MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 20. Freedom(6)



Ariel POV


---


Aku terkejut. Aku tau Hagen akan segera tertangkap, tapi tidak pernah terbesit di benakku bahwa gadis yang suka cari masalah inilah pelakunya. Meski dunia ini nyata dan hanya mirip dengan yang ada di permainan, semua yang terjadi selama ini selalu selaras dengan yang terjadi di dunia MagiBlood.


Apa yang terjadi? Apa takdir Rose telah berubah?


Aku menggeleng dan menyanggah dugaan itu. Sekalipun masa depan telah berubah akibat kedatanganku, ini pertama kalinya aku mengadakan kontak dengan gadis ini. Dan dari semua yang ia ceritakan, penyusupan yang ia lakukan ini jelas-jelas sudah ia persiapkan dengan matang dari beberapa minggu atau bulan lamanya. Mustahil aku yang baru tiba ke dunia ini 2 hari lalu bisa mempengaruhi tindakannya sampai sejauh itu.


Karena itu, satu-satunya hal yang paling mungkin dan masuk akal untuk menjelaskan situasi ini adalah bahwa gadis ini, Rosemary Eva, memang melakukan hal serupa di permainan. Dan besar kemungkinan bahwa ia jugalah yang menguak kejahatan Hagen dan menyerahkannya ke Asosiasi Pahlawan.


Tapi jika itu benar, kenapa tak seorangpun mengetahuinya? Kenapa tak satupun buku mencatat jasanya?


“AUUUUUUUU!”


Seakan berusaha untuk mengembalikanku ke realita, suara auman yang menggelegar memecah keheningan malam. Aku mendongak ke atas dan mendapati seekor serigala raksasa di kejauhan. Bulu peraknya bersinar terang di kegelapan. Taringnya mencuak seakan ingin melahap sang bulan. Serigala itu menoleh ke arahku dan untuk sesaat, terlihat seperti sedang memberi tanda.


“A-Apa itu?”


“M-Monster! Ada monster di tempat ini!”


“Cepat, panggil semua penjaga!”


Tapi seakan tak peduli dengan puluhan penjaga yang gemetar memandangnya, serigala itu mengambil ancang-ancang dan bersiap menyerang.


“Sudah dimulai...”


Melihat para penjaga yang berlarian kesana kemari, aku bergumam dan menstarter truk yang kini hanya berisi 2 orang.


“Nona Primrose...”


Cinzia, yang sedang mengasah pisau pemberian sang putri, nampak resah dan memandang ke tengah hutan. Di sana, di balik pepohonan yang jauh dari pandangan mata, Rose pasti sedang berdiri bersama makhluk panggilannya untuk melindungi para tahanan hingga bala bantuan tiba.


--Summoner. Itulah julukan untuk penyihir sepertinya.


Meski Rose sendiri bukanlah sosok yang lemah untuk kami khawatirkan, summoning adalah sihir yang akan terus memakan mana seiring dengan lamanya waktu makhluk panggilan tersebut berada di dunia. Tentu saja, kekuatan yang diperoleh juga sepadan dengan mana yang ia berikan.


“Aaaah!”


Serigala itu melesat menerbangkan pepohonan yang menghalangi jalan. Membuat beberapa penjaga yang kurang berpengalaman menjerit melihat kecepatannya. Salah seorang dari mereka bahkan terjatuh dan berusaha melindungi dirinya. Tapi seakan menyadari bahwa tindakan itu tidak berguna, ia menutup mata dan menghunuskan tombak di tangannya.


BAM!


Seketika, suara benturan layaknya 2 kapal yang saling hantam terdengar di telinga. Tak mengerti dengan apa yang terjadi dan heran karena ajal yang ia tunggu tak kunjung menghampiri, penjaga tadi membuka mata dan terbelalak dengan apa yang ia lihat. Tidak lama, rasa terkejut itu pun berubah menjadi rasa senang dan bangga.


“A-Aku berhasil… Aku menghentikan monster itu!”


“Jangan bodoh! Lihat! Yang menghentikannya bukanlah kau, tapi barrier anti-mana itu.”


Segera setelah ditegur atasannya, penjaga tadi menoleh dan mendapati barrier transparan yang mengelilingi mereka terlihat lebih tipis dari biasa. Tapi seakan semua itu belum cukup, serigala tadi mengambil ancang-ancang dan melesat untuk kedua kali.


BAM!


Bumi berguncang tiap kali serigala itu menerjang.


BAM!!


Langit menjerit tiap kali barrier itu diserang. Dan saat semua orang pikir pemandangan ini akan berlangsung untuk selamanya.


BAM!!!


Sebuah retakan muncul di barrier kebanggaan mereka.


“M-Mustahil!”


Meski kecil dan nyaris tak terlihat oleh pandangan mata, semua penjaga di tempat itu adalah orang-orang terlatih atau mereka yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap ancaman dan bahaya. Melihat retakan yang tidak pernah mereka bayangkan akan muncul di perisai terkuat ini, mereka terbelalak dan sadar akan gentingnya situasi.


“Cepat! Hentikan monster itu!”


“T-Tapi jika kita keluar dari sini--”


“Jika kita tidak keluar, dialah yang akan masuk menyerang!”


Penjaga yang gemetar itu memandang serigala yang atasannya tunjuk dan menelan ludah. Tapi bukan hanya dia, sebagian penjaga juga menunjukkan reaksi yang sama sepertinya. Melihat semua ini, atasan tadi mendecak lidah dan kembali berkata.


“H-Huh?”


“Lindungi tempat ini… Dan katakan pada istriku bahwa aku mencintainya.”


Sang atasan berbalik dan memandang para penjaga yang nampak siap mati bersamanya. Tanpa peduli dengan penjaga baru yang menggigit bibir seakan mengutuk kelemahan dirinya, sang atasan hanya berjalan melewati gerbang bersama bawahannya dan berkata.


“Demi Tuan Hagen!”


“””DEMI TUAN HAGEN!”””


Seketika, luapan mana mengelilingi tubuh mereka dan mereka melesat menyerang monster itu dari segala arah. Sebagian menghujaninya dengan senjata tajam, sebagian dengan bola api dan aneka sihir. Meski serangan ini tidak cukup untuk melenyapkan sang raksasa jika digunakan sendiri-sendiri, daya hancur yang tercipta saat digunakan bersama cukup untuk membuat sang serigala mengaum kesakitan dan penjaga lain tercengang.


Serigala itu berhenti menyerang kediaman Hagen dan memandang orang-orang yang berani menyakitinya. Ia mengerang dan nampak siap menyerang, tapi tidak seperti yang semua orang kira, serigala itu hanya menghempaskan para penjaga dengan ekornya dan segera lari ke dalam hutan.


Tak mengerti dengan maksud tindakan ini, sang atasan mengernyitkan dahi dan bermaksud menyuruh bawahannya untuk kembali ke dalam gerbang.


“AUUUUUUUU!”


Tapi mereka mendengar serigala tadi mengaum--


“””Auuuuuuuu!”””


--Dan disusul oleh auman serigala lain di kejauhan.


Seketika, semua orang mengerti alasan kenapa serigala itu lari. Seakan membayangkan dua atau tiga serigala raksasa akan datang menyerang tempat ini, wajah para penjaga memucat dan sang atasan segera berujar.


“Cepat! Jangan biarkan ia memanggil kawannya! Hentikan monster itu!”


Seketika, mereka pun bangkit dan bergegas untuk memburu sang serigala ke dalam hutan. Aku juga memandang ke tengah hutan dan bergumam.


“Berapa banyak serigala yang ia panggil?”


Terbayang akan sosok Rose yang terengah dengan tubuh gemetar, aku menggenggam setir hingga membekas di tangan. Cinzia memandangku seakan menyuruhku untuk bergegas, tapi tanpa disuruh pun aku mengerti bahwa ini adalah kesempatan emas yang kami nanti. Tidak lama, kamipun sampai di gerbang yang kini hanya dilindungi oleh beberapa penjaga yang kurang berpengalaman.


“T-Tunggu! S-Siapa kau?”


“Huh? Kau tidak kenal siapa aku? Apa kau tidak lihat simbol ini?”


“A-Aku lihat, tapi--”


“Hey hey, yang benar saja. Baru kali ini aku dihentikan seperti ini. Apa kau baru? Hah?! Apa kau tidak tau Tuan Hagen paling benci menunggu?”


“Aku tau. Aku tau, tapi, aku cuma mengikuti prosedur dan--”


“Hah?! Kau membuat Tuan Hagen menunggu hanya karena prosedur?! Apa kau lupa bagaimana Tuan Hagen ‘menghukum’ bawahannya?! Kau ingin jadi seperti mereka? Hah?!”


Seakan mengingat sosok beberapa rekannya yang kini tinggal nama, wajah penjaga itu memucat dan ia segera lari menyuruh rekannya untuk membuka gerbang dari dalam. Gerbang itu pun terbuka dan penjaga tadi kembali seraya melirikku dan menggaruk wajah.


“U-Um, soal tadi...”


“Hehe, tenang. Aku suka orang yang cerdas. Aku tidak akan melaporkanmu ke Tuan Hagen apapun yang terjadi, benar kan, Cinzia?”


Sang penjaga merasa heran karena aku berbicara seraya memandang sesuatu di belakangnya.


“Jangan sok akrab denganku.”


Tapi mendengar sebuah jawaban yang datang, penjaga tadi terbelalak dan segera berbalik ke belakang. Ia merogoh pedang dan bersiap menerjang, tapi sebelum ia mampu melakukannya.


“…a….”


Sebuah pisau menebas lehernya. Membuatnya terkapar di tanah tanpa mampu mengutarakan sepatah kata. Cinzia mengelap noda darah di pisau itu dan membuang tubuh sang penjaga ke dalam semak-semak.


“Kau membunuhnya?”


“Tentu saja tidak.”


“Begitukah? Tapi bukankah tindakanmu terlalu kejam?”


“Aku tidak ingin dengar itu darimu.”


Cinzia mengacuhkanku dan kembali duduk di bangku penumpang. Aku hanya tersenyum masam dan memacu truk kami melewati gerbang. Kelihatannya, penyusupan ini akan berjalan lebih mudah dari dugaan.