MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 9. Escape(9)



“…!”


Mendapati suara Basen yang begitu urgen, Lily menoleh dan terbelalak memandang peluru yang hampir memecahkan kepalanya. Ia segera membuat lapisan demi lapisan pusaran angin untuk melindungi dirinya, tapi jangankan melindungi, semua itu bahkan tidak mampu memperlambat sang peluru. Sadar akan ajalnya yang semakin dekat, Lily memiringkan kelapa secara refleks dan seketika, peluru yang seharusnya memecahkan kepalanya hanya menggores pipinya.


Tapi baru saja Lily hendak bernafas lega, kegelapan yang menyelimuti peluru itu terkelupas seluruhnya saat menyentuh kulit makhluk hidup. Akibatnya, petir yang tegangannya ditekan hingga titik tertinggi berhasil lepas dan mengamuk memporak-porandakan semua yang ada di dekatnya. Baik itu pusaran angin, lapisan bumi, ataupun gadis yang terus memegangi wajahnya.


“AAAAAAAHHHH!!”


Lily menjerit. Ia menjerit hingga suaranya serak seperti binatang buas. Mendengar jeritannya yang lebih keras dari semua korban yang ia bunuh, semua terbelalak tak mengerti apa yang terjadi. Pisau angin yang semula menghujani para tahanan telah lenyap tak bersisa. Pusaran angin yang ia buat tidak lagi ada di sana. Yang ada hanya sosok wanita yang tersungkur membenamkan wajahnya ke tanah seraya memegang pipinya dengan kedua tangan. Percikan petir masih terbesit darinya. Menghanguskan wajah yang semula putih dan cantik hingga kusut dan hitam. Kulitnya terkelupas dari sebelah wajahnya, menunjukkan daging dan mata yang tak berkelopak. Siapapun yang melihat sosoknya pasti merinding seakan tengah melihat setan, tapi seakan tidak menyadari hal itu, Lily memandangku dan berkata.


“Kau… Kau…!”


Emosinya menggelegar sehingga pisau angin yang ia buat kini hilang kendali. Beberapa bahkan menyerang Basen yang mencoba mendekat menolong Lily. Semakin banyak pisau angin yang ia buat, semakin Lily jatuh ke jurang kehancuran. Sayangnya, Lily nampak tidak lagi peduli pada hal ini dan hanya berusaha sekuat tenaga untuk berkata.


“Akan kubunuh kau! Leonhaaaaaart!!!”


Seketika, pisau angin melesat mengerumuniku. Aku mencoba melapisi tubuhku dengan petir untuk lari secepatnya dari sini, tapi aku sadar bahwa manaku telah habis berkat serangan tadi. Yang aku bisa hanyalah lari dengan kaki sendiri. Tapi apa gunanya? Aku tidak bisa menghindar. Aku tidak mungkin menghindar. Tidak ada celah yang bisa kulewati dan tidak ada bayangan yang bisa kumasuki. Apa aku akan mati di sini?


“Leon!”


Zion menjerit dan mengulurkan tangannya padaku. Seketika, 7 lapis perisai mana melindungiku dari segala arah. Tapi pisau angin yang terpengaruh emosi tuannya terus membombardir perisai itu. Perisai pertama hancur, lalu lapisan-lapisan berikutnya menyusul setelah beberapa lama. Tiap kali sebuah lapisan hancur, Zion muntah darah seakan sesuatu di dalam dirinya pun ikut hancur bersamanya. Hingga akhirnya, saat lapisan ketujuh dan paling tebal perisai ini tidak bisa ditembus, Lily memelototi Zion dan berkata.


“Kau cari mati?!”


Zion berusaha menjawab, tapi ia hanya mencengkram dadanya seakan menahan sakit. Nafasnya tersengal dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.


“Cukup! Jika kau memang ingin mati, Akan kuhabisi kau lebih dulu!”


“Tunggu, hentikan!”


Aku berujar dan mencoba melesat ke arah Zion. Tapi layaknya mobil yang kehabisan bensin, aku tidak bisa berlari dengan cepat. Kenapa? Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa berlari lebih cepat?! Kecepatan yang sejak dulu merupakan kelebihan utama Leonhart telah direnggut dariku. Persis seperti direnggutnya Elina dari hidupku.


Melihat sosok Zion yang terduduk lemas membuatku teringat akan sosok Elina. Zion memandangku dan tersenyum lemah, membuat dadaku terasa sesak layaknya dipukul sebuah palu. Seketika, belasan pisau angin melesat membombardir perisai yang melindungi tubuh kecilnya.


Para tahanan di belakangnya berusaha membantu. Tapi Zion membentak mereka untuk segera lari menyelamatkan diri. Tentu saja Zion juga bisa melakukan hal yang sama, tapi mungkin karena menyadari bahwa pisau-pisau ini akan segera menebas mereka jika Zion melakukan itu, ia memilih untuk tinggal dan memberi mereka waktu meski hanya sedikit lebih lama. Hingga akhirnya, hanya dia seorang lah yang masih berdiri dibalik perisai yang terus menipis itu.


Tidak seperti 7 lapis perisai yang melindungi tubuhku sebelumnya, saat ini Zion hanya mampu membuat 1 lapis perisai yang terlihat begitu rapuh. Tak mampu menahan pisau angin yang terus berdatangan, perisai itu pun hancur berkeping-keping. Seketika Zion menggenggam dadanya dan tersungkur ke tanah. Mengira kemungkinan terburuk telah terjadi padanya, jantungku berhenti berdetak sepenuhnya.


Saat aku menyadari bahwa Zion masih bernafas, barulah jantungku kembali berdetak. Meski nafasnya begitu lemah sampai-sampai aku merasa ia akan berhenti bernafas jika tidak segera diobati, Zion belum mati. Ia belum mati dan masih ada di dunia ini. Seakan menyadari hal ini, Lily menggemeretakkan giginya dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghabisi Zion di tempat ini.


“Lily! Hentikan! Apa kau mau mati?!--”


“Berisik!”


Basen mencoba menghentikan Lily, tapi Lily segera menghempaskannya dan tetap menembakkan pisau angin terakhir ke arah Zion. Pisau angin yang meski telah kehilangan banyak kekuatannya, cukup kuat untuk menghempaskan Zion ke kejauhan. Melihat tubuh Zion yang terpental dan berhenti bergerak, aku hanya menjerit dengan mata terbelalak.


Apa satu menit telah berlalu? Atau beberapa jam aku menunggu? Melihat Basen mendekati Zion yang tergeletak dan tak lagi bergerak, aku tersentak karena menyadari apa yang ingin ia lakukan.


Tidak! Jangan renggut dia dariku! Jangan ambil dia lagi dariku! Siapapun, aku mohon, tolong selamatkan gadis itu!


Seakan menjawab permintaanku, waktu melambat dan sepasang mata memandangku dari kegelapan.


“Hehehe... Ahahaha!! Lucu! Ini lucu! Setelah semua yang kau katakan padaku, jiwamu terguncang hanya karena akan kehilangan gadis itu? Betapa miripnya pun dia dengan adikmu, dia bukan adikmu dan kau tau itu kan?”


Aku tau. Tentu saja aku tau itu. Tapi meski kepalaku tau, hatiku seakan tidak ingin menerima hal itu. Tidak, aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti hari itu.


“Hehehe, kau mungkin bisa membohongi diri sendiri, tapi kau tidak bisa membohongiku. Katakan, apa kau ingin menjadi lemah lagi? Apa kau ingin menjadi tidak berdaya dan membiarkan gadis itu mati lagi? Tidakkah kau menginginkan kekuatan?”


Kekuatan… Itu benar, jika aku punya kekuatan untuk melindungi orang-orang yang kusayang, maka--


“Ahahahaha! Bagus! Benar-benar bagus! Saat kupikir aku tidak punya harapan untuk mengambil alih tubuh sempurna ini, siapa sangka kau akan menyerahkannya sendiri padaku!”


Baal tertawa dan mengulurkan tangannya padaku.


“Kemarilah, baik itu kekuatan, kekuasaan, atau apapun yang kau inginkan, akan kupinjamkan semua itu untukmu. Kau hanya perlu membuat kontrak denganku dan--”


Aku menghunuskan tangan, tapi bukan untuk menjabat tangan Baal seperti yang ia harapkan.


“Baal.”


Mungkin karena merasa suaraku terdengar terlalu tenang, Baal tersentak dan berhenti tertawa. Tentu saja aku tidak menghiraukan semua itu dan lanjut berkata.


“Aku menginginkan kekuatan. Tapi kenapa aku harus meminjamnya darimu?”


“...Apa maksudmu?”


“Aku akan merenggut kekuatanmu. Tidak, aku akan merenggut semua yang kau punya darimu.”


Aku mencengkram pergelangan tangan Baal dan menariknya ke tubuhku.


“Jiwamu atau jiwaku. Ayo lihat siapa yang akan bertahan.”


“Gila! Kau benar-benar sudah gila! Tunggu! Ack..!”


Seketika, kegelapan menelan kami berdua.


---