjalan ke mana-mana dulu sampai lukamu mengering, Blaze? Kau tak akan sembuh jika seperti ini terus. Kau menyakiti dirimu sendiri dan aku tak suka itu,” ucap Glow mengomel.
Blaze hanya melihat raut wajah Glow yang terlihat kesal. Glow memang tak mengomel di depan teman-teman Blaze karena ia masih menjaga perasaan Blaze.
“Blaze, kau mendengarkanku?” tanya Glow ketika ia tak mendengarvhawabab apapun dari Blaze.
“Hmm, apa pun yang kau katakan aku mendengarnya kata per kata. Mengomel lah lagi. Aku suka dengan omelanmu,” jawab Blaze.
“Blaze, aku serius. Lukamu cukup parah dan akan infeksi jika kau tak menjaganya,” sahut Glow kesal.
“Ada kau, jadi aku akan baik-baik saja,” jawab Blaze.
“Kebahagiaan seorang dokter yaitu ketika melihat pasiennya kembali sehat. Jangan mengecewakanku, Blaze,” ucap Glow.
“Ya, aku akan kembali sehat untukmu,” jawab Blaze yang terdengar seperti bualan dari pada ucapan serius.
Tak lama kemudian, mereka berdua tiba di mansion Blaze. Glow membawa Blaze kembali ke kamarnya.
“Sepertinya akan menyenangkan jika minum wine di malam dingin ini,” ucap Blaze.
“Blaze, jangan menguji kesabaranku,” kata Glow menggandeng tangan Blaze seperti menggandeng anak kecil yang sangat susah diatur.
Blaze tersenyum tipis melihat kekesalan Glow yang justru dianggapnya sebagai hiburan.
Setibanya di kamar, Glow menyuruh Blaze membuka bajunya. Glow mengambil baju ganti untuk Blaze dan membantunya memakaikannya karena Glow akan secepatnya mengobati luka di perut Blaze.
“Sekarang rebahkan tubuhmu,” perintah Glow.
“Good boy,” gumam Glow dan mengambil kotak obat lalu membuka baju di bagian perut Blaze.
Glow membuka kain kasa yang menurupi luka Blaze. Luka itu masih terlihat basah dan ada sedikit darah di sana.
Glow membersihkan luka di perut Blaze dan Glow melakukannya dengan sangat perlahan.
Sesekali Glow meniup luka itu hingga terasa di kulit Blaze.
“Jangan lakukan itu, Glow. Aku pria normal dan kau seorang dokter jadi kau pasti tahu apa yang kurasakan,” ucap Blaze.
“Itu karena otakmu terlalu kotor,” jawab Glow yang masih fokus dengan luka Blaze.
“Ya, otakku akan selalu kotor jika melihatmu,” sahut Blaze.
“Diamlah,” ucap Glow pelan.
“Ke mana tadi kau pergi?” tanya Blaze.
“Aku bertemu temanku di rumah sakit dan kami mengobrol sebentar. Dia anak direktur rumah sakit. Kami berteman sejak kuliah,” jawab Glow.
Perasaan Blaze lega karena Glow menjawabnya dengan jujur.
“Aku cemburu,” ucap Blaze.
Glow hanya tertawa lirih ketika Blaze mengucapkan hal itu.
“Kami tak berkencan dan kau juga bukan pacarku. Jadi aku masih sangat bebas, Blaze,” jawab Glow.
“Kalau begitu jadilah pacarku,” ucap Blaze to the point.
Glow mengangkat wajahnya dan menatap wajah Blaze.
“Bagaimana jika aku tak mau? Kau marah dan kesal?” sahut Glow.
“Tidak, aku pasti akan bisa mendapatkanmu,” jawab Blaze dengan yakin.