MagiBlood: Trapped in Another World

MagiBlood: Trapped in Another World
Chapter 28. Freedom(14)



------


Daemon POV


------


Pria yang hampir kehilangan jiwanya ini masih menganggapku sebagai penyelamat putrinya. Maksudku, aku memang menyelamatkannya, tapi aku jugalah yang sejak awal meracuni gadis itu. Tapi siapa sangka pria ini bukan hanya tidak menyadari hal itu, ia juga memandangku layaknya malaikat yang turun dari surga.


Tidakkah ia terlihat lucu? Seperti anjing yang mengibaskan ekornya, ia terlihat begitu menggemaskan sampai-sampai aku hampir tak kuasa menahan diri untuk menertawakannya.


[Hehe. Kau benar-benar manusia yang busuk.]


Teman seperjuanganku nampak terhibur melihat sikapku.


(Saya senang Anda menyukainya, Yang Mulia Tuan Hades.)


Hades terkekeh mendengar kata hatiku.


[Berhenti memanggilku begitu, kita tidak sedang di dunia bawah sekarang.]


Dia adalah sosok yang menguasai dunia bawah. Tempat roh semua makhluk yang telah mati dikumpulkan dan diadili perkaranya. Hades datang ke dunia ini karena suatu alasan. Tapi karena hukum sebab-akibat yang membatasi dunia, sosoknya saat ini hanya terlihat seperti toh halus yang hanya bisa dilihat olehku.


(Bukankah raja tetaplah raja dimanapun ia berada?)


[Aku hanyalah pria tua yang dimakan usia. Jika tidak, mana mungkin para demon itu bisa lepas dari cengkramanku.]


Hades menggeleng menertawakan dirinya. Baik itu manusia atau demon, elf ataupun binatang melata, selama mereka punya jiwa, semua yang mati akan dikirim ke dunia bawah tempat Hades berada.


[Tapi siapa sangka ras keparat itu bisa mengelabui kematian.]


Demon yang menghinggapi tubuh Hagen adalah salah satunya. Raja yang menguasai ketamakan, Mammon. Dia adalah ikan teri yang dibunuh Tuan Satan di Demon Realm. Setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi. Nyatanya, Mammon berhasil melarikan jiwanya ke dunia manusia bersama para demon yang telah binasa.


Bagaimana ia melakukannya?


Ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi kecuali seseorang yang bisa memutar-balikkan hukum sebab-akibat alam semesta berada di pihak mereka. Apa seseorang dari Kerajaan Langit membantu mereka? Aku mengusap dagu memikirkan perkataan Hades.


(Kau bilang mereka dipimpin seseorang?)


[Baal. Mereka dimimpin Raja Iblis Baal.]


(Ah, benar. Keparat yang memberontak Tuan Satan.)


Mengingat keparat yang menyebut dirinya sebagai raja dan hendak menurunkan Tuan Satan dari tahta, aku mendecak lidah dan membuang wajah. Bukan hanya telah melukai Tuan Satan, ia juga berhasil melarikan diri dan bersembunyi dari kami. Si keparat Baal adalah satu-satunya pemberontak yang masih hidup hingga detik ini.


(Tuan Hades, apa Anda juga akan menarik Baal?)


[Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak punya urusan dengan mereka yang masih bernafas.]


(Syukurlah. Karena biar bagaimana--)


Aku menyeringai dan berkata.


(--Akulah yang akan membunuhnya.)


Hades terkekeh mendengar ucapanku.


[Akan kutunggu hari itu.]


Tanpa tau apa yang kami bicarakan, pria di depanku mengangkat wajah dan berkata.


“Tuan Daemon?”


Ekspresinya terlihat lirih menahan sakit. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Aku berbisik ke telinganya, berusaha menyembunyikan senyumku yang kian melebar.


“Hagen, tidakkah kau ingin membalas orang-orang yang mempermalukanmu?”


Kepada pria yang hampir kehilangan kewarasannya itu--


“Orang-orang yang merenggut segalanya darimu?”


--Aku mendorongnya ke jurang kehancuran.


Hagen tersentak. Seakan tak menduga bahwa aku, orang baik yang menyelamatkan putrinya, akan mengatakan hal itu. Tapi mungkin karena amarah dan kebencian yang ia rasa, atau Mammon yang merasuki jiwanya, Hagen nampak saaangat tertarik dengan gagasan itu.


Aku terkekeh dan mengusap wajahnya dengan tangan yang sama dengan yang kugunakan untuk membunuh seorang anak di dalam hutan. Jika saja anak itu tetap pingsan seperti orang-orang di sekitarnya, dan tidak memberanikan diri untuk menembakkan kembang api ke langit, pastilah aku tidak harus mengotori tangan suciku ini.


“Apa kau menginginkan kekuatan?”


Mendengar kata-kata manis yang kuucap, pria itu menyeringai lebih bengis dari iblis.


------


Ariel POV


------


Sebuah auman menggetarkan langit dan bumi. Aku berhenti dan mendapati Hagen tengah mengelupas kulitnya. Kulit yang semula putih itu kini berganti menjadi hitam mengkilap. Asap terbentuk dari sekujur tubuhnya seakan-akan sesuatu di dalam dirinya, jiwanya, tengah terbakar. Matanya menghitam dan irisnya berubah kuning keemasan layaknya Raja Iblis Mammon. Tapi yang paling mencolok dari semua itu, adalah tanduk yang tumbuh di tengah dahinya.


Demonic Posession.


Bukti bahwa seorang demon telah merasuki tubuh manusia sepenuhnya. Melihat perubahan yang terjadi pada diri Hagen, dan teringat sosok orang-orang yang pingsan sepanjang jalan, aku sampai kepada satu kesimpulan.


“Daemon.”


Apa dia masih ada di dekat sini? Aku melihat sekitar untuk memastikan. Tapi karena aku tidak menemukan sosoknya, aku menyeringai dan melangkah ke depan. Nampaknya, aku tidak perlu menyembunyikan kekuatanku malam ini.


[Kau takut dengan Satan?]


Aku mendengus mendengar pertanyaan Baal.


(Tentu saja tidak. Apa kau gila? Kenapa aku harus takut kepadamu atau Satan yang sama-sama sekarat sejak perang Demonic Realm?)


[Lantas kenapa kau tidak pergi menemui pria itu? Bukankah kau ingin aku mati? Kau tidak perlu repot-repot membunuhku jika menyerahkanku padanya.]


Seakan tak menduga jawaban itu, Baal terdiam untuk beberapa waktu. Lalu terkekeh seakan terhibur mendengar kata hatiku.


[Apa ini yang disebut tsundere?]


Tentu saja aku tidak menghiraukannya dan memutus koneksi kami sepenuhnya. Akan repot jika Mammon, Raja Iblis yang baru hidup kembali setelah mendapatkan cangkang untuk jiwanya yang telah mati, merenggut Baal jika tau keparat itu ada padaku.


Tanpa tau apa yang tengah kupikirkan, Mammon tertawa layaknya orang gila.


“Akhirnya! Akhirnya!! Setelah bertahun-tahun terjebak di sini, tubuh ini pun menjadi milikku! Ahahahaha!”


Tapi mungkin karena mendengar suara langkahku, ia berhenti tertawa dan menoleh ke arahku. Segera setelah mendapati sosokku, Mammon menyeringai layaknya binatang buas yang telah menemukan mangsa.


Apa kebencian Hagen mempengaruhi hal itu? Aku mengeluarkan gunblade dan mengalirkan manaku.


“Aku mengingatmu. Kaulah orang yang membantuku mengambil alih tubuh ini. Hehehe, sebagai tanda terimakasih, akan kuberikan satu permintaan untukmu. Katakan, apa yang kau inginkan?”


“Berhenti omong kosong..”


Mammon tersentak memandangku.


“Kau, iblis yang menguasai ketamakan, akan memberiku satu permintaan?”


Aku mengambil kuda-kuda dan bersiap menebasnya.


“Kau bicara seolah akan mengabulkannya.”


Mammon terkekeh dan berkata.


“Oh tidak tidak, tentu saja tidak. Aku hanya suka melihat ketamakan orang lain, kau mengerti? Tapi karena sepertinya kau tidak memiliki hal itu,”


Mammon berhenti tersenyum dan menghunuskan tangannya ke angkasa.


“Kau tidak ada gunanya untukku.”


Seketika, ia meledakkan mananya ke segala penjuru. Semua yang menyentuh mananya terdekomposisi dan terhisap ke dalam tubuhnya. Baik itu rerumputan, angin, pepohonan, maupun binatang melata yang ada di sekitar. Semua yang tidak terlindungi mana akan diserap dan menjadi miliknya. Tentu saja ia juga berusaha menyerapku, tapi aku punya terlalu banyak mana untuk mencegah hal itu.


“Ahahaha! Ini dia! Inilah kekuatanku yang sesungguhnya! Segera setelah menghisap dunia ini dan memulihkan kekuatanku, aku akan--”


“Apa kau pikir aku akan berbaik hati dan menunggu?”


“…!”


Aku melesat menebas tangan yang ia hunuskan ke langit malam. Mammon terbelalak memandang tangan yang terputus dari tubuhnya. Tentu saja, aku tidak berhenti di situ dan terus menebas tubuhnya tanpa menaruh belas kasih.


“T-Tunggu! Tunggu dulu! Ack!”


Setelah kedua tangannya terputus, aku menebas kedua kakinya. Lalu memutus kepala Mammon dari tubuhnya. Tentu saja, ia belum mati dan justru memandangku dengan kebencian dan dengki.


“Keparat! Apa kau tidak diajari untuk menunggu orang lain selesai bicara?!”


“Apa peduliku? Kau jelas-jelas bicara hanya untuk mengulur waktu.”


“Ack!”


Meski ia tidak bisa mati hanya karena ini, ia masih merasakan sakit saat jiwa-raganya tercabik. Menyadari bahwa aku tidak akan berhenti menyerang, Mammon menggemeretakkan gigi dan berkata.


“Keparat! Bahkan tanpa memulihkan seluruh kekuatanku sekalipun, aku masih bisa membunuhmu!”


Mammon memerintahkan angin yang telah ia miliki untuk menebas leherku. Aku hanya menghela nafas takjub dan--


“Inkarnasi.”


--Membiarkan pisau angin itu memutus ‘leherku’.


“AHAHAHA! Rasakan! Inilah balasan untuk orang-orang yang berani menentangku!”


Mammon tertawa dan menyatukan kembali tubuhnya. Tapi segera setelah ia berhasil melakukan itu--


“Apa?!”


--Aku mencengkram kepalanya dengan ‘tanganku’. Mammon memandangku dengan ekspresi membeku.


“Kau... Kau! Kenapa kau masih hidup?! Bukankah aku telah membunuhmu?!”


“Apa kau pikir aku akan mati hanya karena dibunuh?”


Aku menciptakan kembali ‘kepala’ yang seharusnya telah terlepas dari tubuhku. Inkarnasi mengubah seluruh organ dan struktur tubuhku menjadi kegelapan. Bagaimana mungkin ia bisa membunuh kegelapan hanya dengan pisau angin?


Lagipula, meski sosokku saat ini sengaja kubentuk manusia, bukankah seluruh tubuhku terlihat hitam akibat kegelapan yang menggeliat? Aku memiringkan ‘kepala’ tak mengerti kenapa ia begitu terkejut. Tapi mengingat bahwa semua yang Mammon lihat akan berwarna kuning keemasan, aku mengerti apa yang terjadi. Tentu saja dia tidak akan menyadari perubahan tubuhku.


Merasa kasihan dengan iblis yang satu ini, aku memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya secepat yang kubisa.


“Ayo akhiri ini, Mammon.”


“Tunggu…! Apa yang ingin kau lakukan?”


Sama seperti air yang punya tiga bentuk dasar, yakni air, uap, dan es, kegelapan juga punya tiga bentuk mendasar:


Shadow Magic, kemampuan untuk memanipulasi bayangan sekaligus keahlian Leonhart.


Black Magic, kemampuan untuk menggunakan ilusi dan kutukan untuk mengkorupsi semesta alam, sesuatu yang sangat Baal sukai.


Tapi yang paling kusenangi adalah bentuk ketiga.


“Void Magic:”


Kemampuan untuk memanipulasi gravitasi dan antimatter yang mampu menyerap dan meniadakan segala sesuatu dari alam semesta. Black hole, misalnya. Tentu saja, aku tidak punya kekuatan untuk membuat lubang hitam. Tapi aku tidak perlu berbuat sejauh itu. Karena saat ini, yang kubutuhkan hanyalah sihir yang sama dengan yang kugunakan untuk menyerap kekuatan Baal, Basen, dan Lily.


“Absorpsi.”


Seketika, kegelapan meluap ke angkasa seakan ingin menelan bulan dan bintang bersama iblis yang terus menjerit di tanganku.