MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 14. Escape(Final)



Matahari mengintip manja dari celah dedaunan, seakan merasa malu melihat sepasang manusia yang berjalan menyusuri hutan. Hembusan angin datang menghampiri, menerpa wajah kami yang basah berkeringat. Burung-burung berkicau seakan menyambut kedatangan kami, rerumputan menggelitik usil seakan ridha dengan apa yang terjadi. Aku memandang langit biru yang terbentang sejauh mata memandang. Untuk pertama kalinya sejak lahir ke dunia, aku menyambut datangnya pagi dengan cerah ceria.


Sebaliknya, gadis yang kugendong ini hanya membenamkan wajahnya ke punggungku. Entah karena merasa malu setelah mengingat semua yang terjadi atau meratapi tubuhnya yang demikian lemas hingga tak mampu berdiri berkat pergulatan kami. Tapi melihat wajahnya yang memerah hingga telinga, aku memutuskan untuk tidak bertanya dan hanya tersenyum melanjutkan perjalanan.


Jika orang lain melihat penampilan kami saat ini, mereka pasti akan tersenyum penuh arti seakan mengetahui apa yang terjadi. Tentu saja, sebagian besar dari mereka akan tercengang saat tau bahwa prediksi mereka tidak seekstrim apa yang baru kami alami.


“Jahat...”


Seakan membenarkan prediksiku, Zion bergumam untuk kali pertama.


“Aku tau aku mabuk, tapi apa kamu harus berbuat sekasar itu?”


Zion memandangku dengan mata yang basah.


“Kamu tuh kuat. Kayak binatang buas. Aku sampe ga sanggup ngelawan coba...”


Mengingat obat yang ternyata mengandung begitu banyak alkohol dan sosok Zion yang membangkitkan nafsu birahi, aku tersenyum masam dan berkata.


“Semalam aku tidak bisa menahan diri.”


“Gara-gara kamu nih, aku sampe ga bisa berdiri.”


“Iya maaf, ini aku gendong sesuai janji.”


“… Hmph.”


“Tapi Zion, kamu bener tak apa? Semalam kamu sempat pingsan gara-gara aku kan?”


Ia memicingkan mata seolah tak ingin membahas hal itu, tapi aku benar-benar khawatir dan kembali bertanya selembut yang kubisa.


“Apa masih sakit?”


Zion menundukkan wajah dan bergumam.


“… Udah ngga.”


“Bener? Tapi aku inget kamu menjerit keras sekali semalam.”


“Atuh! Siapa juga yang bisa tahan kalo kamu gituin? Lagian, awalnya emang sakit sih, tapi aku ngejerit bukan karena itu.”


“Terus?”


“Karena rasanya … n.”


“Huh?”


Zion membenamkan wajahnya ke punggungku seakan ingin menyembunyikan ekspresinya dariku.


“Rasanya bener-bener ... menakjubkan.”


Ia bergumam pelan sekali sampai-sampai aku hampir tidak bisa mendengarnya. Tapi setelah mendengar jawaban yang sama sekali tidak kusangka, bahkan aku pun merasa malu dan segera membuang wajah darinya.


Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu...


Apa dia seorang masokis? Merasa bahwa gadis manis ini tidak sepolos kelihatannya, aku khawatir dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi seakan menyadari betapa memalukannya perkataan tadi, Zion mengangkat wajah dan segera menjelaskan.


“B-Bukannya aku suka ya. Aku ga suka. Dan jangan salah paham atau mikir yang ngga-ngga!”


“T-Tentu! Aku sama sekali tak memikirkan bahwa kau gadis yang orientasi seksualnya keliru!”


“Kamu mikirin! Dan lagi, kamu yang bikin aku begini!”


“Huh? Aku cuma sedikit menggunakan terlalu banyak tenaga kok.”


“Sedikit sih sedikit. Tapi sedikitnya kamu itu cukup buat bikin perut dan kepalaku kerasa penuh. Uuu… Bahkan sekarang pun aku masih bisa ngerasain sisa-sisa tenagamu yang sedikit itu berenang di tubuhku.”


“Lagian, siapa juga yang bakal nyerang perempuan yang masih dalem masa penyembuhan? Apalagi pas dia baru siuman.”


“...”


“Kalo nyerangnya… pake itu... sih, mungkin aku bisa maklumin. Tapi kamu kan ngga. Dan malah nyengat aku pake listrik tegangan tinggi.”


“...”


“Emang sih aku bisa sadar dan ga mabuk lagi. Tapi listrik anehmu itu masih ketinggal di perutku, dan anehnya dia usil kayak kamu. Sesekali masih gelitikkin aku dengan berenang ke sana sini.”


“...”


“Pokoknya jangan bahas ini lagi. Aku ngambek sama kamu. Hmph!”


Zion membuang wajah dan menggembungkan pipinya. Aku tercengang dan segera meminta maaf padanya. Karena meski aku hanya ingin melindungi diri dan kehormatannya, hal yang telah kulakukan memang sudah kelewatan. Untungnya Zion mau memaafkanku meski ia harus kubujuk dulu dengan membelikannya manisan dan kue-kue di ibukota.


Saat aku berjanji akan membelikan apapun yang ia mau, Zion terbelalak dan memandangku dengan mata berbinar. Ia mulai bicara ini itu dan menambah daftar request yang terus memanjang. Melihatnya bertingkah seperti gadis remaja seusianya, hatiku terasa hangat dan aku bertekad untuk membelikan lebih dari apa yang ia minta.


Sebagai salah satu dari 10 assassin terbaik, aku punya nilai yang cukup tinggi di mata para petinggi. Karena itu mereka selalu memberikan senjata dan peralatan apapun yang kuminta. Jika ditambah dengan barang-barang yang diberikan oleh Basen, aku punya uang yang cukup untuk menyewa 2 atau 3 apartemen untuk beberapa tahun di ibukota.


Saat aku tak sabar menanti hal-hal yang akan kami lakukan di ibukota, Zion yang sejak tadi bicara tanpa henti tiba-tiba diam dan menatap ke bawah.


“Zion? Ada apa?”


“Eh? Ngga kok. Aku cuma… Jujur, aku cuma ga pernah kebayang kalo kita bisa hidup setelah hari ini… Terutama aku. Aku bener-bener yakin kalo pas tes kelulusan aku bakal pergi dari dunia ini... Apa aku bener boleh hidup lebih lama dari ini? Apa aku yang ga berguna ini berhak hidup lebih lama lagi?”


Tubuhnya bergetar di punggungku.


“Zion, denger. Setiap orang punya kekurangan kelebihan. Kamu mungkin ngga bisa bunuh-membunuh, tapi ada satu hal yang bikin kamu istimewa.”


“Eh?”


Tanpa bicara sepatah kata, aku menunjuk ke depanku. Zion mengikuti pandanganku dan terbelalak mendapati rumah pohon yang kami buat saat kecil. Seakan menyadari kedatangan sang gadis, semua pasang mata yang ada di tempat ini segera tertuju padanya.


“Ah! Ada teteh Zion!!”


“Apa? Zion selamet?!”


“Zion kembali! Oy! Berhenti dorong-dorong!”


Seakan jeritan pertama adalah tanda, semua orang yang ada di tempat ini segera mengerumuni kami. Mulai dari anak-anak yang terkurung bersama kami hingga para assassin yang Zion lindungi. Tentu saja mereka juga berterimakasih padaku. Tapi siapapun yang melihat sosok Zion yang muntah darah demi melindungi mereka, atau luka tusuk di tangan karena rasa sayangnya kepada mereka yang lemah tak berdaya, pasti akan mengerti betapa tergerak hati mereka olehnya.


Mereka tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih dan merasa khawatir melihat Zion yang tak mampu berjalan saat kuturunkan ke tanah. Zion hanya memandang semua ini seakan tidak mengerti apa yang terjadi. Aku tersenyum kecil dan berkata.


“Di sebuah institusi di mana kebaikan hati dipandang sebagai sesuatu yang hina dan keji, kau mengingatkan kembali kepada kami apa arti sesungguhnya kebaikan ini, betapa hangatnya perasaan ini, dan betapa mulianya hatimu yang tetap memperlakukan kami dengan baik sekalipun telah dijahati.”


Beberapa orang yang pernah menertawakan Zion saat gagal dalam misi membungkukkan tubuhnya 90 derajat seakan membenarkan hal ini.


“Kamu mungkin ga berguna di mata para instruktur, tapi itu bukan berarti kamu ga berguna di mata kami.”


Aku memandang lurus matanya yang berkaca-kaca.


“Kamu adalah cahaya yang menerangi jalan kami. Kamu satu-satunya cahaya di tempat gelap ini. Karena itu kamu istimewa. Karena itu kamu begitu spesial. Karena itu, tolong jangan bilang kamu ga berguna lagi.”


Zion menggigit bibir seakan berusaha menahan sesuatu agar tidak jatuh membasahi pipinya.


“Un...”


Ia mengangguk dengan suara tertahan. Terhadap gadis yang hanya bisa menundukkan kepalanya ini, aku tersenyum lembut dan berkata.


“Mulai hari ini, kamu, aku, dan semua orang ini, bebas untuk hidup sesuka kita. Ngga ada lagi jeruji besi, ngga ada lagi hukum cambuk… Lihat? Kita bebas, Zion. Kita bebas.”


Seakan semua kekhawatiran yang ia pendam sejak lama telah hilang seketika, Zion menangis dan menumpahkan isi hatinya pada kami. Membuat semua orang yang mendengarkan keluh-kesah sang gadis ikut tersedu bersamanya. Aku hanya tersenyum masam melihat pemandangan ini dan mendekap Zion ke dalam pelukanku.